<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Live just for fun</title>
	<atom:link href="http://ceritaseru17.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritaseru17.wordpress.com</link>
	<description>Kumpulan dari semua cerita seru, ceria sex, cerita birah &#38; film 3gp</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Nov 2008 05:36:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ceritaseru17.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Live just for fun</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ceritaseru17.wordpress.com/osd.xml" title="Live just for fun" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ceritaseru17.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Andani Citra: Lukisan Bugil Diriku &#8211; 1</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/20/andani-citra-lukisan-bugil-diriku-1/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/20/andani-citra-lukisan-bugil-diriku-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 05:36:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[daun muda]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah pengalamanku tahun 2002 lalu yang ingin kubagikan pada para pembaca. Aku mempunyai seorang teman kuliah cowok bernama Felix. Sedikit gambaran tentang dirinya, tidak terlalu tinggi, hampir sepantaranku, berkacamata dan pipinya agak tembem dengan kulit sawo matang. Wajah sih tidak termasuk ganteng, malah cenderung culun apalagi dengan kacamata bingkai tebalnya itu. Sifatnya juga tertutup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=36&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="storycontent" style="text-align:justify;">
<p>Ini adalah pengalamanku tahun 2002 lalu yang ingin kubagikan pada para pembaca. Aku mempunyai seorang teman kuliah cowok bernama Felix. Sedikit gambaran tentang dirinya, tidak terlalu tinggi, hampir sepantaranku, berkacamata dan pipinya agak tembem dengan kulit sawo matang. Wajah sih tidak termasuk ganteng, malah cenderung culun apalagi dengan kacamata bingkai tebalnya itu. Sifatnya juga tertutup dan kuper, tidak biasa gaul dengan cewek, kalau bertemu di perpustakaan, kantin atau di areal kampus lainnya pasti sendirian atau minimal bersama 1-2 temannya yang cowok. Dia berasal dari Padang dan nge-kost di sekitar kampus ini. Karakternya yang unik ini membuatku ingin mengerjainya, aku ingin tahu apa orang seintrovert itu akan luluh oleh godaan wanita penuh gairah sepertiku.</p>
<p>Dalam prestasi dia memang biasa-biasa saja, IPK-ku saja lebih tinggi darinya (bukannya sombong loh). Namun dia mempunyai sebuah bakat yang menonjol yaitu menggambar, terutama menggambar manusia dan gambar-gambar versi anime Jepang, wajah dan proporsi tubuhnya pas sekali, aku tahu hal ini karena seringkali kalau kuliahnya boring dia sembunyi-sembunyi menggores-goreskan pensil pada kertasnya, di organizernya juga terselip beberapa hasil karyanya. Pernah suatu kali saking asyiknya menggambar dia tidak sadar kalau si dosen sedang berjalan di dekatnya, dan mengambil kertasnya dan mengamat-amati gambarnya lalu berkata.</p>
<p>“Wah.. Wah anda ini lagi jatuh cinta sama siapa ya, sampai dibawa-bawa ke gambar begini, siapa nih di sini yang rambut panjang dengan kucir ke belakang,” sambil memperhatikan semua mahasiswi di kelas ini.<span id="more-36"></span></p>
<p>Kontan satu kelas termasuk aku tertawa-tawa dan saling menunjuk siapa yang di dalam gambar itu, wajahnya jadi memerah karenanya. Kalau saja dosennya killer pasti dia sudah dikotbahi macam-macam atau bisa juga disuruh keluar, untung Bu Yani (si dosen itu) tidak segarang itu, beliau cuma menyindir dan menegurnya namun beliau juga memuji gambarnya itu bagus.</p>
<p>Suatu hari pada mata kuliah American Culture and Institution yang dosennya ‘obat tidur’ aku duduk di belakang dan kebetulan dia juga di sebelahku sehingga bisa ngobrol dengannya dengan suara pelan.</p>
<p>“Biasanya lu nge-gambar, dapat ide dari mana aja Lix?” tanyaku sambil melihat-lihat gambar-gambar di organizernya.<br />
“Kebanyakan sih dari film atau foto-foto Ci, kalo lagi iseng ya gambar, enjoy gitu!”<br />
“Eh.. Yang ini bagus nih, mirip aslinya, Vivian Hsu kan?”<br />
“Iya hehehe, modelnya langsung dari orang aslinya tuh” katanya sambil nyengir.<br />
“Ciee.. Mimpi kali yee!” balasku menyikutnya pelan.<br />
“Emang lu pernah pakai model asli untuk gambar-gambar lu Lix?” tanyaku lagi.<br />
“Emm.. Pernah sih dulu saudara gua, tapi kebanyakan sih gua ambil dari foto ya, abis susah kan cari model”<br />
“Kalau menggambar sampai selesai gini habis waktu berapa lama kira-kira?”<br />
“Itu tergantung mood juga sih, tapi rata-rata sih setengah jam lah”<br />
“Gini Lix, kalau gua jadi model lu boleh nggak? Pengen sih sekali-sekali dilukis gitu, gimana?” tawarku.<br />
“Wah, bener nih Ci? Thanks banget kalau lu mau, kapan nih ada waktu?”<br />
“Gua sih abis ini nggak ada apa-apa lagi, lu sendiri gimana?”<br />
“Oo.. Bagus kalau gitu di kost gua aja gimana?” jawabnya antusias dengan tawaranku.</p>
<p>Singkat cerita, setelah selesai perkuliahan yaitu jam sebelas, aku mengikutinya ke kostnya, dari kampus kami jalan kaki sekitar sepuluh menit. Tidak banyak orang di sana, mungkin karena pada jam-jam seperti ini masih banyak yang kuliah, hanya nampak seorang anak muda sebagai pembantu, seorang ibu setengah baya yang juga pembantu dan dua orang penghuni kost lainnya yang semua pria. Kamar Felix bisa dibilang cukup rapi dibanding kamar pria pada umumnya, di dalam sebuah rak tersusun beberapa model robot rakitan dan patung-patung kecil tokoh anime, begitu juga di dindingnya tertempel poster-poster anime dan game.</p>
<p>“Typikal tukang gambar banget nih anak, kacamata dan anime maniac gini” kataku dalam hati sambil mengamati koleksi-koleksinya sementara dia sedang ke toilet.<br />
“Ok, Ci bisa kita mulai nggak? Lu mau dilukis gimana?” tanya Felix yang baru keluar dari toilet.<br />
“Oohh.. Iya tapi omong-omong lu bakal tegang nggak kalo ngegambar pakai model nanti takutnya hasilnya jelek”<br />
“Tegang? Nggak lah.. Emang kenapa harus tegang”<br />
“Soalnya gua mau dilukis agak beda gitu loh”<br />
“Bedanya gimana Ci? Kan lu cuma tinggal diam bergaya aja ya” tanyanya bingung.<br />
“Itu loh Lix, lu pernah nonton Titanic nggak? Gua maunya digambar seperti itu tuh, gimana?” jawabku dengan polosnya.</p>
<p>Tentu saja dia langsung tercengang dengan permintaanku itu dan wajahnya memerah.</p>
<p>“Hah.. Yang bener lu Ci, maksud lu bugil gitu?”<br />
“Hh-emm.. Wearing only this itu loh, gua yakin lu bisa kok” aku lalu melepaskan satu-satu kancing kemejaku dan memperlihatkan bra-ku.<br />
“Ci.. Lu serius nih, berani kaya gini?” seakan tidak percaya apa yang dilihat di hadapannya.</p>
<p>Aku tertawa tertahan melihat reaksi amatirannya itu sambil terus melucuti satu demi satu pakaianku. Matanya seperti mau copot memandangku yang sudah telanjang di depannya, dari reaksinya aku yakin dia baru kali ini melihat perempuan bugil secara langsung.</p>
<p>“Nah.. Gimana Lix? Jangan tegang gitu dong, minum dulu aja deh”</p>
<p>Dia menerima gelas yang kusodorkan dan meminumnya lalu menarik nafas panjang.</p>
<p>“Ok dah tenang kan, buktiin dong kalo lu profesional artist, masa ngeliat tubuh cewek aja nervous gitu hehehe” aku menenangkannya sambil tertawa kecil.<br />
“Ya tegang dong Ci, gua kan nggak pernah gambar bugil sebelumnya” jawabnya terbata-bata, namun dia sudah lebih rileks dari yang tadi. Kulihat matanya tidak pernah lepas memandangi tubuhku.<br />
“Makanya lu harus cari pengalaman baru, supaya pandangan lu tambah luas”<br />
“Gimana bisa kita mulai kan menggambarnya,” kataku sambil membaringkan tubuh di ranjangnya.<br />
“Bentar Ci,” sahutnya lalu mengunci pintu terlebih dulu, “Kalo ada yang masuk kan berabe”<br />
“Posisi gini gimana? Bagus nggak?” aku berbaring menyamping dengan menopang kepalaku dengan tangan kanan ditekuk.<br />
“Kurang Ci, biasa aja, mending lu tumpuk itu bantal buat sandaran tangan terus duduk bersimpuh, kayanya lebih bagus” pintanya setelah mengamati sejenak.<br />
“Gini?” tanyaku mengikuti arahannya.<br />
“Ya, lebih tegak dikit Ci, ya gitu ok” aturnya.</p>
<p>Dia duduk di kursi seberang ranjang sana memegang clipboard. Sebelum mulai dia minum dulu untuk menenangkan diri. Lewat lima menit, dia geleng-geleng kepala melihat kertasnya, lalu ditariknya kertas itu dan diremas-remas.</p>
<p>“Kenapa Lix? Gagal?” tanyaku.<br />
“Sory Ci, belum biasa sih jadi nggak bagus tadi, sekali lagi yah, sory ngerepotin”<br />
“Ya udah, santai aja, lama-lama juga biasa kok”</p>
<p>Kali ini sepertinya dia sudah lebih enjoy melakukan aktivitasnya, tangannya bergerak dengan cepat diatas kertas, mengganti-ganti pensil, mengambil kapas dan penghapus, ibarat Leonardo yang melukis bugil Kate Winslet di film Titanic itu.</p>
<p>Ternyata jadi model lukisan gini capek juga loh, harus diam terus dan menjaga ekspresi wajah selama beberapa saat lamanya, semenit jadi seperti satu jam rasanya.</p>
<p>“Wuiihh.. Finally!” sahutnya dengan bernafas panjang setelah empat puluh menitan bekerja keras.<br />
“Udah Lix? Coba gua liat dong hasilnya sini” pintaku tak sabar ingin melihat hasilnya.</p>
<p>Dia berjalan ke sini dan duduk di tepi ranjang memperlihatkan karyanya kepadaku.</p>
<p>“Puas nggak Ci? Sory yah kalo jelek kan baru kali ini”</p>
<p>Aku mengamat-amati gambar itu sejenak, harus kuakui hasilnya lumayan, walaupun mukaku terlihat lebih lebar di gambar itu, namun secara keseluruhan sudah ok. Aku tahu dia terus memandangi tubuh polosku sejak tadi, tapi kubiarkan saja dia menikmatinya sambil aku melihat gambarnya.</p>
<p>“Hhmm.. nggak nyesel kayanya gua cape-cape duduk telanjang selama ini yah, ya nggak Lix?” kataku sambil menolehkan wajah melihatnya yang sedang memperhatikanku yang tanpa tertutup sehelai benangpun dengan wajah memerah.<br />
“Eh.. Kenapa lo Lix, kok ngeliatin gua sampai kaya gitu, belum pernah lhiat cewek bugil ya sebelumnya?” ujarku dengan tersenyum nakal.<br />
“Liat aja sih sering Ci, tapi kalau yang beneran baru kali ini, pernah juga melihat adik gua baru keluar mandi itu juga nggak sengaja” katanya sambil garuk-garuk kepala.<br />
“Jadi pegang-pegang badan cewek nggak pernah dong?” tanyaku memancingnya.<br />
“Walah apalagi itu Ci, pacar aja belum, mo sama siapa” dengan sedikit terkekeh.<br />
“Terus gimana reaksilu ngeliat gua nggak pake apa-apa di depan lo gini?”<br />
“Wah.. Gimana yah, susah omongnya nih, ya agak shock juga tadi abis baru kali ini” jawabnya gugup.<br />
“Ada pikiran macam-macam gitu nggak waktu ngegambar tadi?” pancingku lagi.<br />
“Emm.. Macam-macam gimana contohnya Ci?” tanyanya pura-pura bego atau memang bego nih, nggak taulah, who care, lucu juga aku dengan tingkahnya ini.<br />
“Ya misalnya gini nih” seraya kuraih tangannya dan kuletakkan pada payudara kiriku.</p>
<p>Terasa sekali tangannya gemetaran memegang dadaku, mulutnya melongo tak sanggup berkata-kata dan mukanya tambah merah saja. Kubimbing tangannya meremas-remas payudara montokku.</p>
<p>“Mmhh.. Gitu remasnya, pakai perasaan.. Putingnya juga”</p>
<p>Dia menuruti apa yang kuajarkan walau masih diam terbengong. Setelah gemetarnya berkurang aku memulai aksi terusannya, kudekatkan bibirku padanya hingga saling berpagutan.</p>
<p>“Mulutnya dibuka Lix, jangan kaku gitu, gua ajarin lu cipokan” bisikku dengan nada manja.</p>
<p>Dengan agresif lidahku menjelajahi mulutnya, menyapu ke segenap penjuru, menjilati lidahnya mengajak ikut bermain sehingga pelan-pelan lidahnya juga mulai aktif mengimbangiku. Tangannya pun tanpa kubimbing lagi sudah menikmati payudaraku dengan lebih semangat, bahkan kini dia lebih berani menjulurkan tangan satunya ke belakangku dan mengelusi punggungku.</p>
<p>Setelah puas berciuman, perlahan aku menarik mulutku, air liur nampak menetes dan berjuntai seperti benang laba-laba ketika mulut kami berpisah pelan-pelan.</p>
<p>“Itu tadi namanya Frech Kiss, Lix, udah bisa belum?”<br />
“Ho-oh, seru banget, lagi dong Ci!” pintanya.<br />
“Eiitt.. Sabar dulu, jangan buru-buru, masih banyak yang lebih seru,” kataku sambil membukakan kaosnya dan melemparnya ke kursi, “Lu berdiri dulu dong, gua bantu buka celananya!”</p>
<p>Dia bangkit dari duduknya dan berdiri di depanku yang duduk di pinggir ranjang. Kulucuti celananya tanpa menghiraukan reaksinya yang malu-malu, terutama ketika akan kubuka celana dalamnya.</p>
<p>“Iihh.. Rese amat sih, minggir sana tangannya, gua bugil di depan lu aja santai, masa lu yang cowok malu-malu kucing gini!” bentakku pelan.<br />
“Iya.. Iya Ci, sori habis baru pernah nunjukin anu gua ke cewek sih” katanya gugup membiarkan celana dalamnya kuturunkan.</p>
<p>Aku melihat penisnya yang sudah tegang lalu kugenggam dengan jari-jari lentikku.</p>
<p>“Wah, belum maksimal nih ngacengnya, liat aja nanti kalau udah ngerasain mulut gua, pasti ketagihan lu, hehehe..!” pikirku mesum.<br />
“Udah gede gini juga masih bilang malu, munafik lo ah!” ujarku sambil mengusapnya.</p>
<p>Kumulai dengan mengecup kepala penisnya dan memakai ujung lidahku untuk menggelikitiknya. Kemudian lidahku turun menjalari permukaan benda itu, sesekali kugesekkan pada wajahku yang halus, kubuat penisnya basah oleh liurku. Bibirku lalu turun lagi ke pangkalnya yang dipenuhi bulu-bulu, buah pelirnya kujilati dan yang lainnya kupijat dalam genggaman tanganku. Beberapa saat kemudian mulutku naik lagi dan mulai memasukkan benda itu ke mulutku. Kuemut perlahan dan terus memijati pelirnya.</p>
<p>“Aa.. Ahh.. Geli Ci.. Uuhh!” desahnya bergetar.</p>
<p>Kulihat ekspresinya meringis dan merem-melek waktu penisnya kumain-mainkan di dalam mulutku. Kujilati memutar kepala kemaluannya sehingga memberinya kehangatan sekaligus sensasi luar biasa. Semakin kuemut benda itu semakin keras dan membengkak. Aku memasukkan mulutku lebih dalam lagi sampai kepala penisnya menyentuh langit-langit tenggorokanku.</p>
<p>Setelah beberapa lama kusepong, benda itu mulai berdenyut-denyut, sepertinya mau keluar. Aku makin gencar memaju-mundurkan kepalaku mengemut benda itu. Felix makin merintih keenakan dibuatnya, tanpa disadarinya pinggulnya juga bergerak maju-mundur di mulutku. Tak lama kemudian muncratlah cairan kental itu di dalam mulutku yang langsung kusedot hingga tuntas. Kulirikan mataku ke atas melihatnya merintih sambil mendongak ke atas, tangannya mengucek-ucek rambutku.</p>
<p>Bersambung…</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=36&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/20/andani-citra-lukisan-bugil-diriku-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kak Dewi Ku Sayang</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/19/kak-dewi-ku-sayang/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/19/kak-dewi-ku-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 14:27:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[daun muda]]></category>
		<category><![CDATA[sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Tedy. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saat ini aku kuliah semester II jurusan TI. Sejak awal kuliah, aku tinggal dirumah kakak ku. “Kak Dewi” begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut 5 tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten dan memperhatikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=33&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Namaku Tedy. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saat ini aku kuliah semester II jurusan TI. Sejak awal kuliah, aku tinggal dirumah kakak ku. “Kak Dewi” begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut 5 tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten dan memperhatikan aku. Apalagi kini kami jauh dari orang tua.<br />
Rumah yang kami tempati, baru satu tahun dibeli kak Dewi. Tidak terlalu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. Kak Dewi saat ini bekerja disalah satu KanCab bank swasta nasional. Meskipun usianya baru 28 tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Berwibawa dan tangguh. Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya.<br />
Dua bulan pertama aku tinggal dirumah kak Dewi, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Dewi saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Dewi.<br />
Namun dari semua kekagumanku pada kak Dewi, satu hal yang aku herankan. Sejauh ini aku tidak melihat kak Dewi memiliki hubungan spesial dengan laki-laki. Kupikir kurang apa kakaku ini ? cantik, sehat, cerdas, berpenghasilan mapan, kurang apa lagi ? Seringkali aku menggodanya, tapi dengan cerdas ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu…!”, aku percaya saja dengan kata-katanya. Yang pasti, aku menghomati dan mengaguminya sekaligus.<br />
Hingga pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan, padahal biasanya kak Dewi asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya. Karena khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu depan, ternyata sudah dikunci. Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku, “kok sesore ini kak Dewi sudah tidur ?”, lalu setengah iseng perlahan aku mencoba mengintip kak Dewi didalam kamar melalui lubang kunci. Agak kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang kecil aku masih dapat melihat kedalam.<span id="more-33"></span><br />
Dadaku berdegup kencang, dan lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang kulihat. Kak Dewi menggeliat-geliat diatas spring bad. Tanpa busana sehelaipun !!!<br />
Ya Ampun ! Ia menggeliat-geliat kesana kemari. Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu. Kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling. Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah apalagi namanya. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sesaat, pikiranku sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Namun kemudian rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Dewi masih menindih batal guling. Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudian dengan posisi agak merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal dan guling, lalu meraih langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Ngapain lagi tuh ?!!, aku tertegun.<br />
Entah kenapa, rasa takut dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan. Ahhh…<br />
Ketika kembali aku mengintip ke dalam kamar, kulihat Kak Dewi mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal itu, hingga posisinya benar-benar seolah menunggangi tumpukan bantal itu. Lalu tubuhnya terutama bagian pinggul bergoyang goyang dan bergerak-gerak lagi, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek membuat aku semakin cepat meremas batang kemaluanku sendiri. Entah berapa lama aku menyaksikan tingkah laku kak Dewi didalam kamar. Nafasku memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan kak Dewi yang semakin cepat. Mungkin ia hendak mencapai orgasme, dan benar saja, beberapa saat kemudian tubuh kak Dewi nampak berguncang beberapa saat, jemari kak Dewi mencengkram seprai.<br />
Aku tak tahan lagi. Bergegas aku menuju kamarku sendiri. Lalu kukunci pintu. Kumatikan lampu, lalu berbaring sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun aku laki-laki normal. Aku merasakan gelombang birahi menyala dan semakin menyala didalam tubuhku. Dan makin lama makin membara. Ah… aku tak tahan lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka seluruh pakaian yang kukenakan, lalu aku berguling-guling diatas spring bad sambil mendekap bantal guling. Aku merintih dan mendesah sendirian. Diantara desahan dan rintihan aku menyebut-nyebut nama kak Dewi. Aku membayangkan tengah berguling-guling sambil mendekap tubuh kak Dewi yang putih mulus. Pikiranku benar-benar tidak waras. Aku membayangkan tubuh kak Dewi aku gumuli dan kuremas remas. Sungguh aku tidak tahan, dengan sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan merintih lalu mengerang perlahan seiring cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal guling. (Besok harus mencuci sarung bantal…masa bodo…!!!!)…………….<br />
Sejak kejadian malam itu, pandanganku terhadap kak Dewi mengalami perubahan. Aku tidak saja memandangnya sebagai kakak, lebih dari itu, aku kini melihat kak Dewi sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik ! wanita cantik dan seksi tentunya. Ah…….! (maafkan aku kak Dewi !)<br />
Terkadang aku merasa berdosa manakala aku mencuri-curi pandang. Kini aku selalu memperhatikan bagian-bagian tubuh kak Dewi. Goblok ! mengapa baru sekarang aku menyadari kalau tubuh kak Dewi sedemikian putih dan moligh. Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu. Ah lehernya apalagi, mhhh rasanya ingin aku dipeluk dan membenamkan wajah dilehernya.<br />
“Hei, kenapa melamun aja ? Ayo makan rotinya !“, kata kak Dewi sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan. Air itu melewati bibir kak Dewi, lalu bergerak ke kerongkonganya…. Ahhh kenapa aku jadi memperhatikan hal-hal detail seperti ini ?<br />
“Siapa yang melamun, orang lagi …. ammmm mmm enak nih, selai apa kak ?”, aku mengalihkan perhatian ketika kedua bola mata kak Dewi menatapku dengan pandangan aneh.<br />
“Nanas ! itu kan selai kesukaanmu. awas abisin yah !”, kak Dewi bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan membelakangiku menuju wastafel untuk mencuci tangan.<br />
“OK, tenang aja !”, mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku tak berkedip menyaksikan pinggul kak Dewi yang dibungkus pakaian dinasnya. Alamak, betisnya sedemikian putih dan mulus…<br />
“Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata kak Dewi. Hari sabtu aku memang gak ada mata kuliah.<br />
“Enggak…!”, kataku sesaat sebelum meneguk air minum.<br />
“Periksa semua kunci rumah ya Ted kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan….!”.<br />
“Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami.<br />
Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan pintu garasi ditutup. Dan ketika aku keteras depan, Honda Jazz warna silver itu berlalu meninggalkan pekarangan.<br />
Setelah memastikan kak Dewi pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarin aku telah memiliki suatu rencana. Aku mau memasang Mini Camera kekamar kak Dewi, biar bisa online ke TV dikamarku, he he !.<br />
Sebulan berlalu, otakku benar-benar telah rusak. Aku selalu menunggu saat-saat dimana kak Dewi bermasturbasi. Dengan bebas aku melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Dewi. Aman ! sejauh ini kak Dewi tak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang mengamati.<br />
Benar rupanya hasil survai sebuah lembaga bahwa 60 % dari wanita lajang melakukan masturbasi. Kalau kuhitung bahkan ka Dewi melakukanya seminggu dua kali. Pasti tidak terlewat ! malam rabu dan malam minggu. Kasihan kak Dewi. Ia mestinya memang sudah berumah tangga. Tapi biarlah, kak Dewi toh sudah dewasa, ia pasti tahu apa yang dilakukannya. Dan yang terpenting aku punya sesuatu untuk kunikmati. Kalau kak Dewi melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Ahh…..<br />
Seringkali ditengah kekacauan pikiranku, ingin rasanya aku bergegas kekamar kak Dewi ketika kak Dewi tengah menggeliat-geliat sendiri. Aku ingin membantunya. Sekaligus membantu diriku sendiri. Gak usah beneran, cukup saling bikin happy aja. Tapi aku gak berani. Apa kata dunia ?<br />
Malam ini. Aku tak sabar lagi menunggu, sudah hampir jam sembilan. Tapi kok gak ada tanda-tandanya. Kak Dewi masih asyik nongkrongi TV diruang tengah. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang.<br />
“Mau kemana Ted ?”,<br />
“Kunci gerbang ah, udah malem !”, kataku sambil menggoyangkan anak kunci .</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan dulu dikunci, temen kak Dewi ada yang mau kesini !”,<br />
“Mau kesini ? siapa kak ?”,<br />
“Santi…yang dulu itu lho !”,<br />
“Ohh…!”, aku mencoba mengingat. Sinta ? ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? Yah…! hangus deh.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku bergegas kembali kedalam. Dan ketika aku menaiki tangga ke lantai atas, HP kak Dewi berdering. Kudengar kak Dewi berbicara, rupanya temennya si Sinta brengsek itu udah mau datang. Huh !<br />
Aku hampir aja ketiduran. Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul 10.30 malam, ya ampun aku memang ketiduran.<br />
Cuci muka di wastafel, lalu aku ambil sisa kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin tapi lumayan daripada gak ada. Lalu seteguk air putih. Lalu sebatang Class Mild. Dan, asap memenuhi ruang kamar. Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk kekamarku. Sepi. Temennya kak Dewi udah pulang kali ?!.<br />
Kunyalakan TV, tapi hampir seluruh chanel menyebalkan, Kuis, Lawakan, Ketoprak, Sinetron Mistery, fffpuih ! kuganti-ganti channel tapi emang semua chanell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?!<br />
Ya ampun ! sungguh pemandangan yang menjijikan. Apa yang akan dilakukan kak Dewi dan temannya itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Aku tidak menyangka kalau kak Dewi ternyata menyukai sesama jenis. Apa kata Mama. Ya ampuuuuun…!<br />
Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat.<br />
Aku ambil gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Aku habiskan air digelas besar sampai tetes terakhir.<br />
Tapi…., aku tekan lagi tombol power TV, Upps… masih On Line ! Aku melihat kak Dewi dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa busana. Meskipun berselimut, bagian pundak mereka yang tak tertutup menunjukan kalau mereka tak berpakaian. Mereka saling menatap dan tersenyum. Tangan kiri kak Sinta mengelus-elus pundak kak Dewi. Sementara kuperhatikan tangan kak Dewi nampaknya mengelus-elus pinggang kak Sinta, tidak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik selimut menunjukan hal itu. Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum. Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku tak mendengarnya karena aku tidak memasang Mini Camera dengan Mic.<br />
Perlahan kepala kak Sinta mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut dan menelusuri punggung kak Dewi. Aku Cemburu ! Mereka berciuman dengan penuh perasaan, perlahan saling mengulum dan melumat. fffpuih ! Ternyata benar-benar ada tugas pria yang dilakukan oleh wanita.<br />
Untuk beberapa saat mereka berciuman dan saling meraba. Aku jadi menahan nafas. Mungkin aku juga ketularan tidak waras, rasanya ada satu gairah yang perlahan bangkit didalam tubuhku. Bahkan, aku mulai mendidih !<br />
Sesaat kak Sinta nampak menelusuri leher kak Dewi dengan bibir dan lidahnya, aku mengusap leherku sendiri. Entah kenapa aku merasa merinding nikmat. Apalagi melihat ekpresi kak Dewi yang pasrah tengadah, sementara kak Sinta dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga. Aku tak tahan melihat kak Dewi diperlakukan seperti itu. Setelah mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sementara mataku tak lepas dari layar TV.<br />
Situasi semakin seru, kak Dewi kini yang beraksi, ia kelihatan agak terlalu terburu-buru. Dengan penuh nafsu ia menjilati dan menciumi leher kak Sinta yang kini terlentang ditindih kak Dewi. Kepala kak Sinta mendongak-dongak, aku yakin ia tengah merasakan gelenyar-gelenyar nikmat dilehernya. Kemudian kak Dewi berpindah menciumi dada kak Sinta, sekarang baru nampak jelas wajah kak Sinta. Ia ternyata cantik sekali, bahkan sedikit lebih cantik dari kak Dewi. Ah aku terangsang. Tonjolan dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan.<br />
Kak Dewi benar-benar beraksi, ia menciumi dan melahap payudara kak Sinta. Wajah kak Sinta mengernyit, dan mulutnya terbuka, apalagi ketika kak Dewi mengemut putting susunya. Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap kepala kak Dewi. Bergantian kak Dewi mengerjai kedua payudara kak Sinta. Kak Sinta menggeliat-geliat. Semakin liar, apalgi ketika kak Dewi menyelinap ke dalam selimut. Tiba-tiba kepala Kak Dewi muncul lagi dari balik selimut, tengadah mungkin ia tersenyum atau tengah mengatakan sesuatu, karena kulihat kak Sinta tersenyum, lalu sebuah kecupan mendarat dikening Kak Dewi. Sesaat kemudian kak Dewi menghilang lagi ke dalam selimut. Kak Sinta tampak membetulkan posisi badannya, selimutnya juga dirapihkan, aku tak dapat melihat apa yang tengah dilakukan kak Dewi, tapi menurut perkiraanku kepala kak Dewi tepat diantara selangkangan kak Sinta. Entah apa yang tengah dilakukannya. Namun yang terlihat, kak Sinta mendongak-dongak, kedua tanganya meremas-remas kepala kak Dewi. Kepala kak Sinta bergerak kekanan dan kekiri. Tubuhnya juga menggelinjang kesana sini. Kondisi seperti itu berlalu cukup lama. Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan, lalu kulemparkan kain sarungku. Kemaluanku mengeras, menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah… edan !<br />
Tiba-tiba aku lihat kak Sinta mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya menjepit kepala kak Dewi. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak kekanan dan kiri. Ia terengah-engah, lalu sesaat kemudian terdiam. Matanya terpejam. Kemudian kak Dewi muncul dari balik selimut, ia nampak mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Sinta tersingkap karenanya. Kak Sinta kemudian meraih kedua bahu kak Dewi, mendaratkan kecupan dikening, pipi kanan dan kiri kak Dewi, lalu merangkul kak Dewi ke dalam pelukannya. Beberapa saat mereka berpelukan. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku meremas-remas dan mengurut kemaluanku sendiri.<br />
Dan, kemudian mereka nampak berbincang lagi, lalu kak Dewi membaringkan badanya. Terlentang. Kak Sinta menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh. Kak Dewi kelihatan protes, tapi protes kak Dewi dibalas dengan lumatan bibir kak Sinta. Tubuh kak Sinta menindih tubuh kak Dewi. Aku melihat, dengan mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua tubuh indah dengan kulit putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun. Saling menyentuh.<br />
Kak Sinta kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, payudara kanan dan kiri. Kak Dewi nampak pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Sinta nampak lebih terampil dari kak Dewi, hampir setiap inci tubuh kak Dewi dijilati dan dikecupnya. Bahkan kini ia menelusuri pangkal paha kak Dewi dari arah perut dan terus bergerak ke awah. Kak Dewi hendak bangun, kedua tanganya seolah menahan kepala kak Dewi yang terus bergerak ke bawah, entah mungkin karena geli atau nikmat yang teramat sangat. Tapi tangan kak Sinta menahanya, akhirnya kak Dewi menyerah. Dihempaskannya tubuhnya ke atas spring bad.<br />
Kak Sinta kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki kak Dewi. Tangan kanan kak Dewi mengusap-usap kemaluannya, sementara jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat. Tubuh kak Sinta kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha kak Dewi. Kak Sinta menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul kak Dewi, sehingga tubuh bagian bawah kak Dewi makin terangkat. Kepala kak Dewi terjepit persis diantara selangkangan kak Dewi. Sebelah tangannya meremas-remas payudara kak Dewi. Aku lihat tubuh kak Dewi mengelinjang-gelinjang. Tak sadar aku turut merintih. Semakin kak Dewi menggelinjang, nafasku semakin memburu. Tubuhku kini mendekap dan mengesek-gesek bantal guling, dan batang kemaluanku menggesek-gesek ujungnya. Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. Yang pasti aku turut larut dalam situasi antara kak Dewi dan kak Sinta.<br />
“Kak Dewiii… kak Sinta……, ini Tedy… asssshhh..ahh  kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih.<br />
Semakin lama kak Dewi kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya. Kedua tangannya menangkup kepala kak Sinta. Semakin lama gerakan kak Dewi semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam. Sialan ! lampu diluar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan ! Brengsekkkkkk !!!<br />
Aku terengah-engah, dalam kegelapan. Sudah kadung mendidih, aku teruskan aksiku meski tanpa sensasi visual. Aku merintih dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Aku yakin disana kak Dewi dan kak Sinta pun tengah merintih dan mendesah, juga dalam kegelapan…….</p>
<p style="text-align:justify;">Dor ! Dor ! Dor !<br />
“Tedy… bangun, udah siang !“, suara ketukan atau entah gedoran pintu membangunkan aku. Rupanya sudah siang.<br />
“Bangun…!”, suara kak Dewi kembali terdengar.<br />
“Iya..! udah bangun…”, teriakku. Lalu terdengar langkah kaki kak Dewi menjauh dari pintu kamarku.<br />
Ya ampun ! aku terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Dan bantal guling…, bergegas aku buka sarungnya. Wah nembus !<br />
Dengan terburu-buru kurapikan kamarku, jam menunjukan pukul 8 pagi. Kalau tidak khawatir mendengar kembali teriakan kak Dewi yang menyuruh sarapan mungkin aku memilih untuk tidur lagi. Akhirnya aku keluar kamar, mengambil handuk, dan bergegas kekamar mandi.<br />
Didekat ruang makan aku berpapasan dengan kak Dewi yang membawa nasi goreng dari dapur. Namun bukan itu yang menarik perhatianku. Rambut lepek kak Dewi yang belum kering benar jelas terlihat. Aku teringat kejadian tadi malam. “abis keramas nih yee !”, kataku dalam hati.<br />
“Apa senyam-senyum gitu ?”, kak Dewi menatapku heran.<br />
“Enggak …! Siapa… lagi yang senyam-senyum. Mmm enak !”, kataku sambil menyuap sesendok nasi goreng hangat.<br />
“Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata kak Dewi sambil meletakan piring yang dipegangnya.<br />
“Jorokan juga kak Dewi, gituan dijilatin hiiii….”, kataku dalam hati, tapi kemudian bergegas mandi, eh keramas juga !<br />
Segar sehabis mandi, hampir aku balik lagi ketika menyadari dimeja makan Kak Dewi tengah sarapan ditemani kak Sinta.<br />
“Ikutan Indonesian Idol dong ted !, jangan cuma berani nyanyi dikamar mandi aja !”, itu kalimat yang pertama kudengar dari kak Sinta. Cantik. Bener- benar cantik. Sumpah ! tapi matanya itu ! aku merasakan keliaran dimatanya ketika menatapku yang hanya terbungkus handuk sepinggang.<br />
“Eh, maaf kirain gak ada kak Sinta, maaf yah…permisi !”, kataku sambil berlalu.<br />
Buru-buru aku ganti baju, menyisir rambut. Ah kenapa aku ingin nampak keren. Karena ada kak Sinta yang cantik kali ya ? Pandang dari kiri dan kanan. Sip ! Turun kembali ke lantai bawah, menikmati dua wajah cantik, dan sepiring nasi goreng bertabur SoGood Sozzis.<br />
“Nih buruan, sarapan dulu !”, kak Dewi yang kemudian menyuruhku sarapan, sementara mereka sendiri telah selesai. Aku lalu sarapan dengan diawasi oleh dua mahluk cantik yang tidak buru-buru beranjak dari meja makan. Mereka berbincang ngalor ngidul seputar dunia kerja. Sesekali aku menimpali meskipun mungkin enggak nyambung. “Dasar kuli, hari libur gini masih aja ngurusin kerjaan !”, aku membatin.<br />
“Tumben dihabisin ?”, kata kak Dewi melihat aku makan dengan lahap.<br />
“Abis enak sih !”,<br />
“Biasanya, dia tuh ! susah makannya, di masakin ini-itu…!”,<br />
“Bohong kak ! jangan dengerin !”, kataku menimpali ucapan kak Dewi<br />
“Alah… emang biasanya gitu kok !”, kak Dewi memotong ucapanku. Kak Sinta hanya tersenyum aja. Manis lagi senyumnya. Mmmuah ! ingin rasanya kusentuh bibirnya itu.<br />
Seminggu berlalu, setiap hari rasanya aku menjadi tambah bejat. Pikiranku kotor terus. Terbayang kak Dewi dan kak Sinta. Namun yang lebih sering menari-nari dalam khayalanku kemudian adalah sosok kak Dewi. Mungkin karena ia yang tiap hari ketemu. Sehingga pikiran kotorku kemudian mengacu kepadanya. Aku merasa bersalah karena kemudian khayalanku semakin kacau. Aku begitu terobsesi dengan kak Dewi. Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan kak Dewi. Aku ingin merasakan kehangatan tubuh mulusnya, mengecap setiap inci kulit halusnya. …ahhhhhh…..!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Rasanya semua hal yang berkaitan dengan kak Dewi membuatku terangsang. Melihat pakaiannya yang lagi dijemur saja aku terangsang. Bahkan entah berapa kali ketika kak Dewi tidak ada dirumah, aku mempergunakan benda-benda pribadi kak Dewi menjadi objek fantasiku. Dan makin lama aku makin berani, hingga aku melakukan self service, di kamar kak Dewi, ketika tidak ada kak Dewi tentunya. Seperti siang itu, sebotol Hand Body Lotion milik kak Dewi kugenggam erat. Aku terlentang diatas spring bad kak Dewi. Isi lotion telah kukeluarkan sehingga melumuri kemaluanku yang mengacung. Kuurut perlahan, menikmati sensasi yang membuai, sambil sesekali aku menciumi celana dalam pink kak Dewi. Aku benar-benar hanyut dan terbuai dalam kenikmatan. Sehingga aku tak begitu menghiraukan ketika ada suara-suara didepan rumah. Ah… kak Dewi biasanya pulang jam 6.30, sekarang baru jam 2 siang…. Aman..Ach….shhhh…..<br />
Aku terhanyut dan bergelenyar penuh kenikmatan hingga….<br />
Jeckrek !!! kunci pintu depan dibuka dari luar, lalu pintu terbuka. Seseorang masuk. Ya ampun ! aku sungguh panik. Kak Dewi Pulang !!!<br />
Dengan gemetar dan penuh ketakutan aku mengenakan celana. Ya ampun, berantakan begini, dan… Hand Body Lotion tumpah… mati gue !<br />
Tak dapat dicegah karena pintu kamar memang tak kukunci. Blak…pintu didorong dari luar…<br />
“Tedy…! Ngapain kamu ?”, mata kak Dewi menatapku tajam.<br />
“ng..mmm ini lagi !”, aku tak berkutik. Baju yang kugunakan mengelap ceceran Hand Body Lotion di seprai kugenggam erat. Wangi Hand Body Lotion tercium kemana-mana. Keringat dingin membasahi tubuhku yang hanya mengenakan training. Napasku tercekat manakala menyadari tatapan kak Dewi ke atas tempat tidur, celana dalam ka Dewi, langerie kak Dewi, bantal guling, dan celana dalamku yang tak sempat kupakai atau kusembunyikan. Shittttt….sialan!<br />
Kak Dewi menghela nafas panjang dan berat, tatapannya sungguh menakutkan. Aku menggigil gemeteran. Kak Dewi pastinya dapat menebak kelakuanku.<br />
“Kok cepet pulangnya kak ?”, dengan susah payah aku bersuara. Tapi kak Dewi tak memperdulikanku. Ia berlalu, langkah kakinya menjauhi kamar. Lalu terdengar dentingan gelas, dan pintu lemari es dibuka.<br />
Bergegas aku membereskan segala yang berantakan, sekedarnya. Lalu buru-buru meninggalkan kamar kak Dewi !<br />
“Anjing…!, brengsek “, kataku sambil meninju dinding. “Bodoh, bodoh !”, aku mengutuk diriku sendiri. Aku malu sekali. Dengan penuh ketakutan aku bergegas ganti baju. Pikiranku kacau sekali. Aku dengan mengendap keluar rumah, motorku-pun kudorong keluar halaman. Lalu aku kabur…ketempat kost temanku.<br />
Tiga hari aku aku tak pulang, temanku sampai terheran-heran dengan kelakuanku. Tapi aku simpan rapat-rapat masalah yang sebenarnya. Aku hanya bilang lagi berantem sama kakaku.<br />
Tadinya aku kebingungan juga kelamaan tidak pulang, mau pulang juga rasanya bagaimana. Namun sebuah telpon dari kak Dewi membuat semuanya lebih baik,<br />
“Tedy kamu kemana aja ? kamu dimana ?”, terdengar suara kak Dewi di HP ku, datar. “mm ng… dirumah temen kak ?”, kataku sedikit bergetar.<br />
“Pulang…nanti kalo mamah nanya gimana ?”, suara kak Dewi masih terdengar datar. Tapi setidaknya hal itu membuatku sedikit lega. “Iya kak !”, lalu tak terdengar lagi suara kak Dewi. Aku tertegun beberapa saat, namun kemudian aku memutuskan untuk pulang.<br />
Tiba dirumah, tatapan kak Dewi menyambutku. Aku tak berani menatap wajahnya. “kamu kemana aja ?”, suara kak Dewi masih terdengar datar seperti ditelepon. “Mmm…dari rumah Wawan kak !”,<br />
“Makan dulu…tuh kakak udah masak !”, terdengar suara kak Dewi dari ruang tengah. “Iya kak !”, bergegas aku ke meja makan. Melahap makanan yang tersedia dimeja makan, emang gua laperrrr !<br />
Besoknya, suasana masih terasa amat hambar. Kak Dewi tak mengucap sepatah katapun. Ia membuang muka ketika berpapasan dengan aku yang bermaksud ke kamar mandi. Selesai mandi, ganti baju, kembali keruang makan. Aku dan kak Dewi sarapan seperti biasanya, tapi rasanya suasana betul-betul mencekam. Kak Dewi nampak buru-buru menyelesaikan sarapannya. Akupun bergegas menghabiskan sisa makananku.<br />
“Kak, maafin Tedy yah !”, kataku sambil meletakan gelas yang airnya habis kuteguk.<br />
Kak Dewi tak bersuara, tapi matanya menatapku, penuh keheranan dan tanda tanya, atau mungkin tatapan apa itu artinya. Entahlah.<br />
Beberapa hari kemudian setelah situasi dirumah mulai terasa normal, malam itu kak Dewi diruang tengah nonton TV atau mungkin membaca majalah. Entahlah atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca majalah sambil telungkup dipermadani. Dagunya diganjal dengan bantal guling. Aku kemudian duduk disofa, tepat dibelakangnya. Rasanya badanku gemetar menyaksikan pandangan dihadapanku. Sittttt !!!! Pikiran gilaku melintas lagi. Pantat kak Dewi yang hanya dilapisi selembar baju tidur tipis begitu indah terlihat. Garis celana dalam yang dikenakanya nampak menggurat. Betisnya itu, alamak. Aku tak tahan ingin mengecapnya dengan lidahku. Dan…<br />
“Bikin minum dong, haus nih…!”, Kak Dewi membalikan badannya, dan melihat kearahku yang tengah menikmati bagian belakang tubuhnya.<br />
“Orange, atau susu ?”, tanpa sadar aku melirik kearah dadanya.<br />
Kak Dewi merasakan pandangan mataku, ia membetulkan leher bajunya.<br />
“Susu deh ! tapi jangan penuh-penuh yah !”,<br />
“Ok !”, lalu aku pergi ke ruang sebelah. Seperti kebiasaannya kalau bikin susu ia pasti hanya minta setengah gelas. “Takut gak abis”, katanya !<br />
“Nih kak !”, kataku sambil meletakkan gelas susu disebelah kanan. Lalu aku bergerak kesebelah kiri kak Dewi. Kak Dewi segera mereguk minuman yang kusediakan untuknya itu. Aku sendiri meraih majalah yang tengah dibaca Kak Dewi.<br />
“Ih apaan nih, sini ! orang lagi dibaca juga !”, kak Dewi berusaha meraih majalahnya kembali. Akhirnya kulepaskan. Aku mengambil remote TV. Sambil tengkurap disamping kak Dewi, aku memindah-mindah chanel.<br />
“Kebiasaan Tedy mah, pindah-pindah terus, balikin TransTV !”, katanya sambil berusaha meraih remote. Akupun menyerah, kukembalikan channel ke TransTV.<br />
Lalu aku memiringkan badan, sekarang aku menghadap kearah kak Dewi. Menatapnya dalam-dalam. Ah… kakak ku sayang, engkau cantik sekali. Lalu aku mutup kedua mataku rapat-rapat.<br />
“Kak mau tanya, boleh ?”, kataku sambil tetap memejamkan mata.<br />
“Tanya apa sih !”, ia menjawab tanpa menoleh.<br />
“ng…mmmm kenapa Tedy akhir-akhir jadi aneh yah ?”,<br />
“Maksudnya apa ?”,<br />
“Tapi kak Dewi jangan marah yah !”,<br />
“Akhir-akhir ini, tedy sering error. Pikiranya yang begituuu.. aja. Gak siang gak malem, pusing deh !”,<br />
“Mikirin apa sih ?”,<br />
“Ah… kak Dewi ini. Maksud Tedy… mmm jangan marah yah. Rasanya Tedy gampang terangsang deh !”, kubuka mataku, keterkejutan nampak diwajah kak Dewi. Lalu ia menghela nafas panjang.<br />
“Kebanyakan nonton film jelek kali. Tuh dikomputer hapus-hapusin gambar gambar jelek kayak gitu !”,<br />
“Bisa juga sih…, kalau masturbasi bahaya enggak sih kak?”, aku kembali melontarkan pertanyaan yang mengagetkannya.<br />
”Apaan sih gituan di tanya-tanyain ?!”, nampak kak Dewi agak gusar menimpali pertanyaanku.<br />
“Kalau kata temen tedy sih, mendingan masturbasi daripada main sama cewek nakal, bisa penyakitan !”,<br />
Tak terdengar komentar. Waduh aku kehabisan kata-kata.<br />
“Sebenarnya gara-gara kak Dewi sih !”, dan aku menunggu. Benar saja, kak Dewi bereaksi. Ia menatapku penuh tanya.<br />
“Menurut sebuah survai, 60 % wanita lajang melakukan masturbasi, bener kan ?”, aku kembali melontarkan pukulan kata-kata.<br />
“Kata siapa kamu  ?”,<br />
“Kata koran dannnnn… lubang kunci !”,<br />
“Maksud Tedy apa sih…? Kakak jadi pusing !”,<br />
“Tedy tahu rahasia kak Dewi !”,<br />
“Rahasia apa ?”,<br />
“Kak Dewi suka menggeliat-geliat ditempat tidur tanpa pakaian dan memeluk bantal guling !”, akhirnya. Mata Kak Dewi membeliak kaget. Tatapan matanya menyiratkan rasa marah dan malu, tapi ia berusaha menutupinya.<br />
“Kamu ngintip ?”,<br />
“Gak sengaja sih…!”, kubenamkan mukaku dipermadani sambil menunggu efek selanjutnya.<br />
“Tapi tenang aja. Rahasia kak Dewi aman kok ditangan Tedy. Dan rahasia Tedy ada ditangan kak Dewi. Sama-sama aman ok ?!”, Kak Dewi tak bersuara. Benar-benar terdiam. Ia malah membolak-balikan halaman majalah.<br />
“Meskipun ada satu rahasia lagi !”, tampak wajah kak Dewi kembali menegang. Pandanganya mengarah kepadaku, yang kini juga menatapnya.<br />
“Kak Sinta… !”, kataku. Kak Dewi benar-benar terhenyak. Ia bangkit hingga terduduk. Aku membalikan badan, terlentang disamping kak Dewi.<br />
“Tenang aja. Tedy gak akan membocorkannya ke siapa-siapa kok !”,<br />
“Tedy tahu semuanya ?”, kata kak Dewi tiba-tiba. Pandangan matanya kini memelas dan penuh ketakutan. Aku menganggukan kepala.<br />
“Jangan bilang siapa-siapa, jangan bilang mamah. Please !”, kak Dewi mengguncang bahuku.<br />
“Tenang…pokoknya aman !”,<br />
Kak Dewi nampak gelisah. Aku tidak tega melihatnya. Kak Dewi yang sangat baik padaku telah aku antarkan pada suatu kondisi serba salah dan menakutkan baginya. Tapi sudahlah.<br />
Tiba-tiba terdengar dering telp, bergegas aku bangun dan mengangkat gagang telpon.<br />
“Halloo..!”, terdengar suara perempuan diseberang sana.<br />
“Hallo…!”, kataku<br />
“Ini tedy yah ?, kak Dewi ada ?”, suara itu terdengar lembut.<br />
“ng.. ini siapa yah ?”, kataku sambil menduga-duga.<br />
“Ini Sinta…kak Dewi-nya ada ?”,<br />
“Ada…sebentar ya kak !”, kataku.<br />
“Kak… ini kak Sinta !”, kataku pada kak Dewi. Kulihat tiba-tiba expresi kak Dewi menegang. Namun tak urung ia mendekatiku, dan menerima gagang telepon yang kusodorkan.<br />
“Haloo..”,<br />
Aku bergegas pergi, tak ingin mengganggu “sepasang kekasih” yang telepon-an. Aku naik ke lantai atas, menuju kekamarku sendiri. Kukunci pintu kamar, mematikan lampu, dengan perasaan campur aduk.<br />
Beberapa saat kemudian kudengar langkah kaki kak Dewi di tangga menuju kearah kamarku. Lalu tiba-tiba aku mendengar ketukan dan suara kak Dewi. Aku terdiam, menunggu. “Tedy…!”, kembali terdengar ketukan. Kunyalakan lampu lalu membuka kunci pintu kamar.<br />
Tanpa kupersilahkan kak Dewi menyeruak masuk lalu duduk dipinggir tempat tidur. “Tedy…”, kak Dewi tiba-tiba memecahkan keheningan.<br />
Aku yang hendak menyalakan rokok, menoleh.<br />
Kulihat kak Dewi menatapku dalam-dalam. Nampaknya ada sesuatu yang ingin diucapkanya. Tak jadi menyalakan rokok. Aku menarik kursi, dan membalikanya sehingga menghadap kearah kak Dewi. Lalu aku duduk dihadapan kak Dewi. “Tedy bisa pegang rahasia kan ?”, ia menatapku sungguh-sungguh. Ada ketakutan dimatanya.<br />
“Masalah apa ?”,<br />
“Sinta…!”,<br />
“Oh…!”, aku mengangguk perlahan.<br />
“Jangan sampai Mamah tahu !’,<br />
Aku hanya menatapnya, lalu tersenyum hambar.<br />
“Janji ?!”, kak Dewi menatapku dalam-dalam.<br />
“Janji !”, kataku sambl mengacungkan telunjuk dan jari tengahku.<br />
“Tedy boleh minta apa aja, pasti kakak turutin, syaratnya satu, gak boleh bocorin rahasia !”,<br />
“Tenang…aman !’, kataku agak bergetar.<br />
“Tedy mau minta apa sama kaka?”, nampaknya kak Dewi mencoba bernegosiasi, he he….<br />
“ng…gak minta apa-apa deh…mmm…”, sungguh tak terpikir untuk minta sesuatu pada kak Dewi, lagi pula aku sama sekali gak kepirkiran untuk membocorkan rahasianya. Namun tatapan liarku kearah dada ka Dewi sungguh dinterpretasikan oleh kak Dewi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kakak tahu kok apa yang Tedy inginkan, sini…!”, kak Dewi menepuk spring bad, mungkin maksudnya menyuruhku duduk disampingnya. Aku ragu sesaat.<br />
“Sini….!”, katanya mengulang.<br />
Meskipun ragu aku kemudian beranjak, dan dengan bingung aku duduk disebelahnya. Darahku berdesir saat jemari lembut kak Dewi mengusap punggung tanganku. Lalu ia meraih telapak tanganku. Jemari tanganku digenggamnya.<br />
“Pasti Tedy sekarang lagi error !”, tiba-tiba kak Dewi berkata datar,<br />
“Apaan sih kak ?”, kataku agak jengah.<br />
“Pake pura-pura lagi !”, kak Dewi mendorong tubuhku. Karena Kak Dewi mengisyaratkan agar aku terlentang maka aku segera terlentang dengan kakiku menjuntai kelantai.<br />
“Tedy pengen ini kan ?”, jemari kak Dewi merayapi pahaku. Aku terhenyak menahan nafas. Kemudian kak Dewi tanpa ragu mulai meremas kemaluanku perlahan, ahh….., kedua lututku terangkat parlahan, lalu kuturunkan lagi.<br />
“Kak…”, kataku lirih<br />
“sst…kakak tahu apa yang Tedy inginkan, tenang aja…”, kak Dewi benar-benar meremas-remas kemaluanku. Geletar nikmat perlahan merayap, seiring makin mengerasnya batang kemaluanku. Kuraih bantal, kudekap hingga menutupi mukaku. Rasa jengah dan nikmat membaur menjadi satu.<br />
“Pake malu-malu lagi !”, kak Dewi memaksaku melepaskan bantal. Akhirnya untuk aku hanya bisa menutup mata dan menikmati gelenyar kenikmatan dari setiap remasan tangan kak Dewi. “Ah…shhh..kak….!”,<br />
Tanganku perlahan merayap kearah pinggang kak Dewi, meremasnya perlahan seiring geliat kenikmatan. Aku semakin berani karena kak Dewi tak menolak remasan tanganku dipinggangnya.<br />
Tiba-tiba, “Udah ya…cukup segitu aja !”, tiba-tiba kak Dewi menghentikan remasan tanganya.<br />
“Ah kakak !”, aku merintih kecewa, hampir aku melonjak bangun.<br />
“Kenapa ?”, ia menatapku, sebuah senyum seolah menggoda aku yang tengah konak.<br />
“Tanggung…please…!”, aku merintih dan memelas.<br />
“Dasar….”, katanya sambil memijit hidungku.<br />
Tanpa ragu aku melepaskan training yg kukenakan, kemaluanku yg sungguh telah mengeras, mendongak…<br />
Nampak ada rasa jengah pada tatapan kak Dewi, aku bangkit dari tidurku, “Please…!”, lalu kuraih tangan kak Dewi agar menjamah kemaluanku. Akhirnya tak urung kak Dewi menuruti kemauanku.<br />
Kembali kuhempaskan tubuh, lalu menunggu kak Dewi melakukan hal yg seharusnya. Tangan lembut dan halus kak Dewi menggenggam kemaluanku, nampaknya ia agak ragu, badanku mengerjap sesaat, ketika tangan kak dewi mulai meramas kemaluanku dengan perlahan. Kupenjamkan mata, menikmati setiap kenikmatan yang datang. Semakin lama keinginanku semakin kuat. Aku merintih, mendesah dan sesekali menggeliat.<br />
Remasan tangan kak Dewi memang nikmat, namun semakin lama aku menginginkan lebih, lalu aku meraih Hand Body dari sela-sela pinggir springbad, dengan gemetar kusodorkan pada kak Dewi.<br />
“Apa ini ?”,<br />
Meski terlihat ragu, perlahan kak Dewi meraih Hand Body Lotion, membuka tutupnya, menumpahkannya ditangan kanannya. Lalu ia melumuri kemaluanku. Ahhh..<br />
“Maafin Tedy ya kak !”,<br />
“Iya anak nakal !”, katanya. Mungkin seharusnya ia tersenyum tapi aku tidak melihatnya.<br />
“Digimanain ?”, katanya berbisik perlahan.<br />
“Urut aja, keatas dan kebawah, pelan-pelan !”,<br />
“Begini…!”,<br />
“Ya…ah… shhh… kak Dewi…!”, akupun tenggelam dan terbuai dalam kenikmatan. Belaian lembut tangan Kak Dewi sungguh membuat aku terlena. Dan tanpa kuminta kak Dewi telah cukup paham ketika sudah agak mengering dan kesat ditambahkannya lagi cairan Hand Body itu. Ia telah tahu yang kuinginkan. Caranya mengurut dan meremas sungguh sempurna. Aku kemudian hanya bisa pasrah, merintih dan mendesah.<br />
“ssshhhh… kaka…mkasihhhh…. Mmmm shhhhh enak !”,<br />
Aku terus merintih dan merintih. Kak Dewi benar-benar memanjakan aku. Ia mengurut dan membelai membuat aku terasa melambung-lambung. Tapi lama kelamaan ada rasa ngilu dikemaluanku. Makin lama makin ngilu.<br />
“kenapa ? udah ?”, kak Dewi bertanya ketika tanganku menahan gerakan tanganya yang masih mengurut dan membelai. “Ngilu…!”, kataku berbisik.<br />
Lalu aku bangkit dari tempat tidurku, sehingga kami duduk berdampingan. Kak Dewi terlihat berusaha mengelap cairan Hand Body yang berlepotan ditanganya. Trainingku menjadi korban. Tanggung sekalian kotor, akupun mengelap kemaluanku dari cairan handbody. Kami terdiam, beberapa saat.<br />
“Tahu enggak sebenarnya Tedy suka pake bantal guling. Seperti Kak Dewi !”,<br />
“Apa enaknya…!”, pertanyaan itu seolah terlontar begitu saja.<br />
“Ya enak aja. Gesek-gesek. Sambil membayangkan sedang memeluk kak Dewi !”.<br />
“Dasar !”, ia memelintir kupingku.<br />
“kak Dewi…!”,<br />
‘Apa..?”,<br />
‘Tanggung nih !”,<br />
“Tanggung apanya ?”,<br />
“Pura-pura jadi bantal guling mau ?”,<br />
“Apalagi nih !”,<br />
“Tedy gak tahan nih. Tapi kak Dewi gak usah khawatir. Tedy gak merusak apapun. Kak Dewi tetap berbaju lengkap. Kak Dewi hanya berbaring aja. Nanti Tedy…!”, kak Dewi terdiam tak menjawab.<br />
“Cuma gesek-gesek aja !”, aku kemudian menandaskan.<br />
“Gimana ? kamu ini aneh-aneh aja ?”,<br />
“Berbaring dulu kak Dewi-nya. Pokonya aman deh. Tedy gak bakalan merusak apapun. Janji !”, kataku sambil setengah mendorong tubuh kak Dewi.<br />
Kak Dewi tak urung menurut. Ia beringsut keatas spring bad, lalu kubaringkan tubuhnya hingga terlentang.<br />
Dengan bergetar kemudian aku berbaring menyamping. Lalu kakiku menyilang keatas dua kakinya. Selangkanganku kini menempel ke pahanya. Sayang masing terlindung pakaian yang dikenakannya. Tapi lumayan enak. Lalu aku mulai menggesek-gesekan kemaluanku kepaha kak Dewi. Rasa nikmat perlahan mengalir seiring gesekan itu. Makin lama makin terasa enak. Tangan kak Dewi kupaksa agar mau melingkari pinggangku. Aku terus menggesek dan menggesek. Sesaat aku lepaskan bajuku, aku kini telanjang bulat, menelungkup tubuh kak Dewi yang masih terbungkus Langerie…</p>
<p style="text-align:justify;">”shhhh…. Mmmm enak kak. Enak ! shhhhh ahhhh shhh !”, tanpa sadar aku menciumi bahu kak Dewi. Aku semaki berani karena kak Dewi membiarkan aku menciumi pundaknya. Makin lama tubuhku makin bergeser. Tahu-tahu aku kini berada diantara dua paha kak Dewi. Kemaluanku menggesek-gesek persis kemaluan kak Dewi. Sungguh nikmat. Geletar-geletar birahi makin memuncak. Aku mendesis dan merintih sambil sesekali mendaratkan ciuman ke pundak kak Dewi. Lambat laun aku menyadari, setiap aku bergerak dan menggesek, tubuh kak Dewi ikut bergerak seirama gerakan tubuhku. Bahkan beberapa kali ia membetulkan posisi pinggangku. Kemaluanku terus menggesek-gesek kemaluan kak Dewi. Dan terus bergoyang-goyang berirama.<br />
“Kurang keatas…sakit tahu !”, suara ka Dewi terdengar memburu.<br />
Aku menurut. Aku bergerak lebih keatas. Paha kak Dewi bergerak seolah memberi ruang agar tubuhku bergerak lebih leluasa.<br />
“Pelan…pelan…”, ia mendesis,<br />
“Enak kak?’, akhirnya kulontarkan pertanyaan itu. Kak Dewi terdiam. Namun nafasnya semakin terdengar memburu. Jemari tangannya terasa meremas-remas punggungku.<br />
Tanpa meminta persetujuan aku berusaha meraih celana dalam kak Dewi.<br />
“Mau apa ?”,<br />
“Biar gak sakit lepasin aja yah ?”, ia sedikit mempertahankanya.<br />
“Please !”, kataku. Akhirnya kak Dewi menurut. Bahkan kakinya bergerak-gerak membantuku melepaskan celana dalam itu. Aku tidak bermaksud menyetubuhi kak Dewi. Tidak benar-benar maskudku. Biar bersentuhan lebih dekat aja. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Kemaluanku menempel pada kemaluan wanita. Sungguh sensasinya luar biasa.<br />
Kemaluanku mengarah kebawah, terjepit diantara paha kak Dewi. Lalu aku mulai menggesek-kesekanya. Ada sesuatu yang hangat namun basah dibawah sana. Semakin kugesekkan semakin terasa nikmat. Tiba-tiba aku mendengar kak Dewi mendesah pelan. Kepalanya mendongak. Kuulangi gerakan dan gesekanku, kembali ia mendesah. Akhirnya kuulangi gesekan diwilayah itu. Aku senang mendengar kak Dewi mendesah-desah dan merintih. Kami ternyata berada pada posisi saling berdekapan. Wajah kami begitu dekat. Aku merasakan semburan nafas hangat kak Dewi. Dengan lembut kudaratkan bibirku didagunya. Kemudian bergeser, perlahan. Akhirnya bibir kami bertemu. Bibir kak Dewi awalnya diam tak bereaksi ketika bibirku berusaha melumat, tapi lama kelamaan bibir itu membalas lumatan bibirku. Kami berpagutan dan saling melumat. Semakin lama segalanya semakin liar. Aku kini bahkan sudah mengecap, menjilat bahkan setengah menggigit leher kak Dewi. Ketika jilatan lidahku menyerang pangkal leher dibawah telinganya, kak Dewi mendesah dan merintih. Aku kini benar-benar membuat kak Dewi menjadi hilang kesadaran. Ia telah menjadi benar-benar liar. Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Aku maklum dengan apa yang diinginkan kak Dewi. Aku bangit dari cengraman tubuhnya. Lalu dengan gemetar kubuka Langerie yang dikenakan kak Dewi. Kemudian Bra yang dikenakannya. Kini tubuh kak Dewi tak berbalut selembar benangpun, sebagaimana aku. Tak tahan berlama-lama aku merangkul tubuh kak Dewi. Aku menggumulinya dengan penuh nafsu. Aku jilat setiap inci tubuhnya, semakin kak Dewi merintih semakin aku mejilat dan menggigit. Putting susunya bergantian aku lahap. Aku bagai orang yang kesetanan. Tanpa terasa aku mulai menjilati tubuh kak Dewi bagian bawah. Bahkan aku kini mulai menciumi pangkal paha dan selangkangannya. Kak Dewi merintih dan melenguh. Aku tak tahu bagaimana cara menjilat yang baik dan benar. Pokonya semakin keras rintihan kak Dewi semakin lama aku menjilat. Kupingku terasa berdenging dan pekak karena terjepit kedua paha kak Dewi. Aku menjilat dan terus menjilat kemaluan kak Dewi. Meskipun hidungku mencium aroma yang aneh, dan lidahku mengecap rasa yang aneh pula. Aku terus menjilat. Bahkan bibirkupun mencium bagian-bagian kemaluan kak Dewi. Aku bahagia mendengar kak Dewi Merintih-rintih dan menjerit. Sampai kemudian kak Dewi menarik kepalaku.<br />
“Sudah-sudah ! ngilu !”,<br />
“Ngilu ?”, batinku. Bukanya enak ?<br />
Nafas kak Dewi tersengal-sengal. Aku segera mengelap mulutku dengan baju kak Dewi, mengusir perasaan tidak nyaman dimulutku. Namun aku masih bernafsu. Ketika aku bermaksud menaiku tubuh kak Dewi.<br />
“Tunggu sebentar. Masih ngilu !?”, katanya.<br />
Akhirnya aku hanya dapat menciumi perut dan dada serta payudara kak Dewi. Kedua tangan kak Dewi membelai-belai rambutku.<br />
Tubuhku perlahan mulai merayap kembali. Masuk kedalam dekapan hangat tubuh kak Dewi. Rasa nikmat itu perlahan kembali mengalir. Kemaluan kami kembali bergesekan. Dan aku mulai meracau…<br />
“Jangan !”, kak Dewi menahan tubuhku. Aku tak tahan lagi. Aku ingin memasukannya. Aku ingin merasakan terbenam dalam lembah kenikmatan itu.<br />
“Jangaaaaannn… please 	! Tedy jangan !”, kak Dewi memohon ketika aku mencoba dan memaksa untuk kedua kalinya.<br />
“Tedy udah gak tahan kak ! gak tahan lagi !”,<br />
“Tapi Tedy udah janji, gak bakalan merusak.!”, kak Dewi menghiba.<br />
“Tedy udah gak tahannnnnn….shhhh !”,<br />
“Kak Dewi juga sama. Tapi please jangannnn shhh !”,<br />
Kak Dewi berbisik dengan nafas memburu. Aku tak tahan lagi. Namun kemudian otak warasku hadir. Kalau dengan bantal guling saja aku bisa puas, kenapa sekarang enggak.<br />
Aku ambil celana dalam kak Dewi, lalu kugunakan untuk menutupi kemaluan kak Dewi. “Tedy pengen keluar disini, boleh yah !”. setengah memohon aku berbisik.<br />
Karena tak dilarang segera aku memposisikan kemaluanku. Mengarah kebawah dan terjepit paha kak Dewi. Kedua Kemaluan kami hanya dipisah selembar celana dalam. Dan aku kemudian mulai menggesek. Mencari sensasi kenikmatan itu. Aku menggesek dan menggesek. Tak beberapa lama, gelombang kenikmatan itu datang. Cratt cratt…..</p>
<p style="text-align:justify;">Aku terkapar diatas tubuh kak Dewi. Terdiam beberapa saat, sebelum kak Dewi mendorong tubuhku yang menindih tubuhnya. Aku terbaring ke samping. Ingin rasanya aku memeluk kak Dewi berlama-lama. Tapi kak Dewi buru-buru bangkit. Dikenakannya Langerie-nya kembali. Lalu bergegas ia keluar dari kamarku. Celana dalamnya yang basah berlumuran ditinggalkannya !</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak saat itu, rahasia dirumah ini bertambah, sampai sekarang kami terus melakukanya, tidak terlalu sering memang, namun ketika aku menginginkan atau ketika kak Dewi “kepengen” (begitulah istilah kak Dewi), maka kami akan melakukannya. Didapur, dikamar mandi, diruang tengah, bahkan diruang tamu. Satu hal yang tetap kami jaga, kami tidak benar-benar bercinta, sungguh akupun komit dengan janjiku, aku teramat menyayangi kak Dewi, aku tak ingin merusaknya, semua yang kuperoleh telah lebih cukup bagiku. Dan mudah-mudahan akan tetap saperti itu. –(semoga kak Dewi tak membaca tulisan ini)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=33&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/19/kak-dewi-ku-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Pengalamanku yang Menyenangkan 02</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/19/sepenggal-pengalamanku-yang-menyenangkan-02/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/19/sepenggal-pengalamanku-yang-menyenangkan-02/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 14:18:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[daun muda]]></category>
		<category><![CDATA[paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Sambungan dari bagian 01 Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=28&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sambungan dari bagian 01</p>
<p style="text-align:justify;">Om Bayu kemudian bangun dan mulai melepaskan pakaiannya. Aku, yang baru pertama kali mengalami orgasme, merasakan badanku lemas tak bertenaga, sehingga hanya bisa memandang saja apa yang sedang dilakukan oleh Om Bayu. Mula-mula Om Bayu membuka kemejanya yang dilemparkan ke sudut kamar, kemudian secara cepat dia melepaskan celana panjangnya, sehingga sekarang dia hanya memakai CD saja. Aku agak ngeri juga melihat badannya yang tinggi besar itu tidak berpakaian. Akan tetapi ketika tatapan mataku secara tak sengaja melihat ke bawah, aku sangat terkejut melihat tonjolan besar yang masih tertutup oleh CD-nya, mecuat ke depan. Kedua tangan Om Bayu mulai menarik CD-nya ke bawah secara perlahan-lahan, sambil matanya terus menatapku.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada waktu badannya membungkuk untuk mengeluarkan CD-nya dari kedua kakinya, aku belum melihat apa-apa, akan tetapi begitu Om Bayu berdiri tegak, darahku mendadak serasa berhenti mengalir dan mukaku menjadi pucat karena terkejut melihat benda yang berada di antara kedua paha atas Om Bayu. Benda tersebut bulat panjang dan besar dengan bagian ujungnya yang membesar bulat berbentuk topi baja tentara. Benda bulat panjang tersebut berdiri tegak menantang ke arahku, panjangnya kurang lebih 20 cm dengan lingkaran sebesar 6 cm bagian batangnya dilingkarin urat yang menonjol berwarna biru, bagian ujung kepalanya membulat besar dengan warna merah kehitam-hitaman mengkilat dan pada bagian tengahnya berlubang di mana terlihat ada cairan pada ujungnya. Rupanya begitu yang disebut kemaluan laki-laki, tampaknya menyeramkan. Aku menjadi ngeri, sambil menduga-duga, apa yang akan dilakukan Om Bayu terhadapku dengan kemaluannya itu.<span id="more-28"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Melihat ekspresi mukaku itu, Om Bayu hanya tersenyum-senyum saja dan tangan kirinya memegang batang kemaluannya, sedangkan tangan kanannya mengelus-elus bagian kepala kemaluannya yang kelihatan makin mengkilap saja. Om Bayu kemudian berjalan mendekat ke arahku yang masih telentang lemas di atas tempat tidur. Kemudian Om Bayu menarik kedua kakiku, sehingga menjulur ke lantai sedangkan pantatku berada tepat di tepi tempat tidur. Kedua kakiku dipentangkannya, sehingga kedua pahaku sekarang terbuka lebar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena badanku masih terasa lemas. Mataku hanya bisa mengikuti apa yan sedang dilakukan oleh Om Bayu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian dia mendekat dan berdiri tepat diantara kedua pahaku yang sudah terbuka lebar itu. Dengan berlutut di lantai di antara kedua pahaku, kemaluannya tepat berhadapan dengan kemaluanku yang telah terpentang itu. Tangan kirinya memegang pinggulku dan tangan kanannya memegang batang kemaluannya. Kemudian Om Bayu menempatkan kepala kemaluannya pada bibir kemaluanku yang belahannya kecil dan masih tertutup rapat. Kepala kemaluannya yang besar itu mulai digosok-gosokannya sepanjang bibir kemaluanku, sambil ditekannya perlahan-lahan. Suatu perasaan aneh mulai menjalar ke kesuluruhan tubuhku, badanku terasa panas dan kemaluanku terasa mulai mengembung, aku agak menggeliat-geliat kegelian atas perbuatan Om Bayu itu dan rupanya reaksiku itu makin membuat Om Bayu makin terangsang. Dengan mesra Om Bayu memelukku, lalu mengecup bibirku.<br />
“Gimana Rin.., nikmat khan..?”, bisik Om Bayu mesra di telingaku, namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku sudah tidak berdaya diperlakukan begini oleh Om Bayu dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Om Bayu sangat sopan dan ramah.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya tangan Om Bayu yang satu merangkul pundakku dan yang satu di bawah memegang penisnya sambil digosok-gosokkan ke bibir kemaluanku, hal ini makin membuatku menjadi lemas ketika merasakan kemaluan yang besar menyentuh bibir kemaluanku, aku merasa takut tapi kalah dengan nikmatnya permainan Om Bayu, di samping pula ada perasaan bingung yang melanda pikiranku. Kemaluan Om Bayu yang besar itu sudah amat keras dan kakiku makin direnggangkan oleh Om Bayu sambil salah satu dari pahaku diangkat sedikit ke atas. Aku benar-benar setengah sadar dan pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa. Kepala kemaluannya mulai ditekan masuk ke dalam lubang kemaluanku dan dengan sisa tenaga yang ada aku mencoba mendorong badan Om Bayu untuk menahan masuknya kemaluannya itu, tapi Om Bayu bilang tidak akan dimasukkan semua cuma ditempelkan saja. Saya membiarkan kemaluannya itu ditempelkan di bibir kemaluanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi selang tak lama kemudian perlahan-lahan kemaluannya itu ditekan-tekan ke dalam lubang vaginaku, sampai kepala penisnya sedikit masuk ke bibir dan lubang vaginaku. Kemaluanku menjadi sangat basah, dengan sekali dorong kepala penis Om Bayu ini masuk ke dalam lubang vaginaku, gerakan ini membuatku terkejut karena tidak menyangka Om Bayu akan memasukan penisnya ke dalam kemaluanku seperti apa yang dikatakan olehnya. Sodokkan penis Om Bayu ini membuat kemaluanku terasa mengembang dan sedikit sakit, seluruh kepala penis Om Bayu sudah berada di dalam lubang kemaluanku dan selanjutnya Om Bayu mulai menggerakkan kepala penisnya masuk dan keluar dan selang sesaat aku mulai menjadi biasa lagi, perasaan nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhku, terasa ada yang mengganjal dan membuat kemaluanku serasa penuh dan besar, tampa sadar dari mulutku keluar suara, “Ssshh.., sshh.., aahh. oohh.., Ooomm.., Ooomm.., eennaak.., eennaak! Aku mulai terlena saking nikmatnya dan pada saat itu, tiba-tiba Om Bayu mendorong penisnya dengan cepat dan kuat, sehingga penisnya menerobos masuk lebih dalam lagi dan merobek selaput daraku dan akupun menjerit karena terasa sakit pada bagian dalam vaginaku oleh penis Om Bayu yang terasa membelah kemaluanku.</p>
<p style="text-align:justify;">“aadduuhh.., saakkiitt.., Ooomm.., sttoopp.., sttoopp.., jaangaan.., diterusin”, aku meratap dan kedua tanganku mencoba mendorong badan Om Bayu, tapi sia-sia saja. Om Bayu mencium bibirku dan tangannya yang lain mengelus-elus buah dadaku untuk menutupi teriakan dan menenangkanku. Tangannya yang lain menahan bahuku sehingga aku tidak dapat berkutik. Badanku hanya bisa menggeliat-geliat dan pantatku kucoba menarik ke atas tempat tidur untuk menghindari tekanan penis Om Bayu ke dalam liang vaginaku, tapi karena tangan Om Bayu menahan pundakku, maka aku tidak dapat menghindari masuknya penis Om Bayu lebih dalam ke liang vaginaku. Rasa sakit masih terasa olehku dan Om Bayu membiarkan penisnya diam saja tanpa bergerak sama sekali untuk membuat kemaluanku terbiasa dengan penisnya yang besar itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Om.., kenapa dimasukkan semua, kan.., janjinya hanya digosok-gosok saja?”, kataku dengan memelas, tapi Om Bayu tidak bilang apa-apa hanya senyum-senyum saja.<br />
Aku merasakan kemaluan Om Bayu itu, terasa besar dan mengganjal rasanya memadati seluruh relung-relung di dalam vaginaku. Serasa sampai ke perutku karena panjangnya penis Om Bayu tersebut. Waktu saya mulai tenang, Om Bayu kemudian mulai memainkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya memompa kemaluanku. Badanku tersentak-sentak dan menggelepar-gelepar, sedang dari mulutku hanya bisa keluar suara, “Ssshh.., sshh.., oohh.., oohh”, dan tiba-tiba perasaan dahsyat melanda keseluruhan tubuhku, bayangan hitam menutupi seluruh pandanganku, sesaat kemudian kilatan cahaya serasa berpendar di mataku. Sensasi itu sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh pikiran normalku, seluruh tubuhku diliputi sensasi yang siap meledak. Buah dadaku terasa mengeras dan puting susuku menegang ketika sensasi itu kian menguat, membuat tubuhku terlonjak-lonjak di atas tempat tidur. Seluruh tubuhku meledak dalam sensasi, jari-jariku menggengam alas tempat tidur erat-erat, tubuhku bergetar, mengejang, meronta di bawah tekanan tubuh Om Bayu ketika aku mengalami orgasme yang dahsyat. Aku merasakan kenikmatan berdesir dari vaginaku, menghantarkan rasa nikmat ke seluruh tubuhku selama beberapa detik terasa tubuhku melayang-layang dan tak lama kemudian terasa terhempas lemas tak bedaya, tergeletak lemah di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terentang dan kedua kaki terkangkang menjulur di lantai.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat keadaanku Om Bayu makin terangsang, sehingga dengan ganasnya dia mendorong pantatnya menekan pinggulku rapat-rapat, sehingga seluruh batang penisnya terbenam dalam kemaluanku. Aku hanya bisa menggeliat lemah karena setiap tekanan yang dilakukannya, terasa clitorisku tertekan dan tergesek-gesek oleh batang penisnya yang besar dan berurat itu. Hal ini menimbulkan kegelian yang tidak terperikan. Hampir sejam lamanya Om Bayu mempermainkanku sesuka hatinya, dan saat itu pula aku beberapa kali mengalami orgasme dan setiap itu terjadi, selama 1 menit aku merasakan vaginaku berdenyut-denyut dan menghisap kuat penis Om Bayu, sampai akhirnya pada suatu saat Om Bayu berbisik dengan sedikit tertahan, “Ooohh.., Riinn.., Riinn.., aakkuu.., maau.., keluar!, Ooohh.., aahh.., hhmm.., oouuhh!”.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba Om Bayu bangkit dan mengeluarkan penisnya dari vaginaku. Sedetik kemudian, “Ccret.., crett.., crett”, spermanya berloncatan dan tumpah tepat di atas perutku. Tangannya dengan gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang penisnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa.</p>
<p style="text-align:justify;">“aahh..”, Om Bayu mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega. Dibersihkannya sperma yang tumpah di perutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yang masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yang masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum.<br />
“Terima kasih, sayang..”, bisik Om Bayu dengan mesra. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Om Bayu.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang, perasaan-perasan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Om Bayu telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, memang kalau diingat-ingat sebenarnya nikmat juga sih. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Om Bayu, tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya pura-pura ngobrol ke sana-ke mari, sampai akhirnya Om Bayu menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu. Begitulah kisah pengalamanku, ketika pertamakalinya aku merasakan kenikmatan hubungan seks.</p>
<p style="text-align:justify;">TAMAT</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=28&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/19/sepenggal-pengalamanku-yang-menyenangkan-02/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Pengalamanku yang Menyenangkan 01</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/19/pengalamanku-yang-menyenangkan-01/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/19/pengalamanku-yang-menyenangkan-01/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 14:15:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[daun muda]]></category>
		<category><![CDATA[paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing,  seksi dan sintal. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=26&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Namaku Rini, usiaku sekarang 23 tahun, aku bekerja sebagai salah satu karyawati di BUMN besar di Jakarta. Oh ya, kata temen-temen sih aku memiliki wajah yang cantik, dengan rambut sebahu, kulitku kuning langsat, tinggi 163 cm, dengan tubuh yang langsing,  seksi dan <em><a href="http://cerita-panas.info/tante-vida-yang-sintal/">sintal</a></em>. Aku ingin menceritakan pengalaman seksku yang pertama justru dari teman baik ayahku sendiri, peristiwa yang tak kuduga ini terjadi ketika aku baru saja akan masuk kelas 2 SMP, ketika aku masih tinggal di Yogya. Teman ayah itu bernama, Om Bayu dan aku sendiri memanggilnya Om. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Om Bayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku. Om Bayu wajahnya sangat tampan, wajahnya tampak jauh lebih muda dari ayahku, karena memang usianya berbeda agak jauh, usia Om Bayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain tampan, Om Bayu memiliki tubuh yang tinggi tegap, dengan dada yang bidang.<span id="more-26"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kejadian ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena kami dan Om Bayu cukup dekat, maka aku minta kepada orang tuaku untuk menginap saja di rumah Om Bayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Om Bayu sudah menikah, tetapi belum punya anak. Istrinya adalah seorang karyawan perusahaan swasta, sedangkan Om Bayu tidak mempunyai pekerjaan tetap. Dia adalah seorang makelar mobil. Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria, setelah istri Om Bayu pergi ke kantor. Om Bayu sendiri karena katanya tidak ada order untuk mencari mobil, jadi tetap di rumah sambil menunggu telepon kalau-kalau ada langganannya yang mau mencari mobil. Untuk melewatkan waktu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma, atau monopoli, karena memang Om Bayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika suatu hari, setelah makan siang, tiba-tiba Om Bayu berkata kepadaku, “Rin.. kita main dokter-dokteran yuk.., sekalian Rini, Om periksa beneran, mumpung gratis”.<br />
Memang kata ayah dahulu Om Bayu pernah kuliah di fakultas kedokteran, namun putus di tengah jalan karena menikah dan kesulitan biaya kuliah.<br />
“Ayoo..”, sambutku dengan polos tampa curiga.<br />
Kemudian Om Bayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu.<br />
“Nah Rin, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang”.<br />
Mula-mula aku agak ragu-ragu. Tapi setelah melihat mukanya yang bersungguh-sungguh akhirnya aku menurutinya.<br />
“Baik Om”, kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring.<br />
Namun Om Bayu bilang, “Lho.. BH-nya sekalian dibuka dong.., biar Om gampang meriksanya”.<br />
Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal.<br />
“Wah.., kamu memang benar-benar cantik Rin..”, kata Om Bayu.<br />
Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah telentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Om Bayu mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin, lalu Om Bayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Om Bayu mencopot stetoskopnya. Kemudian sambil tersenyum kepadaku, tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.<br />
“Waah.. kulit kamu halus ya, Rin.. Kamu pasti rajin merawatnya”, katanya. Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Om Bayu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian usapan itu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Om Bayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Om Bayu benar-benar terasa lembut, dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya. Lalu Om Bayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih.., baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut, dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Om Bayu menghentikan usapannya. Dan aku kira.. yah, hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tom Bayu bergerak ke arah kakiku.<br />
“Nah.., sekarang Om periksa bagian bawah yah..”, katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja. Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Om Bayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati.<br />
“Ih.., Om kok celana dalam Rini dibuka..?”, kataku dengan gugup.<br />
“Lho.., khan mau diperiksa.., pokoknya Rini tenang aja..”, katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Om Bayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah celana dalamku diloloskan oleh Om Bayu, dia duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Matanya tak berkedip menatap vaginaku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Om Bayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba-raba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hii.., aku jadi merinding rasanya.<br />
“Ooomm..”, suaraku lirih.<br />
“Tenang sayang.., pokoknya nanti kamu merasa nikmat..”, katanya sambil tersenyum.<br />
Om Bayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian, dengan jari telunjuknya yang besar, Om Bayu menggesekkannya ke bibir vaginaku dari bawah ke atas.<br />
“aahh.., Ooomm..”, jeritku lirih.<br />
“Ssstt.., hmm.., nikmat.., kan..?”, katanya.<br />
Mana mampu aku menjawab, malahan Om Bayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin tidak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, menggeliat-geliat ke sana-ke mari.<br />
“Ssstthh.., aahh.., Ooomm.., aahh..”, eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Vaginaku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar sangat terangsang sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Om Bayu merasa puas dengan permainan jarinya, dia menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang belum berpengalaman sama sekali, dengan pikiran yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli, lembut, dan basah. Namun Om Bayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya, Hii.., rasanya jadi makin geli.., apalagi ketika lidah Om Bayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Om Bayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Om Bayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah permainan apa lagi yang akan diperbuatnya pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh.., gila.., tiba-tiba badannya dimundurkan ke bawah dan Om Bayu tengkurap di antara kedua kakiku yang otomatis terkangkang, kepalanya berada tepat di atas kemaluanku dan Om Bayu dengan cepat menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku dipegangnya dan diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Om Bayu. Aku sangat terkejut dan mencoba memberontak, akan tetapi kedua tangannya memegang pahaku dengan kuat, lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Om Bayu mulai menjilati bibir vaginaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“aa.., Ooomm..!”, aku menjerit, walaupun lidah Om Bayu terasa lembut, namun jilatannua itu terasa menyengat vaginaku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Om Bayu yang telah berpengalaman itu, justru menjilati habis-habisan bibir vaginaku, lalu lidahnya masuk ke dalam vaginaku, dan menari-nari di dalam vaginaku. Lidah Om Bayu mengait-ngait ke sana-ke mari menjilat-jilat seluruh dinding vaginaku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, badanku menggeliat-geliat dan terhentak-hentak, sedangkan kedua tanganku mencoba mendorong kepalanya dari kemaluanku. Akan tetapi usahaku itu sia-sia saja, Om Bayu terus melakukan aksinya dengan ganas. Aku hanya bisa menjerit-jerit tidak karuan.</p>
<p style="text-align:justify;">“aahh.., Ooomm.., jaangan.., jaanggann.., teerruskaan.., ituu.., aa.., aaku.., nndaak.., maauu.., geellii.., stoopp.., tahaann.., aahh!”.<br />
Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat ke sana-ke mari antara mau dan tidak biarpun ada perasaan menolak akan tetapi rasa geli, bercampur dengan kenikmatan yang teramat sangat mendominasi seluruh badanku. Om Bayu dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat ke sana-ke mari, namun Om Bayu tetap mendapatkan yang diinginkannya. Jilatan-jilatan Om Bayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, vaginaku sudah benar-benar banjir dibuatnya, hal ini membuat Om Bayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot vaginaku. Cairan lendir vaginaku bahkan disedot Om Bayu habis-habisan. Sedotan Om Bayu di vaginaku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Om Bayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir vaginaku, lalu di sorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Om Bayu, rupanya Om Bayu mengincar clitorisku. Dia menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya clitorisku.<br />
“aahh..”, tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Om Bayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati clitorisku sambil dihisap-hisapnya.<br />
“aa.., Ooomm.., aauuhh.., aahh!”, jeritku semakin menggila. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat sangat, yang ingin keluar dari dalam vaginaku, seperti mau pipis, dan aku tak kuat menahannya, namun Om Bayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot clitorisku dengan kuatnya.<br />
“Ooomm.., aa!”, tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Om Bayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan vaginaku banyak sekali, dan tampaknya Om Bayu tidak menyia-nyiakannya disedotnya vaginaku, dihisapnya seluruh cairan vaginaku. Tulang-tulangku terasa luluh lantak, lalu tubuhku terasa lemas sekali. Aku tergolek lemas.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersambung ke bagian 02</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=26&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/19/pengalamanku-yang-menyenangkan-01/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>gila ML</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/18/gila-ml-2/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/18/gila-ml-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 08:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[daun muda]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Hai, aku adalah Reno (bukan nama sebenarnya). Seorang murid SMU top di Surabaya. Sekarang aku menginjak kelas tiga. Aku adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Walaupun ayah dan ibuku masih “ada”, namun sejak kecil aku biasa hidup seorang diri. Ibu dan kedua adikku hidup di Jakarta. Ayah, apalagi, beliau selalu sibuk dengan bisnisnya di luar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=23&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hai, aku adalah Reno (bukan nama sebenarnya). Seorang murid <span class="caps">SMU</span> top di Surabaya. Sekarang aku menginjak kelas tiga. Aku adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Walaupun ayah dan ibuku masih “ada”, namun sejak kecil aku biasa hidup seorang diri. Ibu dan kedua adikku hidup di Jakarta. Ayah, apalagi, beliau selalu sibuk dengan bisnisnya di luar negri. Aku terpaksa tinggal di Surabaya, karena study, pekerjaan, teman-teman, dan berbagai macam alasan yang tidak dapat kuucapkan satu persatu. Tentunya aku tidak hidup seorang diri… Aku hidup dengan dua pembantu dan satu satpam. Tempat tinggalku, yah, lumayan besar lah.<br />
Terus terang saja, sejak <span class="caps">SMP</span> aku sudah mengenal berbagai macam hal yang berbau seks… Mulai dari gambar-gambar porno, film blue, sampai onani/coli. Aku melakukan hubungan seks pertama kali dengan sepupuku sendiri… Setelah kejadian tersebut, aku semakin gila seks… Hampir tiap minggu aku melakukannya dengan teman cewekku… Aku benar-benar “Gila Gituan”!<br />
Cukup untuk perkenalanku… Sekarang aku akan menceritakan pengalaman seks terbaikku. Kejadiannya terjadi beberapa minggu yang lalu. Pada saat itu aku sedang bersama teman-teman sekelasku untuk perpisahan di Malang. Seluruh murid-murid kelas <span class="caps">II F </span>(kelasku waktu itu) ikut serta dalam kegiatan itu. Tidak hanya itu, wali kelas dan beberapa guru juga ikut. Ceweqku, Yenny, tentunya juga ikut. Perlu saya jelaskan kalau Yenny ini adalah gadis yang sangat gaul. Dia sangat supel, menyenangkan, dan menganut kebebasan. Keadaan fisiknya sangat bagus. Wajah putih bersih, keturunan Indonesia-Cina, rambutnya cukup panjang… Kira-kira sepunggung, bentuk body-nya terbilang oke… Nggak terlalu tinggi, nggak terlalu pendek, nggak gemuk, juga nggak kurus. Beratnya sekitar 47-48 an. Bentuk buah dadanya nggak terlalu mengecewakan untuk ukuran anak <span class="caps">SMU</span>. Aku sendiri sering melakukan hubungan seks dengannya… Dia sangat asyik dan menggairahkan, agresif. Yang paling aku sukai dari tingkah lakunya saat nge-seks adalah teriakannya… Dia biasa teriak-teriak bebas tanpa ada yang disembunyikan… Hal inilah yang selalu menambah nafsu birahiku…<span id="more-23"></span><br />
Kembali ke cerita. Si Yenny ini nggak bisa menginap di Malang, karena ada urusan keluarga. Jadi dia terpaksa pulang pada hari pertama. Aku sangat merasa kesepian saat dia pulang… Aku harus tinggal selama 3 hari tanpa Yenny. Padahal aku sudah merencanakan untuk nge-seks habis-habisan dengannya di Malang. Aku sangat iri sekali melihat kemesraan pasangan teman-temanku. Yang paling “hot” adalah pasangan Arie + Nanda dan Rexy + Sari.<br />
Pada hari kedua, Arie dan Rexy mendatangiku. Mereka berdua mempunyai rencana “gila”… Sangat <span class="caps">GILA</span>! Mereka berdua mengajakku melakukan pesta sex. Yang dimaksud dengan pesta sex ini adalah melakukan hubungan sex rame-rame dan berganti-ganti pasangan dengan dibumbui obat-obat perangsang, minuman, dan musik-musik yang memusingkan kepala. Mereka berdua bahkan sudah memesan kamar disalah satu hotel di Malang. “Udah no, ikut aja… kamu boleh gasak Sari, nanti!” ucap Rexy pada saat itu. Ucapannya serasa membakar kupingku… Panas sekali. Sari adalah cewek yang sangat cantik… Aku sendiri sering membayangkan nge-sex dengannya. “Iya no, ikut aja… Nanda juga online” tambah Arie yang semakin membakar telingaku. Terus terang, aku tidak bisa mundur karena “tertantang”… Namun aku sangat malas melakukan hubungan sexs semacam itu… Ganti-gantinya itu lho, jijik ah… “Eh… Tapi Yenny nggak ada… Aku sama siapa dong?” tanyaku untuk mengelak. Mereka serentak menjawab gampang… “Kamu sama Dhita aja!” kata Arie. “Iya…. Dia kan ngebet banget sama kamu, no!” balas Rexy… Uhhh…<br />
Untuk yang satu ini aku nggak bisa mengelak. Dhita, Anindhita, adalah sahabat karib Yenny. Katanya… Katanya, lho… Dia itu suka sama aku. Tapi gimana, aku kan pacar Yenny… Kita akhirnya temenan aja. Biarpun begitu, aku sering curi-curi kesempatan untuk nge-date sama dia, walaupun nggak sampe nge-sex. Dhita ini nggak kalah kecenya sama Yenny. Terus terang, wajah Yenny lebih unggul. Kulitnya juga putih, maklum, sama-sama keturunan Cina. Rambutnya dipotong sebahu, sedikit lebih pendek dari Yenny. Namun untuk masalah body, Yenny kalah telak. Anindhita punya postur tubuh yang sangat sensual. Mirip Cornellia Agatha lah… Sejujurnya, aku nggak mungkin ngajak Dhita untuk pesta-sex. Namun karena dorongan kedua temanku itu, maka, dengan serta-merta, aku mengajaknya kencan di Bar Hotel, dimana Rexy dan Arie sudah memesan kamar untuk battle-field.<br />
Kejadian itu terjadi pada malam harinya. Dhita langsung setuju<br />
menyambut ajakanku. Maka kami berdua segera berada di Bar hotel, mendengarkan live-music, sambil minum. Aku sengaja memasukkan obat perangsang, yang diberi oleh Arie, kedalam minumannya. Alhasil, reaksi obat tersebut mulai terlihat sekitar seperempat jam setelah Dhita meminumnya. “Aduh, no, perasaanku kok aneh banget ya…” kata Dhita saat itu. “Ah, mungkin kamu kebanyakan minum…” jawabku singkat. “Gimana kalo kamu tiduran dulu sebentar…” kataku polos. Dia segera mengiyakan ajakanku. Akupun segera mengandengnya kekamar yang sudah dipesan Arie dan Rexy… Dhita tidak banyak tanya dan komentar. Ia hanya mendesah-desah pelan bersamaan dengan nafasnya yang semakin memburu. Hal ini sangat mengundang nafsu birahiku. Aku merangkul pundaknya dengan erat sambil jalan, diapun membalas dengan merangkulkan tangannya ke perutku. Kena nih! Kataku dalam hati…<br />
Aku sangat kaget melihat suasana kamar X itu. Ruangannya cukup<br />
besar, ada dua spring bed ukuran double plus satu extra-bed ukuran double dilantai… Cukup besar untuk pesta-sex bertiga. Aroma alkohol dan suara house musik mulai terasa ketika Rexy membukakan pintu untukku. Rexy sendiri sudah “telanjang” bulat saat aku masuk. Aku sempat melihat Arie dan Nanda sedang “main” di salah satu spring bed. Arie sedang berlutut di antara kedua belah paha Nanda. Tangan kirinya menekan perut Nanda, tangan kanannya membimbing kontolnya menuju kemaluan Nanda. Nanda menggelenjing-gelenjing keenakan sambil mengaduh sesekali. Rupanya pesta gila ini sudah dimulai pikirku. Setelah membukakan pintu, Rexy segera menuju kearah Sari yang sedang terlentang disofa. Rexy segera membuka paha Sari, menjilat tempik Sari dengan lahapnya. Sari hanya tertawa geli sambil mengigau. Rupanya Sari telah di”obat” oleh Rexy.<br />
Melihat pemandangan seperti itu ditambah erangan-erangan Dhita, aku menjadi tidak tahan lagi. Seperti kesetanan, kugendong Dhita di extra-bed. Dhita tidak banyak protes, malah semakin mendesah-desah saat aku menidurkannya, rupanya dia benar-benar terangsang oleh pengaruh obat tersebut. Aku segera melepas ikat pinggang Dhita, dan memelorot Jeansnya. Aku sangat bernafsu melihat gundukan kecil ditengah-tengah celana dalamnya. Tanpa pikir panjang, akupun melepas celana dalam Dhita. Terlihat belahan vagina Dhita yang berwarna cokelat kemerah-merahan, jembutnya sedikit dan terlihat baru dicukur. Rupanya dia sangat merawat kemaluannya, sama seperti Yenny. Kubelai kemaluannya, Dhita hanya menggelinjing. “Auh, geli no…” katanya pasrah. Karena tak kuat lagi, aku segera menjilat belahan vaginanya dari bawah keatas. Lalu aku mulai menjilati pahanya yang putih dan sekitar lubang vagina Dhita yang merah dan lembut. Cairan nya mulai mengalir keluar keselangkangannya. Aku segera menjilatnya. Rasanya rada keasinan dan berbau sangat khas, mirip seperti punya Yenny. Dhita hanya tertawa-tawa kecil, sambil berkata “Stop! Stop!”. Mendadak Dhita menjerit kecil ketika lidahku menyentuh klitorisnya. Ia mengerang karena keenakan.<br />
Setelah beberapa saat, aku merasakan kalau badan Dhita mulai mengejang. Vaginanya terasa bercenut-cenut. Tangan Dhita segera menjambak rambutku dan mengacak-acaknya. Tak berapa lama kemudian, mengalirlah cairan putih-kental dari vaginanya. Aku menghisapnya sampai habis. Dhita teriak keras sekali, ia membenamkan wajahku kedalam kemaluannhya, pantatnya diangkat keatas, setinggi mungkin. Beberapa menit kemudian, ia mulai tenang. Dengan nafas tersengal-sengal, ia mencoba untuk duduk. Aku sangat terkejut dan kaget… Takut kalau dia sadar dan marah akan perbuatanku. “No… Fuck me, please…” katanya terbata-bata. Aku lega sekali. Iapun mencopot kaos ketatnya. Kemudian BH-nya. Kedua buah dada Dhita yang sangat indah menyembul keluar saat ia membuka BH-nya. Mataku sampai hampir copot melihat kemolekan tubuhnya… Luar biasa… Pasti ia sering nge-sex. Nggak mungkin ceweq <span class="caps">SMU</span> punya bentuk tubuh sebagus ini, kalo nggak sering dirempon.<br />
Aku pun segera melucuti pakaianku. Tak berapa lama kemudian bibir Dhita sudah aku kulum. Ia membalas dengan sangat ganasnya. Tangan Dhita gak tinggal diam. Digenggamnya kontolku sambil diusap dan dikocok perlahan dengan tangan kirinya. Tangan kanannya pegangin pantatku. Aku juga nggak mau kalah, tangan kiriku menyangga beban tubuhku, sementara tangan yang kanan kuajak buat mendaki dada Dhita. Aku pun segera masukin kontolku yang udah 100 % tegang kedalam tempiknya. Nggak terlalu sulit, mungkin karena cairan dari vagina Dhita yang masih terus mengalir dan kelenturan vaginanya yang kelihatannya emang udah sering dijebol orang. Aku goyang naik turun. Dhita hanya mengerang, mengaduh, dan mendesah. Beberapa saat kemudian, aku merasa kalo peju-ku mau keluar. Aku segera mencopot kontolku dari tempiknya. Lalu kusemprotkan cairan hangat itu keseluruh wajah Dhita. Dhita hanya menjilatinya. Ahhh…. Puas banget!<br />
Akupun merebahkan badanku disebelah Dhita. Badanku lemas… Lalu kurasakan badan Dhita diangkat keatas. Aku segera bangkit untuk melihat apa yang terjadi. Rupanya Arie dan Rexy. Mereka menggotong tubuh Dhita ke atas spring bed. Mereka membalik tubuh Dhita. Dhita mencoba untuk berontak, namun usahanya sia-sia karena ditahan oleh tangan Arie dan Rexy. Sebenarnya aku kasihan banget sama Dhita. Aku tahu dia masih sangat capek. Tapi rupanya Arie dan Rexy udah kerasukan setan. Ari membuka pantat Dhita, dan memasukkan kontolnya lewat anus… Sungguh sadis! Sementara Rexy mencoba memasukkan kontolnya kedalam mulut Dhita… Dhita yang sudah pasrah, tidak mampu berbuat apa-apa, terpaksa menerima perlakuan “kasar” Arie dan Rexy. “Akhhh… Enak sekali!” teriak Arie saat kontolnya masuk kedalam anus Dhita. Dhita tidak mampu mengaduh, karena mulutnya tersumpal kontol Rexy yang sekarang sudah maju-mundur. Aku hanya bisa melihat air mata Dhita yang mulai menetes. Aku merasa kasihan, namun tidak mampu melarang temanku.<br />
Perlakuan Arie dan Rexy terhadap Dhita ini rupanya membangkitkan nafsu sex-ku lagi. Kontolku yang tadi offline, sekarang on dan semakin keras dan kuat. Aku melihat sekeliling, aku melihat Sari sedang terlentang diatas karpet. Dia masih terengah-engah… Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan Rexy terhadapnya. Bagaikan terasuki setan, akupun mendekatinya. Dia terlihat sangat sensual tanpa busana. Kakinya terbuka lebar, tangan kanannya memegang dada, sedangkan tangan kirinya terlentang didekat kepala. Kepala Sari sendiri menghadap kiri, matanya tertutup, mulutnya sedikit terbuka, rambut ikalnya tergerai tidak karuan. Berbeda dengan Dhita, kemaluan sari sangat kecil dan masih terlihat rapat, jembutnya banyak lagi. Body Sari juga nggak sebagus Dhita, dadanya kecil sekali, kaya punya Estella-nya Great Expetation. Walaupun badannya dipenuhi keringat, namun aku masih bisa melihat kecantikannya. Dia jauh lebih cantik dari Dhita, mirip seperti wajah Vonny-nya Bening Bisa kamu bayangkan betapa cantiknya keturunan Manado + Jawa. Akupun mulai jongkok didekatnya. Kubelaikan tanganku dari pahanya sampai pipi. Ia hanya mengerang. Aku semakin bernafsu.<br />
Segera kududukkan dia. Gila, tubuhnya lemas dan basah sekali. Kukulum bibirnya dengan penuh nafsu. Tampaknya ia sangat kecapaian, sehingga tak bisa membalas kecupanku. Bibirnya hangat dan basah. Oh aku benar-benar bergairah. Kembali kutidurkan dia terlentang, kubuka selangkangannya selebar mungkin. Ia mulai mengaduh. “Rex… Sakiit!” katanya. Rupanya Sari mengira aku Rexy… Aku semakin benafsu. Kubuka selangkangannya lebih lebar, ia menjerit. Lalu kumasukkan kontolku kedalam tempiknya. Ia mengaduh keras sekali. Memang sempit… Kepala kontolku aja belum masuk semuanya. Tapi aku nggak ambil pusing lagi. Dengan “kasar” aku masukin aja kontolku… Sulit sekali rasanya… Sari berusaha berontak dengan menendang-nendang, dan memukulkan tangannya kebadanku… Aku semakin bergairah, serasa memperkosa ceweq<img src="http://nainggo.blogsome.com/2008/07/17/gila-ml/%21" border="0" alt="" /> “Oh… Shit… Fuck<img src="http://nainggo.blogsome.com/2008/07/17/gila-ml/%21" border="0" alt="" />” kata-kata itu terus muncul dari mulutnya yang mungil. Karena gemas kukulum mulutnya… Ia pun membalas dengan bernafsu. Badanku kugerakkan maju-mundur dengan pelan. Kubiarkan batang kontolku keluar, lalu kutekan keras kedalam. Sari sepertinya juga sudah menikmati rythmenya. Ia bisa mengimbangi gerakan kontolku dengan memaju-mundurkan tempiknya. Tak berapa lama, ia pun organsme seperti Dhita. Aku terus memompanya… Saat aku tidak tahan, aku mengeluarkan kontolku dan memasukkannya kedalam mulut Sari. Sari hanya mengulum separo dari kontolku. Akupun menembakkan pejuku didalam mulutnya…. Setelah itu aku manjatuhkan diri dan terlentang pasrah sambil narik napas panjang disebelah Sari. Sari sendiri masih terengah-engah. Pandangan matanya menerawang ke langit-langit kamar. Ia menoleh kearahku. “Reno, Trims ya” katanya manis. Aku memeluknya… Samar-samar terdengar jeritan Dhita. Aku dan Sari mencoba untuk melihatnya, rupanya duet sadis Rexy dan Arie berakhir. Tinggal Arie aja yang masih mengenjot Dhita dari atas. Mungkin karena kecapaian, tak terasa kami berdua pun tertidur lelap.<br />
Aku terbangun karena merasakan sesuatu yang menggelikan di kontolku.<br />
Aku mencoba membuka mata, eh, rupanya Nanda sedang asyik menghisap-hisap kontolku yang lagi berdiri dengan gagahnya. Aku melihat sekeliling, rupanya Sari tidur membelakangiku. Dhita dan Arie tidur berpelukan di spring bed. Rexy, mungkin terjatuh, tidur di extra bed. Aku kembali melihat Nanda… Ia tampak asyik sekali mengemut kontolku. Perlu aku jelaskan tentang spesifikasi fisik Nanda. Rambut Nanda cukup panjang, kira-kira sepanjang rambut Yenny. Wajahnya cukup manis, mirip seperti pemeran Cher-nya Clueless yang lagi diputer di <span class="caps">SCTV</span>. Bodynya nggak sebagus Dhita, tapi nggak sestandart Sari. Kulitnya kuning langsat, orang Jawa asli… Aku sangat terangsang oleh perbuatan Nanda. Tanpa sadar akupun menggerakkan kontolku maju-mundur. Nanda kaget dan segera menghentikan emutannya. “Eh, udah bangun ya…” katanya kaget. Aku segera duduk dan melihat wajahnya seksama… Manisss sekaleee<img src="http://nainggo.blogsome.com/2008/07/17/gila-ml/%21" border="0" alt="" /> “Kalo mau gitu, bangunin aku dulu dong.” protesku. “Wah, aku nggak tega… kamu kan habis bertempur sama Sari!” katanya.<br />
Aku hanya tersenyum spontan… Kubelai rambutnya… “Gimana, mau dikerjain?” tanyaku. Ia mengangguk sambil tersenyum.<br />
Kali ini posisi kita lain dengan yang lainnya. Nanda minta agar dia<br />
yang diatas, aku menyanggupinya. Aku tidur terlentang di salah satu spring bed, sementara Nanda mengemut kontolku. Ia tidur tengkurap diatasku, berlawanan arah denganku… Posisi 69. Jadi aku mendapat kesempatan untuk menghisap tempiknya. Tempik nanda sangat indah, warnanya mirip dengan kulitnya, namun agak gelap. Jembutnya pendek-pendek dan tidak selebat Sari… Rupanya ia juga rajin merawat tempiknya. Ia menghisap dan mengemut kontolku dengan ganas, jika aku gamas dalam menghisap tempiknya. Aku menghisap-hisap cairan dari tempiknya, sambil menggigit-gigit klitorisnya. Nanda pun melakukan hal yang nggak kalah serunya. Ia mengulum kontolku penuh, lalu menarik mulutnya, sampai tinggal kepala kontolku saja yang terendam dalam mulutnya, lalu mengulumnya penuh lagi… Mirip nege-sex cuman dilakukan dengan mulut.<br />
Kami organsme hampir bersamaan. Aku menghisap semua cairannya, demikian juga dengan dia. Kira-kira seperempat jam kemudian kami bertempur seru. Aku tidur terlentang, sementara dia yang berada diatasku dengan duduk dan berusaha membenamkan kontolku kedalam memeknya secepat mungkin. Tanganku dan tangannya bergandengan. Suara-suara desahan dan erangan kami berdua mengisi ruangan itu. Nanda adalah ceweq yang terkuat diantara ketiga ceweq lainnya. Dia bisa main sampai tiga ronde. Aku benar-benar kualahan menghadapinya.<br />
Untunglah malam melelahkan itu segera berakhir. kami berenam mandi bersama, aku mandi bareng sama Dhita, Arie dengan Nanda, dan Rexy dengan Sari. Setelah itu kami segera kembali ke Villa tempat perpisahan kami. Siang harinya kam i pulang ke Surabaya… Pesta Sex itu adalah pengalaman saya yang paling hebat dan sensual… Saya tidak pernah membayangkan nge-sex bersama sebelumnya… Saya malah jadi ketagihan. Rencananya, liburan Agustus nanti kami berenam mau melakukannya lagi</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=23&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/18/gila-ml-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nainggo.blogsome.com/2008/07/17/gila-ml/%21" medium="image" />

		<media:content url="http://nainggo.blogsome.com/2008/07/17/gila-ml/%21" medium="image" />

		<media:content url="http://nainggo.blogsome.com/2008/07/17/gila-ml/%21" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Warisan Leluhur &#8211; 1</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/warisan-leluhur-1/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/warisan-leluhur-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:31:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[fun action]]></category>
		<category><![CDATA[imajinasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Pada abad pertengahan di tanah Jawa, terlihatlah berpuluh-puluh tentara Manchuria dari kerajaan Qing (nama kerajaan di China). Mereka membawa obor dan masuk ke dalam sebuah goa. Setelah lama berjalan didalam goa mereka mendengar suara aneh, lalu mereka semua mengeluarkan pedang mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah sinar besar yang menyilaukan mata. Mereka lalu berteriak kesakitan dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=12&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada abad pertengahan di tanah Jawa, terlihatlah berpuluh-puluh tentara Manchuria dari kerajaan Qing (nama kerajaan di China). Mereka membawa obor dan masuk ke dalam sebuah goa. Setelah lama berjalan didalam goa mereka mendengar suara aneh, lalu mereka semua mengeluarkan pedang mereka. Tiba-tiba mereka melihat sebuah sinar besar yang menyilaukan mata. Mereka lalu berteriak kesakitan dan terbantai tanpa mengetahui apa yang terjadi.</p>
<p>*****</p>
<p>Beberapa ratus tahun kemudian, didataran Mongolia, terlihat sebuah desa. Desa itu dikelilingi oleh padang gurun. Beberapa kilometer dari desa itu terlihat beberapa truk dan beberapa orang asing menggali tanah didaerah itu. Salah seorang dari mereka berteriak,</p>
<p>“Berhasil!! Kita menemukannya”<span id="more-12"></span></p>
<p>Semua orang langsung berlari ke arahnya dan menemukan sebuah batu kuno berukiran bahasa Mongolia kuno. Seorang wanita asal Prancis memberikan pria itu sebuah kunci berbentuk kotak dan pria itu memasukan kunci itu ke lobang dari ukiran di batu itu. Tiba-tiba tanah disekitar pria itu terbuka dan ia sendiri jatuh ke dalam tanah. Wanita itu langsung mengeluarkan teleponnya dan menghubungi seseorang, lalu ia pun loncat masuk ke dalam lubang itu. Dengan berbekal lampu senter beberapa orang asing lainnya pun ikut masuk.</p>
<p>Ternyata di dalam tanah itu terbangun sebuah bangunan besar seperti makam untuk raja atau bangsawan. Mereka akhirnya menelusuri lubang itu. Setelah setengah jam berjalan mereka menemukan sebuah peti mati. Seorang pria gendut berasal dari Amerika langsung melempar dinamit dan meledakan peti mati kuno itu. Tengkorak dari peti mati berceceran keluar. Tak lama kemudian terlihatlah peti kecil didalam peti mati itu.</p>
<p>Seorang pria tinggi dan kekar asal Amerika memerintah agar bawahannya mengambil peti itu. Beberapa bawahannya menyentuh peti itu dan tiba-tiba ratusan anak panah melesat keluar dari dindng dan membunuh mereka semua. Setelah anak panah itu habis pria tinggi itu membuka peti itu dan tampaklah sebuah gulungan kertas kuno. Ia lalu mengambil kertas itu dan segera keluar dari lubang itu bersama bawahan lainnya. Sesampainya ia diatas, terlihat ratusan warga membawa kapak dan cangkul menyerangnya.</p>
<p>“Kami tidak akan membiarkan barang pusaka kami dirampas oleh orang asing sepertimu”.</p>
<p>Warga asing itu langsung kabur. Beberapa lama kemudian datanglah helikopter dan menjemput pria tinggi dan wanita Prancis itu. Sedangkan semua bawahan lainnya mati terbunuh.</p>
<p>Kejadian itu tersebar dimana-mana dari televisi hingga ke radio dan polisi tidak sanggup melacak siapa dan dimana pria itu. Begitu mendengar berita di televisi, aku menutup televisi dan pergi mandi. Namaku adalah Adi Santoso. Aku adalah sejarahwan yang mempelajari bahasa kuno seperti bahasa Sansekerta. Aku bekerja di musium Fatahillah di Jakarta. Gajiku kecil dan pekerjaanku hanyalah sebagai satpam. Pihak musium tidak memerlukan penterjemah bahasa kuno.</p>
<p>Pada suatu malam aku pulang kerumah tiba-tiba terlihat seorang wanita bule berdiri di depan pintu rumahku. Tetanggaku semua tersenyum dan saling berbisik-bisik. Aku pun turun dari bajaj dan berkata kepada wanita itu.</p>
<p>“Sorry, I don’t need hooker. Please leave my house”.<br />
Lalu wanita itu menamparku, “I’m here for giving you a new job”</p>
<p>Mendengar bahwa ada pekerjaan baru maka hatiku menjadi senang dan berterima kasih serta meminta maaf sebanyak mungkin. Namun cewek bule itu masih marah dan menyuruhku mengikutinya ke dalam mobilnya. Aku tidak peduli gosip apa yang akan dibuat oleh tetanggaku, demi uang aku masuk ke mobil itu dan diantar sampai ke restoran di hotel Borobudur. Saat aku masuk terlihat seorang bule menantiku. Badannya kekar dan terlihat seperti berumur 40-an.</p>
<p>“Hai, namaku John Wolfgang dari Amerika, senang berkenalan denganmu.”</p>
<p>Aku jadi kaget karena ia dapat berbicara bahasa Indonesia seperti layaknya saya berbicara. Ia pun berbincang-bincang dan menawarkan aku pekerjaan dengan gaji setengah juta per hari. Aku langsung kaget karena gaji itu jauh lebih besar dari gaji lamaku. Ia lalu mengatakan bahwa ia perlu penerjemah bahasa kuno seperti Sansekerta. Aku langsung kaget darimana ia tahu semua hal itu. Lalu akupun menyetujuinya dan ia menyuruhku untuk langsung ikut dia pergi. Aku tidak diijinkan pulang untuk bersiap-siap. Ia hanya berkata bahwa aku mulai kerja dari malam itu juga.</p>
<p>Aku lalu dibawa ke Ancol dan naik ke sebuah kapal besarnya. Baju, makanan semua telah dipersiapkan untukku. Aku langsung bergabung dengan tim yang telah dipersiapkan. Tim ku terdiri dari lima orang. Aku sendiri, seorang pria gendut asal Amerika bernama Tom yang ahli dalam bahan peledak, seorang pria asal korea bernama Sung Yong yang ahli dalam bagian telekomunikasi, seorang wanita asal rusia ber-rambut jabrik dan dicat putih. Ia bernama Nataly. Dan yang terakhir adalah wanita asal Amerika berketurunan Prancis yang menamparku. Ia adalah supervisor dari tim dan tugasnya adalah mengatur tim. Namanya adalah Kelly.</p>
<p>Akhirnya setelah makan malam kami semua kembali kekamar untuk tidur. Kamarku berada tepat disamping kamar Kelly dan saat aku masuk kamar ia melototiku dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu. Aku lalu berpikir, “Kerja dengan supervisor yang membenciku, nasibku memang selalu sial”.</p>
<p>Lalu aku masuk kekamar dan tidur. Pada pagi berikutnya kapal pun mendarat dan timku mulai bergerak. Saya baru sadar bahwa saya sudah berada di Jawa Timur. Setelah John memberikan surat perjalanan kepada polisi setempat akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya kita berjalan sampai ke sebuah hutan. Lalu terlihatlah sebuah candi besar. Lalu kami masuk ke dalam candi itu. Aku menjadi heran karena John hampir tahu semua jalan masuk ke dalam candi.</p>
<p>Setelah beberapa lama ia melihat sebuah obor, lalu ia menuangkan minyak dan menyalakannya. Setelah itu ia mematikan obor itu lalu menyalakannya lagi. Aku menjadi heran apa yang sedang ia lakukan. Setelah ia melakukannya berulang-ulang sebanyak lima kali. Ia mematikan api obor dan memutar obor itu ke bawah. Tiba-tiba dinding rahasia terbuka. Lalu Kelly masuk ke dalam dan mengambil sebuah kotak. Tiba-tiba saat kotak diambil candi itu bergetar dan kami semua lari keluar. Lantai candi itu roboh dan Kelly jatuh ke dalam, namun ia berhasil melempar kotak itu ke Tom dan diselamatkan. Tangan Kelly berusaha memegang erat batu disekitar agar tidak jatuh kebawah lubang, namun gempa yang kuat membuatnya makin terperosot.</p>
<p>Melihat hal itu aku langsung terjun kebawah dan menolongnya. Aku menariknya kuat-kuat ke atas dan berhasil. Pada saat ia naik, tanpa sengaja ia memelukku dan dadanya yang besar montok menekan di dadaku. Otomatis penisku berdiri dan nonjol menyentuh celana jeansnya. Ia merasa sadar dan melihatku. Wajahku langsung berubah merah. Tiba-tiba lantai yang kuinjak roboh dan kami jatuh. Tanganku tanpa sengaja memegang akar tanaman yang kuat. Aku lalu mengendong Kelly dan memanjat akar itu sampai ke atas. Setelah sampai diatas akar tanaman putus dan aku mulai terjatuh bersama Kelly, tapi tiba-tiba tangan John berhasil memegang erat tanganku dan menarik aku dan Kelly ke atas. Kami semua langsung lari dan seluruh Candi itu roboh tenggelam ke dalam tanah.</p>
<p>Lalu John membuka kotak itu dan didalamnya terdapat banyak batu berbentuk persegi panjang dan tipis. Dari batu-batu itu terukir bahasa Sansekerta. Ia lalu menyodorkan batu itu kepadaku. Aku lalu membacanya. Batu itu bertulis bahwa tim kami harus pergi ke Candi Borobudur, maka John tanpa basa-basi memerintah tim kami untuk bergerak ke Borobudur menggunakan jip yang sudah disediakan. Kami pun segera berangkat dan sampai disana hari sudah sore. John lalu menyogok petugas disana agar membiarkan kami masuk. Lalu kami semua masuk ke dalam dan berjalan sampai ke puncak candi.</p>
<p>Lalu aku kembali membaca bahasa Sansekerta dari batu yang kubawa. Dari batu itu tertulis bahwa pintu akan terbuka apabila rambut patung Budha didalam stupa di pegang. John langsung memanjat ke atas stupa besar dan memasukan tangannya ke dalam. Ia berhasil memencet tombol batu dikepala patung dan kemudian sebuah pintu batu terbuka. Lalu kami semua masuk ke dalam dengan seluruh peralatan yang kita bawa. Saat kita masuk pintu batu tertutup kembali. Semakin lama kita masuk semakin besar dan lebar jalan yang kita tempuh.</p>
<p>Beberapa jam kemudian John memerintah kita untuk beristirahat dan membangun kemah. Kami pun membangunnya dan menyiapkan makan malam. Beberapa lampu minyak dan api unggun pun dinyalakan. Kami hampir tidak percaya dengan lubang besar yang dibangun ini. Setelah kami selesai makan malam John menyuruhku membaca lanjutan dari batu kuno itu. Aku membacanya dan ternyata batu itu juga menceritakan kisah jaman Majapahit dimana Raden Wijaya membangun lorong bawah tanah yang besar untuk menyimpan harta dan rahasianya. Batu itu juga menjelaskan bahwa lorong itu sangat panjang dan didirikan selama lebih dari 30 tahun. Semua tim menjadi kaget.</p>
<p>“Sampai kapan kita harus berjalan” tanya Nataly.</p>
<p>Sung Yong pun berkata bahwa gelombang komunikasi terputus karena goa yang dalam ini, sehingga apabila ada bahaya, maka sangatlah tidak mungkin untuk mendapat bantuan dari atas. John berkata bahwa ia tidak akan mundur dan memerintahkan kita untuk beristirahat agar kita bisa melanjutkan perjalanan di esok hari. Maka aku pun masuk ke dalam tendaku. Tak lama kemudian Kelly pun datang dan masuk ke tendaku serta mengagetkanku dari belakang.</p>
<p>“Terima kasih telah menolongku, maaf aku terlalu kasar padamu beberapa hari sebelumnya” katanya.<br />
Aku pun menjawab, “Ah tidak kok, dulu memang kesalahanku”.</p>
<p>Lalu kami pun berbincang-bincang dalam tenda.</p>
<p>Lalu ia pun berkata, “Pada saat aku memelukmu, aku merasa penismu berdiri tegang dan menusukku”.<br />
Aku menjadi malu dan berkata, “Ah, itu hanya ketidak sengajaan.”<br />
Lalu ia merangkak ke depanku dan berkata, “Apakah kau suka padaku”.</p>
<p>Aku sedang duduk dan bersender ke belakang tidak bisa berkata apa-apa. Lalu wajah Kelly makin dekat ke wajahku dan melihat mataku.</p>
<p>“Kau mempunyai mata yang indah katanya”.</p>
<p>Wajahnya hanya 1 cm di depanku. Lalu dia mencium bibirku dan memelukku. Aku pun merangkulnya dan membalas ciuman hangatnya. Dadanya yang montok menempel di dadaku dan ia berbaring di badanku sambil ciuman. Penisku otomatis menegang dan menonjol menusuk celana jeansnya.</p>
<p>Ia lalu tersenyum dan berkata, “Nah kan, nonjol lagi”.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=12&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/warisan-leluhur-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Warisan Leluhur &#8211; 2</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/warisan-leluhur-2/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/warisan-leluhur-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:18:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[fun action]]></category>
		<category><![CDATA[imajinasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Lalu ia membuka celanaku dan menelanjangiku. Ia sendiri juga membuka celana jeansnya dan terlihat celana dalam yang tipis dan kecil berwarna pink. Penisku bertambah berdiri dan dipegang olehnya. “Wah kecil sekali, aku mau lihat yang lebih besar”. Lalu ia membuka bajunya dan kutangnya. Lalu ia merangkulku dan kedua payudara montoknya menempel didadaku. Aku merasa hangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=15&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Lalu ia membuka celanaku dan menelanjangiku. Ia sendiri juga membuka celana jeansnya dan terlihat celana dalam yang tipis dan kecil berwarna pink. Penisku bertambah berdiri dan dipegang olehnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah kecil sekali, aku mau lihat yang lebih besar”.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu ia membuka bajunya dan kutangnya. Lalu ia merangkulku dan kedua payudara montoknya menempel didadaku. Aku merasa hangat dan nikmat karena aku belum pernah melakukan seks sebelumnya, dan seks pertamaku langsung dengan wanita bule ini. Penisku berdiri dan melebar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nah begitu dong” katanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-15"></span>Ia lalu mengulum dan menjilati penisku. Aku merasa nikmat sekali dan memegang rambut panjangnya. Setelah itu aku berbaring dan ia merangkak ke depanku. Payudaranya yang besar menyentuh wajahku dan langsung saja kujilati dan kukunyah. Setelah 20 menit ia berbalik badan dan duduk didadaku. Pantatnya menghadap wajahku, lalu ia membuka celana dalamnya secara pelan-pelan. Penisku langsung bertambah besar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yeah, I know you like it” katanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah celana dalamnya dilepaskan ia langsung mengangkat pantatnya dan duduk diwajahku. Vaginanya licin karena ia sering memotong bulu vaginanya sampai ludes. Aku menjilati vagina dan lubang pantatnya tanpa henti. Setelah lama kemudian ia mengalami kejang dan vaginanya terbuka lebar seperti pintu bendungan, dan air ovumnya pun mengalir deras ke dalam mulutku lalu kuhisap dan kutelan semuanya. Setelah itu ia membalikan badannya dan duduk diselangkaanku. Ia lalu memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan bergerak liar bagaikan menunggang kuda liar di texas. Penisku terpijat dan tertarik kesana kemari.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami mendesah keras, “Ah.. Ah.. Uh.. Uh..”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia lalu memerintahkan agar aku ikut bergoyang agar percumbuan itu terasa lebih nikmat. Aku pun menggoyangkan pantat ku dan kedua tanganku memeras payudara montoknya. Ia lalu bergerak lebih liar lagi dan menamparku berulang-ulang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Come on, Why are you so weak? You can do it better.”</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya aku mencapai tahap orgasme dan spermaku muncrat semuanya. Ia lalu menjilati dan menghisap semua spermaku. Setelah itu pipiku semua merah akibat tamparan sadisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian kami memakai baju dan ia merangkak keluar dari tenda. Tiba-tiba terdengarlah suara tepuk tangan dan sorak sorai dari luar tenda. Ternyata semua timku menyaksikan bayangan ku dan Kelly dalam bercinta. Kelly pun bersorak, “Hore.. Yey..” lalu ia menarikku keluar, namun aku enggan karena malu. Akhirnya setelah lama aku pun keluar dan semua orang bersorak padaku. Aku menjadi malu dan mukaku semua merah. Aku hanya bisa tersenyum saja, dan semua timku tertawa melihat gayaku. Lalu kami semua kembali tidur untuk perjalanan di esok hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa jam kemudian aku dibangunkan oleh John, atasanku. Aku melihat langit masih gelap, namun John berkata bahwa hari sudah pagi. Ternyata aku lupa kalau kami berada didalam goa. Jam alarm John berbunyi mempertandakan hari sudah jam 8 pagi. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan sampai jam 8 malam. Tiba-tiba Tom menginjak sebuah tulang, lalu kami meneliti tulang tengkorak itu, dan terlihatlah bendera dan perlengkapan baju besi dari kerajaan Manchuria di China. Ternyata pada jaman dulu raja Manchuria dari China mengetahui rahasia Raden Wijaya dari Majapahit sehingga menugaskan tentaranya untuk merampas harta itu. Namun malang dan semua tentara terbunuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelly yang memiliki pengetahuan kedokteran meneliti tulang-tulang itu dan terlihat tulang berwarna unggu disetiap tentara yang berarti mereka semua keracunan. Tiba-tiba terdengar suara aneh ke arah mereka dari belakang. Saat disenter terlihat ratusan kalajenking berwarna biru kehijauan menyerbu ke arah kami dengan sangat cepat. Timku langsung lari terbirit-birit namun badan Tom kegendutan sehingga ia tidak bisa berlari cepat dan menjadi target utama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sekejap badan dia diselimuti kalajengking. Ia lalu memerintah kami untuk kabur dan ia menyalakan semua dinamitnya sekaligus. Lalu terjadilah ledakan besar dan meruntuhkan dinding goa. Dinding goa itu runtuh semua dan memblokir jalan kita untuk kembali, namun hal itu ada baiknya juga karena kalajengking beracun itu juga tidak bisa lewat. Maka kami meneruskan perjalanan dan menghargai keberanian Tom. Lalu kami berjalan beberapa jam dan mendirikan tenda untuk beristirahat.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada malam harinya setelah kami merasa kenyang dan tidur, aku berjalan keluar tenda sendirian untuk kencing. Setelah selesai kencing aku melihat sebuah sinar dari balik batu, maka aku pergi kesana dan mengintip. Terlihatlah Kelly dan Nataly melakukan seks. Ternyata mereka juga sanggup melakukan lesbian. Saat aku ke mengintip mereka berdua sudah telanjang semua. Terlihat Nataly sedang menjilati vagina dan pantat Kelly. Mereka melakukan posisi 69. Kelly juga menjilat vagina dan pantat Nataly dengan tidak kalah ganasnya. Setelah agak lama melakukan hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka langsung duduk dan saling berhadapan. Lalu mereka saling memeluk dan berciuman secara ganas. Dada mereka berdua saling beradu dan bergesek. Setelah hal itu dilakukan selama setengah jam lalu Kelly tiduran dilantai dan Nataly menduduki vaginanya. Lalu vagina Nataly digesek-gesekan ke vagina Kelly, dan mereka berdua mendesah keras. Lalu Nataly merangkak ke depan dan mengesek-gesekan payudaranya ke payudara Kelly. Kedua wanita itu saling mengesek-gesekan payudara dan vagina mereka ke lawannya masing-masing. Aku tidak tahan lagi melihat hal itu dan terselip jatuh dari atas batu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka berdua kaget dan mempelototiku, setelah itu mereka saling berpandangan dan tersenyum. Setelah itu mereka lalu berjalan ke arahku dan menelanjangiku. Kelly langsung menciumku dan lidahnya mengaduk-aduk lidahku. Sedangkan Nataly menjilati penisku tanpa ampun. Dada Kelly menempel erat didadaku. Setelah itu Nataly bangun dan duduk diwajahku. Aku lalu menjilati vaginanya yang sudah basah itu. Kelly langsung mencumbui penisku dan mereka berdua duduk diatas badanku yang terbaring dilantai. Setelah itu Mereka berdua bangun dan ganti posisi. Pantat Nataly dinunggingkan dan penisku masuk mencumbui pantatnya. Kelly tiduran terlentang di punggung Nataly dan menyodorkan pantatnya agar kujilat.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah 20 menit Kelly bangun dari punggung Nataly, dan giliranku yang tiduran dipunggungnya. Lalu aku meremas payudara Nataly. Penisku masih mencumbui pantat Nataly. Kepala Nataly-pun dimiringkan setengah ke atas agar kami bisa berciuman. Kelly tidur diatas punggungku dan kedua buah payudaranya menempel dipunggungku. Aku benar-benar merasa nikmat karena dipijit seperti roti hamburger. Kami bertiga berdesah keras dan akhirnya mengalami orgasme keras. Spermaku disemprotkan ke dalam pantat Nataly. Setelah itu kami semua berpakaian dan Nataly duduk diatas batu dan merokok.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba sebuah benda tajam besar datang menembus perut Nataly dan mengangkatnya ke atas. Kelly langsung berteriak dan aku menyenter batu itu. Ternyata Nataly duduk diatas seekor kalajengking berukuran raksasa berwarna biru kehijauan. Ternyata itu adalah ratu kalajengking beracun. Nataly pun mati kesakitan. Aku membawa Kelly kabur bersama John dan Sung Yung. Kalajengking itu tidak mengejar kami karena ia sudah mempunyai makanan sendiri. Setelah lama kami berlari akhirnya kami kelelahan dan beristirahat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dikeesokan harinya kami melanjutkan perjalanan dan kali ini kami menemukan sebuah batu dan ada kotak kecil diatasnya. Aku membaca batu bertulisan Sansekerta yang kubawa dan ternyata kami sudah sampai ditempat tujuan. John langsung mengeluarkan pistol dan membunuh Sung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Terima kasih sekarang tugas kalian sudah habis”.</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata aku baru sadar bahwa John lebih mengetahui rahasia harta itu dari siapapun. Harta itu adalah sebuah keris keramat yang digunakan oleh Raden Wijaya sepanjang hidupnya. Barang siapa yang memiliki keris itu akan menjadi penguasa dan negaranya akan kuat dan hebat. John berusaha untuk memiliki keris itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menjadi marah karena aku tidak mau barang warisan dari leluhurku dirampas oleh orang munafik dan serakah. Maka aku melempar batu dan mengenai kepala John. Kelly lari ke arah John dan menusuk perutnya. John kesakitan dan menembaki Kelly tepat dikepalanya. Kelly pun meninggal. Aku langsung menyerang dan mendorong John hingga jatuh, namun badannya yang besar melemparku dan tanpa sengaja aku menabrak tombol batu yang besar didinding. Tiba-tiba langit dinding goa terbuka dan terlihatlah jalan keluar. Aku segera lari ke arah itu dan John melepaskan tembakan. Beberapa saat kemudian John berpaling kebelakang dan terlihatlah kalanjengking raksasa yang kemarin malam. John ketakutan dan tidak bisa kabur. Ia dimakan oleh kalajengking itu. Sedangkan aku berhasil lari. Namun kalajengking itu mengejarku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak lama kemudian aku melihat ada air bah datang dari depan. Kalajengking raksasa itu ketakutan dan kabur. Aku menahan air itu dan berusaha berenang menyelusurinya. Setelah sekian lama aku menemukan jalan keluar, namun aku berada didalam laut. Lalu akupun berenang keluar. Aku berusaha menahan napas dan berenang sekuat tenaga untuk keluar dari air, telingaku sakit sekali dan hampir mengeluarkan darah. Aku berusaha memejam mataku dan berenang terus-terusan ke atas. Akhirnya aku muncul dipelabuhan dan para nelayan memarahiku karena ikan mereka semua kabur karenaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku lalu naik ke atas dan berdiri. Terlihat tulisan besar perkampungan Nelayan di depanku. Lalu aku melihat ke sebelah kanan, dan dari jauh ada gerbang besar bertulisan, ‘Selamat datang di Pantai indah Kapuk’. Ternyata aku telah kembali berada di Jakarta Utara. Lalu aku mengeringkan badanku dan naik bajaj pulang ke rumah. Beberapa tetangga menanyaiku,</p>
<p style="text-align:justify;">“Pergi kemana selama beberapa hari ini? Enak enggak pergi sama wanita bule?”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku baru sadar kalau tidak ada orang yang tahu apa yang terjadi. Aku lalu kembali ke kamarku dan melamun. Aku hampir tidak percaya pengalaman yang ke alami. Namun aku akan merahasiakan hal ini agar warisan leluhurku tidak jatuh ke tangan yang salah. Tetangga dan teman-temanku boleh melecehkanku namun mereka juga tidak akan percaya kalau aku baru saja menyelamatkan warisan nenek moyang kita dari tangan orang asing. Dalam hati aku kagum pada nenek moyang kita yang membangun jalan rahasia itu dari candi borobudur sampai ke pelabuhan Tanjung Priok.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=15&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/warisan-leluhur-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Marshanda</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/marshanda/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/marshanda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:02:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[fun action]]></category>
		<category><![CDATA[imajinasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Masih inget kasus Marshanda versus Multivision Plus beberapa tahun lalu?!! Kisah berikut ini merupakan kisah rekaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi antara Marshanda dan bekas PH yang menaunginya. Jadi silahkan anda nikmati kisah yang lahir dari pikran-pikiran kotor sang penulis berdasarkan sumber-sumber yang sama sekali tidak dapat dipercaya he… he… he… So the story begins…… [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=9&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Masih inget kasus Marshanda versus Multivision Plus beberapa tahun lalu?!! Kisah berikut ini merupakan kisah rekaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi antara Marshanda dan bekas PH yang menaunginya. Jadi silahkan anda nikmati kisah yang lahir dari pikran-pikiran kotor sang penulis berdasarkan sumber-sumber yang sama sekali tidak dapat dipercaya he… he… he…</p>
<p style="text-align:justify;">So the story begins……</p>
<p style="text-align:justify;">“CUT…CUT….Nice work everyone. Syuting hari ini sampai disini. Terima kasih. Besok kita ketemu lagi di set yang berikutnya OK.”, kata sang sutradara yang segera disambut meriah oleh seluruh artis dan krew film yang terlibat.<span id="more-9"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda yang menjadi pemeran utama dalam syuting sinetron Bidadari itu pun bernafas lega. Gadis remaja yang cantik itu mengusap peluh yang sedikit membasahi peluhnya. Marshanda duduk beristirahat di bangkunya sambil menikmati es jeruk, melepas lelah setelah syuting seharian mulai dari waktu pulang sekolah. Tas sekolah pun masih dia bawa, bahkan Marshanda pergi ketempat syuting masih mengenakan seragam sekolahnya. Hhmmm siapa bilang jadi artis itu gampang? Capeknya gak kalah sama kerja lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Cha, kamu gak dijemput mama kamu?”, tanya sang sutradara pada artis belia itu.<br />
“Nggak, Oom. Mama sama keluarga yang lainnya lagi ketempat nenek. Kemarin ada telpon katanya nenek Chacha sakit.”, jawab Marshanda.<br />
“Oooh, tapi nenek kamu nggak apa-apa khan?”<br />
“Nggak apa-apa sih Oom. Paling cuma masuk angin atau apalah. Biasanya kalo kangen sama keluarganya, nenek suka sakit, biar ditengokin. Ntar kalo semua udah ngumpul disana, sakitnya sembuh deh.”<br />
“Itu mah kangen keluarga, bukannya sakit. Ya, udah biar kamu pulang diantar sama Raj Kumar aja. Biar dia nggak cuma makan gaji buta aja.”<br />
“Oh nggak usah Oom. Biar Chacha naik taksi aja.”<br />
“Eh, jangan. Sekarang khan udah malem. Bahaya buat kamu naik taksi sendirian malem-malem gini di Jakarta. Udah biar si Kumar yang nganter kamu. HOOII KUMAR…. SINI LOE.”</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang laki-laki setengah baya berbadan tinggi besar segera berlari menghampiri Marshanda dan sutradara. Laki-laki itu keturunan India, maklum masih ada hubungan saudara sama pemilik PH, Ram Punjabi. Bahkan karena hubungan keluarga itulah, Raj Kumar bisa bekerja disini. Tanpa skill atau pengetahuan apapun di bidang perfilman, Raj Kumar pun ditempatkan di seksi umum dengan job deskription yang serabutan, sekedar bantu sana bantu sini.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda agak kurang suka sama lelaki yang satu ini. Nggak bisa apa-apa tapi sok banget. Crew lain pun juga nggak suka. Nggak bisa apa-apa, tapi gayanya sok banget.Untungnya dia masih ada hubungan saudara sama si Boss, jadi krew lain nggak berani negor tingkahnya. Selain itu Marshanda suka serem kalo ngeliat dia. Badan tinggi besar, berowokan, tangan dan kakinya penuh bulu, sepintas mengingatkan Marshanda akan Gorilla raksasa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ada apa nih? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Raj Kumar dengan mata jelalatan melihat Marshanda, gadis remaja yang cantik yang sering kali menghiasi pikiran dan khayalan kotornya.<br />
“Eh, kamu tolong antar Chacha pulang kerumahnya ya. Dia nggak ada yang jemput soalnya semua keluarganya lagi pergi kerumah neneknya.”<br />
“Eh… gak usah Oom. Terima kasih. Biar chacha pulang naik taksi aja.”, tolak Marshanda.<br />
“Udah biar Oom Kumar aja yang ngantar kamu. Bahaya naek taksi malem-malem gini. Oom nggak keberatan kok.”, jawab Raj Kumar.<br />
“Iya Cha. Sekarang biar si Kumar yang nganter kamu. Entar kalo kamu naek taksi, trus ada apa-apa, saya yang disalahkan sama keluarga kamu.”, imbuh sang sutradara.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya dengan agak berat hati, Marshanda pun meng-iyakan tawaran tersebut. Marshanda pun segera naik ke mobil Raj Kumar, dan mobil itu pun segera berlalu dari lokasi syuting.</p>
<p style="text-align:justify;">………………….</p>
<p style="text-align:justify;">“Capek ya Cha? Gimana kalo kita makan-makan dulu? Oom tahu restoran yang masakannya enak banget.”, tanya Raj Kumar sambil tersenyum. (Senyum menjijikkan pikir Marshanda)<br />
“Nggak usah Oom. Terima kasih. Tapi Chacha nggak laper. Anterin Chacha pulang aja.”, tolak Marshanda.<br />
“Ooohhh…. ya udah deh. Eh kamu udah dapet skenario yang buat besok nggak?”<br />
“Udah Oom.”<br />
“Kapan kamu dikasih skenario itu?”<br />
“Kemaren lusa. Mbak Lusi yang ngasih.”<br />
“Lho kemaren lusa?? Kamu nggak denger kalo skenarionya ada perubahan. Kemaren si penulis naskah mengganti sebagian dialognya. Kalo skenario yang kamu punya itu dikasih kemaren lusa berarti itu skenario yang lama, bukan yang udah direvisi kemaren.”<br />
“Eh, masa sih. Kok nggak ada yang ngasih tau Chacha sih?”<br />
“Mungkin Lusi lupa ngasih ke kamu. Tadi dia kan nggak masuk. Oh ya Oom punya copiannya di rumah. Kamu bawa aja.”<br />
Marshanda agak ragu nge-jawabnya. Dia butuh skrip yang baru, tp artinya dia harus kerumah orang ini dulu. Entah kenapa Marshanda merasa gak enak harus kerumah Raj Kumar.<br />
“Besok kita langsung syuting setelah loe pulang sekolah. Kalo kamu nggak baca skrip yang baru sekarang, ntar kamu nggak bisa menjiwai karakter kamu lho. Kita mampir sebentar ke rumah oom buat ngambil skrip itu, trus Oom langsung antar kamu puloang. Gimana?”<br />
“Eeng…Iya deh. Tapi nanti langsung antar Chacha pulang ya? Takut kemaleman.”<br />
“Iya, kamu tenang aja.”, jawab Raj Kumar sambil tersenyum mencurigakan.</p>
<p style="text-align:justify;">…………………….</p>
<p style="text-align:justify;">Mobil Raj Kumar akhirnya memasuki halaman parkir sebuah rumah yang cukup mewah di salah satu kawasan perumahan elit di jakarta. Raj Kumar segera turun dari mobil, lalu mengajak Marshanda masuk kerumahnya. Dia meminta Marshanda untuk membantu mencari naskah itu karena dia menaruhnya diantara tumpukan berkas yang lain. Marshanda pun mengikuti ajakan Raj Kumar. Lebih cepat urusan ini diselesaikan. Lebih baik pikir Marshanda dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sini, Cha. Skripnya ada di sini. Kamu cari aja di tumpukan kertas di meja itu. Oom mau ke kamar dulu.<br />
Marshanda memasuki ruangan yang keliatannya seperti ruang menonton televisi atau film. Fasilitas Home Theatre terlihat di satu sisi kamar. Di sisi lainnya ada sofa besar. Di sebelah sofa itu, ada meja yang diatasnya ada tumpukan kertas yang berantakan. Marshanda segera menghampiri meja itu dan mulai mencari skrip baru yang dibutuhkannya. Sedangkan Raj Kumar pergi ke kamarnya yang terletak di sebelah ruangan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah ketemu Cha?”, tanya Raj Kumar.<br />
“Belum, Oom. Dimana sih Oom nar….”, jawaban Marshanda terhenti setelah memperhatikan keadaaan sekitarnya. Dia melihat Raj Kumar duduk di sofa besar itu dengan mengenakan piyama. Gelagat tidak enak segera menyergap pikiran Marshanda. Dia segera beranjak menghampiri pintu ruangan itu yang sekarang dalam keadaan tertutup. Marshanda mencoba membuka pintu, tapi tak berhasil. Pintu itu terkunci. Rasa takut segera memenuhi perasaan Marshanda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Chacha mau pulang Oom. Tolong oom bukain pintunya. Chacha mau pulang. Sekarang.”<br />
“He…he…he…Kenapa buru-buru Cha? Kita santai aja disini dulu.”, jawab Raj Kumar sambil bergerak perlahan mendekati gadis remaja yang ketakutan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar perlahan mendekati Marshanda. Langkahnya perlahan tapi pasti, membuat Marshanda tak bisa bergerak melarikan diri. Marshanda seperti kelinci mungil yang ketakutan menghadapi hewan buas yang akan memangsanya. Senyum Raj Kumar makin melebar melihat calon mangsanya itu, gadis belia cantik yang sering menghinggapi mimpi-mimpi kotornya. Dan tak lama lagi segala angan-angan kotornya itu akan terwujud.</p>
<p style="text-align:justify;">“Chacha mau pulang Oom. TOLONG…TOLONG…..”, teriak Marshanda. Kepanikan mulai melanda dirinya. Tangannya berusaha membuka kenop pintu, tapi pintu itu tetap tak mau terbuka.<br />
“Percuma saja kamu teriak terus. Hanya bikin bibir kamu yang indah jadi capek he..he… Ini ruang Home Theathre yang sengaja dilapisi peredam suara. Jadi walaupun kamu teriak sekenceng-kencengnya, kagak bakalan ada yang denger.”, kata Raj Kumar sambil berusaha memeluk tubuh Marshanda.<br />
“Eeh…i..ini.. Oom mau apa? le..lepasin Chacha Oom. Lepas.. uukh..lepasin Chacha Oom”, rengek Marshanda.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda berusaha memberontak dari dekapan Raj Kumar. Tapi apalah daya tenaga seorang gadis melawan raksasa ini. Airmata mulai menggenangi mata bintang artis remaja itu. Walaupun Marshanda masih remaja dan belum pernah pacaran tapi dia tahu betul nasib apa yang akan menimpa dirinya. Sepasang tangan berbulu lelaki India itu segera memegang kedua tangan Marshanda. Tangan Marshanda kemudian ditelikung dibelakang punggungnya sendiri, lalu diikat dengan sapu tangan yang agaknya sudah dipersiapkan Raj Kumar untuk menjalankan aksinya. Kemudian Raj Kumar membopong tubuh Marshanda lalu diletakkan di sofa besar yang ada di ruangan itu. Raj Kumar lalu duduk juga disamping Marshanda yang mulai menangis meminta dilepaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hiks..hiiks… tolong lepasin Chacha Oom. Ka..kalo Oom mau uang, berapa saja nanti Chacha kasih, tapi hiks.. tolong lepasin Chacha Oom.”<br />
“Aku sama sekali gak butuh uang, sayang. Kalo butuh uang, aku tinggal minta sama bos kamu, saudaraku yang tercinta itu. Yang aku butuhkan adalah hangatnya tubuh indah kamu, anak manis he.. he… he….”</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil terkekeh girang, Raj Kumar mulai menjalankan aksinya. Salah satu kakinya ditumpangkan ke atas paha Marshanda agar gadis itu tak bisa bangun dari sofa. Salah satu tangannya merangkul tubuh gadis belia itu agar tetap bersandar di bantalan sofa. Sehingga tangan yang lainnya bisa bebas membuka kancing seragam sekolah yang dikenakan Marshanda. Tampaknya hari itu memang hari keberuntungan Raj Kumar karena Marshanda hari itu mengenakan beha dengan pengait pembuka di bagian depan. Jemari Raj Kumar pun langsung membuka pengait beha chacha hingga tubuh bagian depan artis remaja itu kini terbuka bebas di depan mata Raj Kumar yang seperti keranjang ( emang laki-laki mata keranjang itu matanya kaya keranjang ya he he he ).</p>
<p style="text-align:justify;">Mata Raj Kumar pun semakin bersinar penuh nafsu saat melihat payudara artis belia yang cantik itu. Payudara Marshanda memang masih kecil mengingat usianya yang remaja. Tapi hal itu tak mengurangi keindahannya. Kencang dengan putting coklat muda yang terlihat menantang. Bibir Raj Kumar pun segera melahap payudara mungil itu. Putingnya ia permainkan dengan ujung lidah, sesekali bahkan dihisap dengan kuat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Huu..huu..jangan Oom. Lepasin Chacha Oom hu.. hu.. Chacha gak ma….uukh…”</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda masih menangis. Dia benci dengan lelaki jahanam ini. Sebelumnya belum pernah ada laki-laki yang melihat dada telanjangnya. Bajingan ini bahkan dengan kurang ajarnya berani mempermainkannya dengan mulutnya. Pada mulanya Marshanda hanya merasa jijik atas perlakuan Raj Kumar di payudaranya itu. Dia hanya merasa agak geli. Tapi lama-lama rasa geli itu mengakibatkan sesuatu yang lain dirasakan oleh Marshanda. Jilatan-jilatan lidah kasar Raj Kumar yang menyapu seluruh bagian buah dadanya itu terutama di putingnya, hisapan bibirnya yang kuat seakan menarik putingnya, serta cambang dan kumis Raj Kumar yang bergesekan dengan kulit payudaranya yang sensitif itu, lambat laun menimbulkan sensasi lain yang belum pernah dirasakan Marshanda. Desah kenikmatan mulai muncul di sela-sela tangisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hentikan Oom… aahh.. ja…sstt..jangan Oom ….”</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar desahan Marshanda, Raj Kumar pun tambah bersemangat. Tangannya mulai bergerilya, membelai paha mulus artis remaja itu di balik rok seragam sekolahnya. Bahkan tangannya mulai nakal mengusap vagina Marshanda yang masih tertutup celana dalam. Raj Kumar pun menyeringai senang saat dia rasakan kelembapan pada celana dalam gadis cantik itu, yang menandakan gejolak birahi yang mulai menghinggapi korbannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“He..he..he.. Enak khan Cha. Kamu jangan nangis. Oom nggak akan menyakiti kamu. Oom hanya mau memberikan kenikmatan sama kamu. Dan sebentar lagi kamu akan merasa lebih nikmat ha…ha…ha…”</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar pun segera melucuti celana dalam Marshanda, dan dia pun segera terpana melihat keindahan yang ada di depan matanya. Vagina Marshanda masih tampak rapat hingga tanpa memeriksa selaput dara didalamnya, Raj Kumar sudah tahu kalau artis remaja ini masih perawan. Vagina itu baru ditumbuhi bulu-bulu halus yang lembut dan tertata rapi.</p>
<p style="text-align:justify;">Airmata Marshanda masih menetes meratapi nasib yang dia tahu akan menimpa dirinya. Rasa jengah dan malu juga menghinggapi dirinya ketika harta yang selama ini dijaganya kini menjadi tontonan bajingan ini. Tiba-tiba …..</p>
<p style="text-align:justify;">“Uuugh…. sst… stop Oom. Aah.. anu Chacha om apa… in aaah…”</p>
<p style="text-align:justify;">Artis remaja itu tiba-tiba tersentak, tubuhnya menggeliat, ketika bibir Raj Kumar mulai menjilati vaginanya. Sensasi ini baru pertama kalinya dirasakan Marshanda. Marshanda hanya merasakan kegelian di selangkangannya, bukan hanya rasa geli biasa tapi rasa geli yang mengirimkan getaran-getaran birahi ke seluruh syaraf tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar tambah bersemangat meneruskan aksinya. Lidahnya yang besar dan kasar dengan lincah menelusuri lorong-lorong vagina gadis remaja itu. Clitoris mungil Marshanda pun tak luput dari sergapan lidahnya, bahkan terkadang dihisapnya kuat sampai tubuh Marshanda mengejang. Tapi kedua tangan Raj Kumar memegangi kedua paha Marshanda sehingga dia dapat meneruskan aksinya tanpa terganggu rontaan gadis belia itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaahh…ampun Oom Ja..aahh.. jangan diterusin Oom. Chacha nggak kuat aahh..”<br />
“Ha..ha..ha… kamu nggak usah pura-pura cantik, kamu pasti merasa nikmat. Kamu suka kalo Oom jilatin memiaw kamu, hisapin itil kamu sampai kamu mendesah nggak karuan ha..ha…”<br />
“Nggak. Aahh… Chacha nggak suka. Sstt…. ja..jangan diterusin Oom. AAAHHH…….”</p>
<p style="text-align:justify;">Tubuh gadis remaja itu mengejang hebat ketika orgasme pertama dalam hidupnya dirasakannya. Raj Kumar dengan rakus menjilati cairan kenikmatan yang mengalir dari lubang surga Marshanda.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda memejamkan matanya. Tubuhnya lemas setelah mengalami orgasme pertama kali dalam hidupnya. “Inikah kenikmatan seks itu?”, pikir Marshanda. Tapi dibalik rasa nikmat yang baru saja dirasakannya, terselip perasaan sesal, marah dan malu. Marshanda malu dan marah pada dirinya, bagaimana dia bisa merasakan kenikmatan padahal dia sedang diperkosa.<br />
Tiba-tiba Marshanda merasakan ada benda hangat yang menggesek permukaan vaginanya. Mulanya Marshanda membiarkannya karena gesekan-gesekan itu mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan di tubuhnya apalagi saat benda hangat itu juga menggesek clitorisnya. Tapi ketika Chacha merasakan benda hangat itu mulai mencoba menerobos masuk liang vaginanya dia pun membuka matanya. Dia melihat Raj Kumar mencoba memasukkan penisnya ke dalam liang vaginanya. Marshanda kaget dan takut, bagaimana bisa penis raksasa yang besarnya hampir menyamai pergelangan tangan Marshanda itu mau dimasukkan ke dalam vaginanya yang kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">“JA..JANGAN OOM. SAKIIT.. AAKHH.. JANGAN OOM.”<br />
“He.. he… he.. tenang saja manis. Pertamanya memang agak sakit, tapi lama-lama nanti kamu pasti menikmatinya dan minta lagi he.. he… he…”</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda menjerit kesakitan, vaginanya terasa perih dan panas ketika benda raksasa itu memaksa masuk ke liang vaginanya. Raj Kumar tak memperdulikan jeritan Marshanda, dia terus memaksakan kepala penisnya masuk ke belahan vagina yang indah itu. Setelah kepala penisnya sudah memasuki liang vagina Marshanda, Raj Kumar berhenti sejenak. Dia melakukan ini agar vagina yang perawan itu agak terbiasa dengan benda asing di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uughh, memiaw kamu sempit banget Cha. Enaaakkk he…he…he…”<br />
“Hiks… keluarin Oom. Sakit… aakhh….”</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar segera melumat bibir Marshanda agar rengekannya terhenti. Tangannya mulai lagi meremas kedua payudara Artis remaja itu. Kedua putingnya dia permainkan dengan jari-jarinya yang lincah. Raj Kumar mulai melakukan gerakan memompa kecil-kecil dan perlahan, tapi dia tetap menjaga agar penisnya tidak menerobos selaput Marshanda. Raj Kumar ingin agar memiaw Marshanda yang sempit itu terbiasa dulu dengan penisnya, sehingga nanti saat dia memperawani artis belia itu, Marshanda tidak merasa terlalu sakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda menangis tanpa suara. Suara tangisnya tertahan karena bibirnya dilumat bibir Raj Kumar dengan ganas. Lidah Raj Kumar dengan liar menjelajahi mulutnya. Pada mulanya Marshanda hanya merasakan vaginanya perih dan panas ketika penis Raj Kumar mulai melakukan gerakan memompa dengan perlahan. Tapi lama-lama disamping rasa perih yang semakin memudar karena otot vaginanya mulai agak terbiasa, Marshanda juga merasakan kenikmatan karena penis Raj Kumar menggesek-gesek klitorisnya. Dinding vaginanya yang dengan ketat menjepit penis raksasa itu juga mengirim sinyal-sinyal kenikmatan karena gerakan Raj Kumar itu. Putingnya yang dipermainkan Raj Kumar seakan tak mau kalah, memberikan rangsangan yang semakin meningkatkan birahi artis remaja itu. Disamping perasaan marah, sedih, dan malu yang melanda dirinya, Marshanda juga merasa sedikit lega karena perbuatan Raj Kumar itu membuat vaginanya mulai mengeluarkan cairan kenikmatan lagi yang mengurangi rasa perih dan panas yang dirasakannya. Tapi tiba-tiba…..</p>
<p style="text-align:justify;">“AAAKKKHHH……. SAAKKIIT……. ADUUHH……”</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda menjerit kesakitan ketika Raj Kumar memaksa penisnya menerobos selaput dara gadis belia itu. Raj Kumar memaksakan penisnya masuk dalam satu gerakan sampai mentok. Dia melihat masih ada sedikit bagian penisnya yang tidak bisa masuk. Dia mendiamkan dulu gerakan memompanya agar vagina Marshanda terbiasa. Bibirnya kembali melumat bibir ranum artis remaja itu agar teriakannya tak terdengar. Selain itu Raj Kumar sengaja tidak melakukan apa-apa karena dia tidak mau keluar lebih dulu, karena saat dia mengambil keperawanan Marshanda, otot vaginanya menjepit penisnya dengan kuat. Rontaan Marshanda saat penetrasi itu dilakukan membuat vaginanya membuat gerakan meremas dan menyedot penisnya dengan kuat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uuughh…. memiaw kamu nikmat banget Cha. Baru kali ini Oom merasakan vagina yang bisa meremas dan menyedot kaya gini.”<br />
“Huu…hu… hiks… sa..sakit Oom. Lepasin Chacha Oom, sakit…hu…huu..”<br />
“Tenang saja manis. Memang sakit waktu pertama kali, tapi entar pasti enak kok. Oom Janji he…he..”</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah berhenti sebentar, Raj Kumar memulai gerakan memompanya, perlahan-lahan dia tarik penisnya sampai hanya ujung kepala penisnya yang tertinggal, lalu dia masukkan lagi penisnya sampai mentok tak bisa maju lagi. Raj Kumar terus melakukan hal itu dengan perlahan sambil bibir dan tangannya yang seakan tak ingin ketinggalan menjelajah lekuk indah tubuh artis belia itu. Bibirnya yang dikelilingi jambang tebal itu bergerak liar, kadang melumat bibir manis Marshanda sampai gadis itu hampir kehabisan nafas, kadang menciumi leher Marshanda, meninggalkan bekas cupang yang memerah kontras dengan kulit Marshanda yang putih mulus, kadang bahkan bibir itu turun sampai ke bagian dada artis belia itu, menghisap gemas putting Marshanda yang kini mengacung makin keras karena rangsangan-rangsangan yang diberikan permainan Raj Kumar.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda kembali memejamkan mata, berusaha tidak memperdulikan segala apa yang dilakukan Raj Kumar. Tapi apalah daya seorang gadis muda yang sama sekali tak berpengalaman dalam seks terhadap permainan seorang maniak seks yang sangat berpengalaman. Desahan lirih Marshanda mulai terdengar saat birahi kembali menjalari seluruh tubuhnya. Permainan yang ahli dari bibir Raj Kumar yang menjelajah bibir, leher, bahkan menghisap putingnya yang semakin sensitif, gesekan bulu cambang yang kasar di permukaan kulitnya, dan juga gerakan penis Raj Kumar yang besar yang menggetarkan syaraf kenikmatan di seluruh dinding rongga vaginanya, klitorisnya yang terjepit dan tergesek oleh gerakan penis Raj Kumar, memberikan getaran-getaran birahi yang terus menjalar ke seluruh tubuh gadis belia itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaahh…..ssstt…aaahh….”, desah Marshanda yang dilanda birahi seksual.<br />
“He…he… kamu cantik sekali Cha. memiaw kamu juga enak. Bener2 memiaw paling enak yang pernah Oom ent*t.”</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda tak kuasa meladeni omongan kotor Raj Kumar. Dia sudah tenggelam dalam gelombang kenikmatan yang baru kali ini dia rasakan. Apalagi Raj Kumar mulai menigkatkan tempo tusukannya saat dia merasakan vagina gadis cantik yang ditindihnya itu bertambah basah dengan cairan kenikmatan. Keringat mulai membasahi tubuh kedua insan yang dilanda birahi itu, padahal ruangan itu ber-AC.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uuughh…. Chacha….aakkhh……Oom…. Chacha….aaaahhh….”</p>
<p style="text-align:justify;">Tubuh Marshanda mengejang dengan liar ketika orgasme menerpa dirinya. Kedua kakinya mengapit erat pantat Raj Kumar seakan dia ingin agar penis Raj Kumar menusuk lebih dalam. Raj Kumar pun tak kuasa menahan orgasmenya. Vagina artis cantik itu seakan mengisap dan meremas kuat penisnya. Kontraksi otot vagina Marshanda saat dia orgasme memang luar biasa, sampai seorang Raj Kumar yang biasanya mampu bertahan lama sekarang tak kuasa menahan semprotan maninya yang membanjiri liang vagina Marshanda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aakkkhhh…. Oom juga nyampe Cha. Aaakkhh.. ayo Cha peras semua mani Oom sayang. Biar kamu hamil anak Oom he.. he…”<br />
“Aakhh…sstt…aahhh…”</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah orgasme panjang yang melanda mereka berdua, Raj Kumar dan Marshanda pun lemas menikmati sisa-sisa orgasme mereka. Beberapa saat kemudian, Raj Kumar yang pertama kali bangkit. Dia membalikkan tubuh Marshanda sehingga gadis remaja itu tengkurap di atas sofa dengan kaki di atas lantai yang dilapisi karpet. Lutut Marshanda menjadi poros penahan tubuhnya. Kemudian Raj Kumar melepaskan ikatan pada kedua tangan Marshanda. Marshanda yang masih lemas tak mampu berbuat apa-apa, dia hanya bernafas lega karena bajingan ini akhirnya mau membebaskannya. Tapi Marshanda salah besar jika dia berpikir Raj Kumar sudah puas dengan permainanya, karena tak lama kemudian dia merasakan penis raksasa Raj Kumar kembali memasuki vaginanya dari belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uuukhh…. ja.. jangan lagi Oom. Chacha capek aaakh….”</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar tak memperdulikan rengekan Marshanda. Dia hanya ingin memuaskan nafsunya. Pantat Marshanda yang membulat dia pegangi dengan kedua tangan dan dia langsung memompa gadis belia itu dengan kecepatan tinggi. Terkadang tangannya menampar pantat indah itu hingga Marshanda menjerit kesakitan. Memang lelaki india itu luar biasa, walaupun tadi sudah orgasme tapi tongkolnya masih keras dan siap beraksi lagi. Lama-lama Marshanda yang tadinya lemas menjadi bangkit lagi gairahnya. Desahannya pun kembali terdengar memenuhi ruangan. Raj Kumar pun bertambah semangat mendengar desahan gadis belia yang mulai terhanyut dalam permainannya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda memang sudah benar-benar terhanyut dalam kenikmatan seks. Pantatnya juga mulai bergerak maju mundur seakan menyambut tusukan Raj Kumar yang ganas. Desahannya yang tadinya lirih menjadi semakin keras, berpadu bagai simponi indah dengan dengusan Raj Kumar yang merasa keenakan menikmati tubuh gadis belia itu. Marshanda seakan lupa dengan kenyataan bahwa dia sedang diperkosa. Bahkan dengan tanpa malu artis remaja yang cantik itu berteriak mengekspresikan kenikmatannya saat orgasme kembali meledak di tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar yang belum keluar merubah posisinya. Kini Marshanda dia gendong berhadapan dengan sambungan lutut gadis itu dia kaitkan ke lengannya dan kedua tangannya menahan pantat Marshanda. Kemudian dia kembali memompa gadis belia itu sambil berdiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda mengalungkan kedua tangannya di leher Raj Kumar agar dia tidak terjatuh. Dengan posisi ini penis Raj Kumar seakan dapat menusuk lebih dalam sampai ke mulut rahim gadis belia itu. Tubuh mereka yang berhimpitan membuat Marshanda merasa nikmat karena payudara dan putingnya yang mengacung tegak bergesekan dengan dada Raj Kumar yang berbulu lebat. Bahkan ketika Raj Kumar mulai melumat bibirnya, tanpa sadar artis cantik itu membalas juga dengan liar. Mereka terus berpacu dalam nafsu sampai puncak kenikmatan itu kembali datang. Mereka orgasme bersamaan, orgasme panjang yang lebih intens dari yang sebelumnya. Bahkan Marshanda untuk pertama kalinya merasakan multi orgasme. Badannya menggeliat liar dalam gendongan Raj Kumar. Raj Kumar pun mendengus liar, menyemprotkan banyak sekali maninya ke vagina gadis itu, seakan-akan semua cadangan spermanya dia tumpahkan semuanya ke memiaw Marshanda. Raj Kumar pun menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dengan Marshanda masih dalam gendongannya. Marshanda merasa kenikmatan yang dirasakannya melolosi seluruh tulang di tubuhnya, dia merasa lemah sekali sehingga dia membiarkan tubuhnya diatas pangkuan Raj Kumar dengan posisi memeluk bajingan yang menodainya dan alat kelamin mereka berdua masih bersatu. Saking lelahnya setelah berpacu dalam nafsu hampir dua jam lamanya, tak lama kemudian Marshanda pun tertidur masih dengan posisi seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“He..he… gue beruntung banget bisa nikmatin tubuh cewek cantik kayak kamu Cha. Artis remaja yang sedang naik daun yang jadi impian berjuta lelaki sudah aku nikmati he…he…he…”.</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar membiarkan posisi mereka seperti itu. Dia membiarkan tongkolnya lemas dalam vagina Marshanda yang hangat. Tak lama kemudian Raj Kumar pun tertidur juga dengan memeluk Marshanda.</p>
<p style="text-align:justify;">…………………</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar terbangun ketika mendengar dering jam bekernya. Jam weker di rumahnya selalu dia stel dengan alarm jam 5 pagi. Raj Kumar kaget karena dia mendapati Marshanda sudah tak ada lagi dalam pelukannya. Tapi setelah dia mengamati keadaan disekelilingnya, dia pun bernafas lega. Ternyata Marshanda tak pergi kemana-mana. Gadis itu duduk meringkuk sambil menangis di dekat pintu. Raj Kumar pun bersyukur karena dia kemarin sempat menyembunyikan kunci pintu ruangan ini hingga Marshanda tidak dapat melarikan diri. Dia pun menghampiri Marshanda yang masih menangis.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hu…hu…hu…..hiks..hu..hu….”<br />
“Kenapa kamu nangis sayang? Oom kan nggak nyakitin kamu. Oom cuma pengen ngajari Chacha kalo ML itu enaaaaak beneer. Chacha ingat kan kalo kemaren Chacha juga nikmatin ML sama Oom sampe teriak-teriak kenceng bener he..he…he…”.<br />
“Hu…hu… Oom jahat. Oom memperkosa Chacha. Chacha udah nggak perawan lagi. En…entar kalo Chacha hamil gimana hu..hu…hu..”.<br />
“Tenang aja Cha. Kalo Chacha hamil, Oom mau kok jadi suami Chacha he… he…he…”.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda tak bisa membayangkan jika dia harus menjadi istri bajingan ini. Tangisnya pun makin keras.</p>
<p style="text-align:justify;">“Udah… udah… kamu jangan nangis lagi. Sekarang kamu mandi dulu biar badan kamu seger, habis gitu Oom akan antar kamu pulang.”.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda pun akhirnya berhenti menangis karena harapan dia untuk dapat bebas timbul setelah mendengar janji Raj Kumar. Gadis belia itu pun menurut ketika diajak Raj Kumar menuju kamar mandi karena dia memang ingin membersihkan diri dari bekas perlakuan Raj Kumar terhadapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oom keluar dulu, Chacha mau mandi.”, kata Marshanda ketika dia melihat Raj Kumar mengikuti dia kedalam kamar mandi.<br />
“Kenapa Cha? Malu? Oom khan udah lihat semuanya he…he…”, jawab Raj Kumar dengan santai sambil menutup pintu kamar mandi.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasa takut, marah, dan juga malu kembali menghinggapi benak Marshanda, tapi dia akhirnya menyerah dan membiarkan tingkah Raj Kumar karena Marshanda ingin bisa lekas pulang dan bebas dari bajingan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda segera berbilas di bawah shower yang ada di kamar mandi itu mencoba membersihkan tubuhnya yang dia rasakan sangat kotor, kotor oleh aib yang diperbuat oleh Raj Kumar terhadapnya. Hati Marshanda kembali terasa perih ketika dia mencoba membersihkan bekas darah di pangkal pahanya. Dia sudah tak perawan lagi, kehormatannya sudah hilang, diambil secara paksa oleh lelaki yang sekarang dengan santainya melihat dia mandi. Marshanda memejamkan matanya sambil menyabuni seluruh badannya, mencoba melupakan keberadaan lelaki itu. Tapi tiba-tiba sepasang lengan mendekapnya dari belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Eeh Oom mau ngapain lagi?”, tanya Marshanda ketakutan.<br />
“Tenang, sayang. Oom cuma mau bantu kamu mandi he..he… Sekarang biar Oom yang menyabuni badan kamu yang indah ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda ingin berontak, tapi akhirnya dia sadar apalah daya seorang gadis seperti dia berhadapan dengan lelaki ini. Marshanda pun akhirnya pasrah dan mendiamkan perbuatan Raj Kumar. Tangan Raj Kumar dengan nakal segera menyerbu buah dada Marshanda. Marshanda mendesah perlahan ketika Raj Kumar mengusap-usap payudaranya yang belum tumbuh sempurna itu dengan sabun. Terkadang Raj Kumar meremas pelan payudara itu, terkadang putingnya dijepit dengan jari-jari Raj Kumar kemudian dipilin lembut. Putting artis belia itu menjadi semakin keras karena rangsangan lelaki yang sudah sangat berpengalaman itu. Tak cuma itu, bibir Raj Kumar pun mulai ikut aktif, mengciumi belakang telinga Marshanda, kuduknya, sampai ke lehernya. Marshanda merasakan tongkol Raj Kumar yang sedari tadi terhimpit belahan pantatnya mulai membesar dan mengeras.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uugh… Oom aah…”, desah Marshanda makin mengeras ketika salah satu tangan Raj Kumar mulai mengelus-elus vaginanya. Jari lelaki itu dengan lincah segera menemukan klitorisnya dan mempermainkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika birahi Marshanda mulai meningkat, Raj Kumar tiba-tiba menghentikan aksinya. Tanpa sadar Marshanda sedikit merasa kecewa. Raj Kumar menyuruh Marshanda agar membungkukkan badannya dengan kaki sedikit mengangkang sambil berpegangan ke tembok. Raj Kumar lalu berjongkok di belakang Marshanda. Lidah dan mulutnya yang ganti menjelajahi vagina Marshanda dari belakang. Marshanda kembali mendesah nikmat, lidah Raj Kumar yang besar dan panjang menyelusup linacah ke dalam liang vaginanya. Klitorisnya kembali digosok jari Raj Kumar yang tak mau tinggal diam. Bahkan Marshanda merasakan nikmat lain ketika terkadang dengan tanpa rasa jijik lidah Raj Kumar menjilati anusnya. Rangsangan yang gadis belia itu rasakan makin meningkatkan gairah seksualnya sampai akhirnya setelah beberapa menit Marshanda pun menjerit nikmat diterpa orgasme seksual yang kembali dirasakannya setelah kemarin malam.</p>
<p style="text-align:justify;">“AAKHH…. CHACHA AAAHH… EENAAKK OOM…”</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar pun dengan rakus menjilati cairan kenikmatan yang mengalir dari lubang surga Marshanda. Tangannya memegangi tubuh Marshanda agar gadis itu tidak terjatuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar lalu duduk diatas dudukan toilet yang tertutup. Dia membiarkan gadis cantik itu menikmati sisa-sisa orgasmenya. Kemudian dia memanggil Marshanda lalu menyuruhnya berjongkok di depannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Itu tadi namanya Oral Seks Cha. Enak khan? Oom sudah memberikan kenikmatan sama kamu tanpa tongkol Oom masuk ke memiaw kamu. Sekarang ganti kamu yang harus memberikan kenikmatan oral seks sama Oom.”<br />
“Ma…ma…maksud Oom apa? Chacha nggak ngerti Oom.”<br />
“Kamu jilatin tongkol Om dengan lidah kamu, lalu kamu hisep2 pake mulut dan bibir kamu yang seksi itu he…he….”.<br />
“Ah Enggak Oom. Chacha nggak mau, khan jijik.”.<br />
“Eits kamu jangan egois gitu donk. Oom tadi kan nggak jijik waktu jilatin memiaw kamu, bahkan anus kamu pun Oom jilatin, dan kamu nikmatin semua itu kan?”.<br />
“Ta.. tapi Chacha nggak bisa Oom.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tangan Raj Kumar pun segera menjambak rambut Marshanda, lalu dia membentak gadis manis yang ketakutan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“UDAH!! Jangan banyak omong. Pokoknya sekarang kamu jilatin tongkol Oom atau Oom nggak akan ngelepasin kamu. Ngerti!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan perasaan takut dan jijik, Marshanda pun mulai menjilati tongkol Raj Kumar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nah, gitu dong. Aaakh… enak. Jilatin juga kepalanya aakhh… bagus. Lubang kencingnya juga Aakhh….”</p>
<p style="text-align:justify;">Slruup…sllrrupp….</p>
<p style="text-align:justify;">“Sekarang masukin tongkol Oom ke mulut kamu. Hisap kayak kamu menghisap permen lolipop.”</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda mencoba memasukkan tongkol yang besar itu ke dalam mulutnya, tapi hanya kepala dan sebagian kecil dari batangnya saja yang bisa masuk. Raj Kumar mendesah keenakan, dia menyuruh gadis cantik itu mengeluar masukkan tongkolnya ke mulut. Raj Kumar memberi Marshanda petunjuk tentang cara blowjob. Petunjuk Raj Kumar pun dituruti Marshanda dengan baik agar dia tak lagi menerima perlakuan kasar dari bajingan itu. Raj Kumar pun mendesah keenakan karena Marshanda ternyata cepat sekali belajar dan sekarang sudah bisa melakukan blowjob dengan bibirnya yang lembut itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaaakhh….. yak gitu Cha aakhh… enak. Kamu pinter banget Cha. Kayaknya kamu berbakat. Natural Cocksucker aahh…. Oom mau nyampe aaakkhhh….. telen semua mani Oom Cha aaaaakkhhh…”</p>
<p style="text-align:justify;">Raj Kumar pun akhirnya orgasme karena nikmatnya blowjob Marshanda. Dia menahan kepala Marshanda agar tak melepas kulumannya. Maninya menyemprot deras di dalam mulut Marshanda. Artis belia itu pun terpaksa menelan sebagian sperma Raj Kumar, sebagian lagi meleleh di sela-sela bibirnya yang masih disumbat tongkol raksasa Raj Kumar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Uhuk..uhk…”, Marshanda terbatuk-batuk setelah dia bisa melepaskan tongkolkan Raj Kumar dari mulutnya.<br />
“Aaahh…. kamu benar-benar cewek yang luar biasa Cha. Nggak cuma memiaw kamu aja yang enak, mulut kamu juga yahut he… he… he…”</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah Marshanda selesai batuknya, Raj Kumar segera menarik gadis itu ke arahnya. Raj Kumar menyuruh Marshanda memasukkan tongkol Raj Kumar kedalam memiawnya sambil duduk di pangkuan Raj Kumar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ja.. jangan Oom. Chacha nggak mau lagi. Jangan.”<br />
“Sayang, kemaren kita khan juga udah ngelakuin jadi sekali lagi nggak masalah khan?! Awas, kalo kamu nggak nurut perintah Oom, Oom nggak akan ngelepasin kamu dan Oom akan memperkosa kamu terus tiap hari. Kalo kamu nurut apa kata Oom, Oom janji habis ini Oom akan ngelepasin kamu dan nganterin kamu pulang.”.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda pun akhirnya memilih untuk mematuhi semua perintah bajingan terkutuk ini agar ia bisa bebas. Raj Kumar menyuruhnya untuk mengangkangi Raj Kumar yang masih duduk di toilet. Posisi badan mereka berhadapan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nah, sekarang kamu pegang tongkol Oom, lalu masukin sendiri ke memiaw kamu. Cepat.”<br />
“Akkhh… aduh.”</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda merintih ketika memaksa tongkol besar itu ke memiawnya yang sempit. Gadis itu melakukannya dengan perlahan agar tidak terlalu sakit, sampai akhirnya kepala tongkol Raj Kumar pun bisa masuk ke memiaw sempit itu. Raj Kumar pun menyuruh artis remaja itu untuk memasukkan lebih dalam. Marshanda pun menurutinya, dia memaksa tongkol itu semakin masuk ke dalam liang vaginanya sampai akhirnya dia merasa ujung tongkol yang besar dan panjang sampai menyentuh mulut rahimnya. Raj Kumar lalu menyuruhnya melakukan gerakan naik turun sehingga sekarang kelihatan seperti Marshanda yang ngent*t Raj Kumar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaahh….ssst…aahhh…”, rintihan dan desahan nikmat Marshanda mulai terdengar lagi.<br />
“Aaakhh…. kamu pinter Cha. Terus aaahhh…. enak. Sambil goyangin pantat kamu. Puter-puter kayak goyangan ngebornya si Inul aaakhh…”</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda terlarut dalam birahinya. Pantatnya terus dia naik turunkan menunggangi penis Raj Kumar. Kadang pantatnya dia goyangkan, berputar, maju-mundur yang membuat Raj Kumar makin keenakkan. Bahkan ketika Raj Kumar memeluk lalu melumat bibirnya, Marshanda membalasnya tak kalah bernafsu. Desah kenikmatan mereka makin keras berpadu dengan indahnya. Setelah hampir setengah jam mereka berpacu dalam birahi, Marshanda merasakan kalo orgasmenya akan datang. Dia semakin liar menggoyang Raj Kumar, insting alami yang dimilikinya membuat ia tanpa sadar makin mempercepat tempo genjotannya. Raj Kumar yang juga merasa kalo orgasmenya akan datang, segera memegangi pantat Marshanda, membantunya agar naik turun lebih cepat. Bahkan Raj Kumar dengan paksa mencoba membuat tongkolnya menusuk lebih dalam sampai-sampai Marshanda seakan merasa kalo tongkol itu menusuk sampai ke perutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“AAAAKKKHH…….Oom nyampe Cha aaaaakhh….”<br />
“Chacha juga aaaaaakkhhh………..”</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua insan itu orgasme bersamaan. Mereka berpelukan erat menikmati sensasi luar biasa yang baru saja mereka rasakan. Setelah beberapa lama mereka tetap dalam posisi itu, Raj Kumar lalu mengajak Marshanda mandi kembali. Setelah mandi dan berganti pakaian, Raj Kumar mengantarkan Marshanda pulang. Dan didalam mobil, dalam perjalanan pulang, Raj Kumar menyuruh Marshanda sekali lagi melakukan blowjob sampai akhirnya dia keluar dalam mulut dengan lesung pipit manis itu. Sebelum melepaskan Marshanda, Raj Kumar mengancam agar gadis itu tidak menceritakan perbuatannya kepada siappun terutama Polisi. Raj Kumar bilang dia merekam persetubuhan mereka berdua tadi malam dalam kamar untuk koleksi pribadi, tapi kalau Marshanda macam-macam, rekaman itu akan disebarkannya hingga karir Marshanda pun akan hancur. Marshanda menangis memohon Raj Kumar agar tidak melakukan hal itu. Raj Kumar menyanggupinya asalkan Marshanda tidak berbuat macam-macam.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kejadian itu Marshanda tak mau datang ke lokasi syuting. Dia mendesak mamanya agar dia bisa pindah ke PH lain. Mamanya bingung dan mencoba bertanya ada masalah apa, tapi Marshanda tak mau menjelaskan pokoknya dia mau pindah dari Multivision Plus yang telah mengontraknya. Mama Marshanda pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti permintaan putrinya itu. Maka terjadilah skandal perseteruan antara Marshanda dan Multivision Plus seperti yang diberitakan di beberapa media cetak beberapa waktu lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">……..</p>
<p style="text-align:justify;">beberapa tahun kemudian………..</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah..ahh….ahhh….”</p>
<p style="text-align:justify;">Desahan-desahan nikmat terdengar bersahutan dari sebuah apartemen di Jakarta. Seorang gadis cantik dengan liarnya menunggangi seorang laki-laki yang tidur terlentang di ranjang dalam kamar salah satu apartemen itu. Gadis itu bagaikan seorang joki yang ahli sedang mengendarai kudanya. Goyangannya begitu erotis dan panas. Sang lelaki cuma bisa mengerang nikmat karena goyangan si gadis cantik. Liukan liar sang gadis membuat pria itu tak bisa bertahan lama dan dia pun menyemprotkan spermanya ke liang kenikmatan gadis itu. Sang gadis yang belum mencapai puncaknya makin mempercepat goyangannya agar dia bisa mendapatkan puncaknya sendiri. Tapi apa daya penis sang lelaki telah lemas padahal baru satu ronde mereka berpacu. Sang gadis yang penasaran segera turun dari tubuh sang lelaki. Penis sang lelaki yang sudah lemas itu segera dikulum dengan mulutnya. Hisapan mulut, permainan lidah dan segala teknik yang dimilikinya dalam oral seks dikeluarkan gadis itu dengan harapan sang penis bisa berdiri kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaahh…. sudah Cha. Gue udah capek nih. Kamu memang bener-bener cewek yang luar biasa. Permainan kamu diranjang ganas banget. Aahh… gue puas banget bisa ngent*t sama kamu. Makasih ya sayang. Sekarang gue mau tidur sebentar, nanti sore khan kita syuting lagi.”, kata Baim Wong sambil memejamkan matanya, mencoba beristirahat sesudah puas berpacu dalam birahi.</p>
<p style="text-align:justify;">Gadis itu yang ternyata adalah Marshanda yang telah tumbuh menjadi gadis dewasa dengan lekak-lekuk tubuh yang makin indah. Payudara membulat penuh, tak seberapa besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Payudara itu dihiasi putting indah yang terlihat selalu mengacung menantang. Vagina yang terawat rapi tanpa rambut. Kaki jenjang. Wajah manis dengan lesung pipit di kedua pipinya. Benar-benar suatu keindahan yang sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kesal Marshanda meninggalkan Baim yang tak sanggup memuaskannya dan menuju ke kamar mandi. Dalam kamar mandi, dibukanya lemari kecil yang ada di dalam kamar mandi itu. Marshanda mengambil sesuatu dari lemari itu. Ternyata benda yang diambilnya adalah sebuah dildo yang berukuran besar, dua kali lebih besar dari penis si Baim. Lalu artis cantik yang sedang naik daun itu segera memasukkan dan memainkan dildo itu di dalam memiawnya. Dia berusaha mencapai puncak yang gagal dia dapatkan dalam persetubuhannya dengan Baim Wong. Desahannya pun mulai memenuhi kamar mandi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aah..ahh…ini baru namanya tongkol aah…”</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda mendesah nikmat. Dildo dengan ukuran inilah yang bisa memuaskannya, dildo dengan ukuran sebesar tongkol Raj Kumar, bajingan yang mengambil keperawanannya. Marshanda masturbasi sambil mengenang pengalamannya waktu diperkosa Raj Kumar. Dia teringat bagaimana rasanya saat tongkol Raj Kumar yang besar, panjang, dan keras menusuk sampai dalam ke dalam lubang memiawnya. Membuatnya orgasme berkali-kali. Marshanda masih ingat kalo tongkol Raj Kumar masih bisa berdiri dengan gagahnya setelah mengeluarkan maninya. Dia teringat bagaimana hanya dengan permainan lidah Raj Kumar, Marshanda bisa mencapai orgasme. Kenangan-kenangan itu semakin meningkatkan birahi Marshanda, sampai akhirnya dia pun menjerit keras saat orgasmenya pun datang.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah sejenak beristirahat menikmati sisa-sia orgasmenya, Marshanda pun lalu mandi dan kembali lagi ke kamar. Dia melihat Baim sudah terlelap dalam tidurnya. Dasar cowok lemah dan egois, maki Marshanda dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda memang dikenal dalam pandangan khalayak umum sebagai artis yang baik-baik, jarang digosipin. Tapi dikalangan selebriti sendiri, Chacha lebih dikenal sebagai cewek yang bisa diajak “having fun”. Asal cocok, mereka bisa menikmati tubuh Marshanda yang indah itu. Bahkan kepiawaian Marshanda dalam urusan seks menjadi legenda tersendiri dalam kalangan selebritis. Tapi sayang jarang banget yang dapat memuaskan Marshanda dalam urusan birahi.</p>
<p style="text-align:justify;">Marshanda melamun dalam kamar itu. Dia berpikir siapa lelaki yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti saat pertama kali dia mengenal seks. Kenikmatan yang begitu intens dan berulang-ulang. Bahkan sampai saat ini tak ada seorang pun yang bisa membuatnya multi orgasme seperti waktu itu. Akhirnya setelah melamun hampir satu jam, Marshanda pun bangkit dari duduknya. Dia meraih Handphonenya lalu memencet-mencet nomor dalam keypadnya. Terdengar nada tunggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tut…. tut…..<br />
“Halo?”, jawab seorang lelaki dari speaker handphone Marshanda.<br />
Marshanda ragu untuk menjawab, dia hanya diam.<br />
“Halo?! Siapa nih?”, tanya laki-laki itu lagi.<br />
Setelah menarik nafas panjang dan mengumpulkan keberaniannya, Marshanda pun berbicara melalui handphonenya.<br />
“Halo. Eeeng.. Oom Kumar. Enggg…. i…ini Chacha Oom.”<br />
?????????????????</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=9&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/marshanda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DOSA SEORANG IBU</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/dosa-seorang-ibu/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/dosa-seorang-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 07:44:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[sedarah]]></category>
		<category><![CDATA[paruh baya]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman-pengalaman saya ini dimulai pada akhir tahun lalu, yang juga merupakan perkenalan pertama saya dengan sebuah Website cerita cerita dewasa. Sebelum kejadian-kejadian tersebut, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang baik dan tanpa cacat (menurut saya lho). Umur saya 42 tahun. Saya memiliki dua orang anak keduanya laki-laki. Anak saya terbesar Tony berumur 15 tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=7&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pengalaman-pengalaman saya ini dimulai pada akhir tahun lalu, yang juga merupakan perkenalan pertama saya dengan sebuah Website cerita cerita dewasa.<br />
Sebelum kejadian-kejadian tersebut, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang baik dan tanpa cacat (menurut saya lho). Umur saya 42 tahun. Saya memiliki dua orang anak keduanya laki-laki. Anak saya terbesar Tony berumur 15 tahun di kelas tiga SMP, sedangkan sikecil Sandy masih berusia 4 tahun. Suami saya bekerja di suatu instansi pemerintah dan kami hidup normal dan bahagia. Saya sendiri seorang sarjana dari perguruan tinggi ternama di negara ini tetapi memilih tidak bekerja. Saya taat beragama dan mengenakan jilbab hingga sekarang.<br />
Tetapi sejak kejadian-kejadian ini, saya merasa sebagai wanita berdosa yang tidak lagi mampu menghindari dosa bersetubuh dengan laki-laki yang bukan suami sendiri. Membayangkan kejadian-kejadian tersebut saya selalu ingin menangis tetapi pada saat yang sama saya juga didera oleh nafsu birahi membara yang tidak mampu saya atasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-7"></span> Kejadiannya adalah sebagai berikut. Saat itu sore hari sekitar jam tiga dan saya baru saja bangun tidur dan Sandy masih tertidur di sebelah saya. Sedangkan suami saya masih bekerja di kantor nya.<br />
Dari dalam kamar saya dapat mendengar suara komputer yang dimainkan anak saya Tony di ruang tengah yang berbatasan langsung dengan kamar tidur saya. Kami berlangganan internet (saya sering juga browsing di internet dan mahir menggunakan komputer) dan sedangkan Tony sering sekali menggunakan komputer, tetapi saya tidak tahu persis apa yang dimainkan. Saya kira dia hanya main game saja. Pintu kamar saya agak terbuka.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya bermaksud untuk keluar dari kamar, tetapi ketika saya menarik pintu, apa yang terlihat membuat saya tertegun dan mengurungkan niat tersebut. Apa yang terlihat dari balik pintu membuat hati saya betul-betul terguncang. Walau agak kurang jelas, saya masih dapat melihat di layar komputer tampak sosok wanita kulit putih telanjang tanpa busana dengan posisi terlentang dan kaki terbuka dengan kemaluan yang tampak jelas. Saya menjadi kesal karena Tony yang masih anak-anak melihat hal-hal yang sangat terlarang tersebut. Tetapi yang kemudian membuat saya shock adalah setelah saya menyadari bahwa Tony sedang mengurut-urut penisnya. Dari dalam kamar saya dapat melihat resleting celana Tony terbuka dan celananya agak turun. Tony sedang duduk melihat layar sambil mengusap-usap penisnya yang tampak berdiri tegang dan kaku.<br />
Sejak dia disunat lima tahun yang lalu saya, hampir tidak pernah lagi melihat anak saya itu telanjang. Tony sudah dapat mengurus dirinya sendiri. Tinggi Tony sekitar 158 cm dan sudah hampir sama dengan tinggi saya yang sekitar 162 cm. Samar-samar saya dapat melihat rambut kemaluannya yang tampaknya masih sedikit. Saya betul-betul tercengang melihat semua ini. Kemaluannya memang tidak berukuran besar tetapi melihat demikian kakunya batang anak ini membuat saya tanpa sadar berdebar. Batang kemaluannya tampak berwarna coklat kemerahan dengan urat-urat yang menonjol kebiruan. Samar-samar saya dapat mendengar napasnya yang terengah. Tony sama sekali tidak menyadari bahwa saya sudah bangun dan melihat kelakuannya dari balik pintu.<br />
Kejadian Tony membelai-belai kemaluannya ini berlangsung terus selama lebih kurang empat-lima menit lamanya. Yang mengagetkan adalah reaksi kewanitaan tubuh saya, ternyata jantung saya terasa berdebar keras menyaksikan batang kemaluan yang demikian kaku dan berwarna semakin merah, terutama bagian kepalanya. Pandangan saya beralih-alih dari kemaluan wanita telanjang di layar komputer ke batang anak saya sendiri yang terus diusap-usapnya. Gerakan tangannya semakin cepat dan mencengkeram bagian kemaluannya dengan muka yang tampak tegang memandangi layar monitor. Kepala batang yang mengeras itu tampak diremas-remasnya. Astaga .., dari lubang di kemaluannya berleleran keluar cairan bening. Cairan kental bening tersebut diusap-usap oleh jari Tony dan dioles-oleskan ke seluruh kemaluannya. Kini ia juga menekan-nekan dan meremas kantung pelir dan dimainkannya bolanya. Kemaluan itu kini tampak basah dan berkilap. Napas Tony terdengar sangat keras tetapi tertahan-tahan. Saya merasa napsu birahi saya muncul, tubuh saya mulai gemetar dan darah mengalir di dalam tubuh dengan deras. Napas sayapun mulai tak teratur dan saya berusaha agar napas saya tak terdengar oleh Tony.<br />
Apa yang saya lihat selanjutnya membuat saya sangat tergetar. Tubuh Tony tampak mengejang dengan kakinya agak terangkat lurus kaku, sementara tangannya mencengkeram batang kemaluan itu sekuat-kuatnya.<br />
“Eeegh, heeggh .”, Tony mengerang agak keras, dan ya ampun …, yang tidak saya sangka-sangka akhirnya terjadi juga. Dari lubang di kepala batang kemaluannya terpancar cairan putih kental. Tony yang saya anggap anak kecil itu memuncratkan air mani. Cairan kental itu memuncrat beberapa kali. Sebagian jatuh ke perutnya tetapi ada juga yang ke lantai dan malah sampai ke keyboard komputer. Tangan Tony mencengkeram kont*l yang memerah itu dan menariknya sekuatnya ke pangkal batang. Ohhh .., kont*l itu tampak kaku, tegang, urat-urat menonjol keluar, mani muncrat keatas. Melihat air mani muncrat seperti itu segera saja saya merasakan lonjakan birahi yang luar biasa di sekujur tubuh saya. mem*k saya terasa menjadi basah dan napas saya menjadi tersengal sengal<br />
Saya berusaha mengendalikan diri dari rangsangan birahi sebisa-bisanya, ada semacam perasaan tidak enak dan bersalah yang tumbuh menyaksikan anak saya dan terutama atas reaksi tubuh saya seperti ini. Tony masih terus mengurut-urut batang kont*lnya dan air mani yang tersisa tampak mengalir sedikit-sedikit dari lubang kencing di kepala kont*lnya. Tony melumuri permukaan kont*lnya dengan air mani tadi dan terus menggosok-gosok kont*lnya. Kini kont*l itu tampak diselimuti oleh mani berwarna keputihan. Samar-samar saya dapat mencium bau mani yang bertumpahan karena jarak saya dengan Tony sebetulnya sangat dekat hanya dua meteran.<br />
Tony tampak mulai tenang dan napasnya semakin teratur. kont*l yang berleleran air mani mulai mengendur. Ia menghela napas panjang dan tampak lega terpuaskan. kont*l itu sekarang tampak terkulai kecil dan lemah berwarna kecoklatan, sangat berbeda dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Tony kemudian berdiri dan menuju ke kamar mandi. Ia masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seolah-olah ada yang menuntun, saya berjingkat menuju komputer tanpa menimbulkan bunyi. Saya memandang lekat ke layar komputer, mengagumi tubuh wanita muda berkulit putih (orang Barat) yang telah mengundang nafsu anak saya. Tanpa sadar saya menghela napas melihat kemaluannya. Rambut jembutnya berwarna kecoklatan tampak tertata seperti pernah dicukur. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan pada rambut kemaluan saya dan tak pernah terpikirkan untuk melakukannya. Pandangan saya beralih ke tetesan-tetesan mani yang tampak di dekat keyboard. Saya mengusap mani tersebut dengan jari dan entah mengapa saya mencium dan menjilati jari tangan saya yang berleleran dengan mani. Rasanya asin dan baunya terasa lekat, tetapi nafsu birahi saya terbangkit lagi. Saya tidak ingin Tony curiga. Dari layar komputer saya melihat address internetnya adalah ………. (tidak perlu saya sebutkan) dan saya catat saja di dalam hati. Saya berjingkat masuk kamar dan membaringkan tubuh. Tak lama saya dengar Tony kembali ke komputernya dan saya kira ia sedang membersihkan sisa-sisa mani yang tadi ia muncratkan. Kemudian saya dengar ia bermain game (kedengaran dari bunyi nya).<br />
Lima belas menit kemudian saya pura-pura baru saja terbangun dan keluar dari kamar. Sikap Tony tampak agak canggung tetapi saya kira ia yakin bahwa kejadian tadi tidak saya ketahui. Saya sendiri bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.<br />
Sejak saat itu saya merasa ada perubahan luar biasa pada diri saya. Sebelumnya saya melakukan hubungan sex dengan suami hanyalah sebagai suatu hal yang rutin saja. Kejadian Tony melakukan onani didepan computer membuat saya menemukan sesuatu yang baru dalam hal soal sex. Sesuatu yang menggairahkan, nafsu birahi yang menggelegak, tetapi sekaligus perasaan dosa, karena ini dibangkitkan oleh kejadian yang dilakukan anak saya sendiri. Apa yang dilakukan anak saya membuat saya shock, tetapi yang juga mengerikan adalah justru anak saya sendiri membangkitkan nafsu birahi saya yang menyala-nyala. Tony yang selalu saya anggap anak masih kecil dan tidak mungkin berhubungan dengan hal hal yang berbau sex dan porno. Selalu terbayang di mata saya wajah Tony dengan napas terengah engah dan muka tegang, kocokan tangannya, batang kont*l yang berwarna kemerahan sangat tegang dengan urat yang menonjol. Air mani yang memuncrat-muncrat dari lubang kont*lnya. Ya Tuhan .. , kont*l itu adalah milik anak saya.<br />
Sejak kejadian itu saya sering terbayang penis Tony yang sedang memuncrat &#8211; muncratkan air maninya. Penis yang kaku itu tidak berukuran besar, menurut saya tidak terlalu panjang dan besar menurut usianya. Tetapi yang tidak dapat saya lupakan adalah warnanya yang kemerahan dengan urat-urat hijau kebiruan yang menonjol. Saat itu penis itu begitu tegang berdiri hampir menyentuh perutnya. Jika mengingat dan membayangkan kejadian itu, birahi saya mendidih, terasa ada cairan merembes keluar dari lubang kemaluan saya.<br />
Hal lain yang memperparah keadaan adalah, sejak hari kejadian itu, saya mulai berkenalan dengan dunia baru yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Saya sudah biasa browsing di Yahoo ataupun yang lain. Tetapi sejak mengenal “Cerita Dewasa” saya mulai mengarungi dunia lain di internet. Sehari sesudah kejadian Tony onani, saya mulai membuka-buka situs “Cerita Dewasa” Tentu saja itu saya lakukan pada saat tidak ada orang di rumah. Pembantu saya, setelah melakukan tugas didalam rumah, biasanya selalu mendekam dikamarnya. Tony belum pulang dari sekolahnya, sedangkan Suami saya masih di kantornya. Saya hanya berdua dengan Sandy yang biasanya lebih senang bermain di kamar tidur.<br />
Saat itulah saya mulai mencoba-coba “Cerita Dewasa” Saya tidak menyangka ada suatu situs internet menyajikan cerita dan gambar pornografi yang seperti itu. Saya membuka &#8211; buka gambar wanita-wanita telanjang yang tampak tidak malu-malu memperagakan bagian kewanitaannya yang seharusnya ditutup rapat rapat. Mereka tampaknya menikmati apa yang mereka lakukan dengan mempertontonkan bagian tubuhnya yang terlarang.<br />
Pada hari itu saya mulai juga menemukan situs-situs lain yang lebih porno. Ada sekitar 3 jam saya berpindah-pindah dan mempelajari dunia sexual penuh nafsu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki dan perempuan bersetubuh dengan berbagai macam cara yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya dan yang tidak pernah saya praktekkan sebelumnya dengan suami. Ada perempuan yang menghisap penis berukuran sangat besar (kelihatannya lebih besar dari penis suami saya) hingga penis itu memuntahkan air maninya. Astaga, perempuan itu membiarkan mani itu muncrat sampai membasahi wajahnya, berleleran, dan bahkan meminumnya tanpa ada rasa jijik.<br />
Sejak saat itu setiap hari saya menjelajahi internet. Saya mempelajari semua bentuk sex yang ada di situs-situs itu. Penis orang negro yang hitam legam dan panjang agak mengerikan bagi saya, tetapi juga membangkitkan birahi saya. Membayangkan penis hitam panjang itu menembus kemaluan wanita, panas dingin saya membayangkannya. Yang betul-betul baru buat saya adalah anal-sex. Saya meraba-raba dubur saya dan berpikir apakah tidak menyakitkan. Tetapi wanita-wanita dengan lubang dubur yang menganga dan tertembus penis itu tampaknya terlihat nikmat nikmat saja.<br />
Tetapi yang paling membangkitkan birahi saya adalah persetubuhan orang Jepang. Mungkin karena mereka sama-sama orang Asia, jadi tampak lebih real dibandingkan dengan wanita kulit putih. Dan mungkin ada kesan surprise juga bagi saya, bahwa orang-orang Jepang yang tampak sopan itu dapat begitu bernafsu di dalam sex. Saya memang bukan orang keturunan Chinese, tetapi kulit saya cukup putih untuk ukuran orang Indonesia. Jadi saya melihat semacam ada kesamaan antara diri saya dengan wanita Jepang itu walau tentunya kulit saya tidak seputih mereka. Yang agak surprise adalah rambut kemaluan wanita wanita Jepang yang cenderung hitam lebat, tidak dicukur seperti kebanyakan orang kulit putih. Wanita Jepang juga memiliki kulit kemaluan, bibir-bibir mem*k yang berwarna gelap kecoklatan, mirip seperti kemaluan saya sendiri (Ya Allah, saya sampai menuliskan hal-hal seperti ini, ampun ya Allah).<br />
Saya juga mendapatkan suatu situs (kalau tidak salah dari ……..com) di mana wanita-wanita muda Jepang mengisap penis hingga muncrat dan air mani yang sangat banyak berleleran di mukanya yang berkulit putih. Saya selalu panas dingin melihat itu, dan tanpa sadar saya membayangkan lagi penis kecil Tony yang tegang dan memuncratkan air maninya.<br />
Kehidupan sex internet yang paling memabukkan saya adalah cerita-cerita nafsu di “Cerita Dewasa” dan melebihi segala suguhan gambar sex yang ada. Saya sangat terangsang membaca cerita-cerita menakjubkan itu. Tidak saya sangka bahwa kehidupan sex orang-orang Indonesia dapat seliar dan juga seindah itu. Yang paling merangsang dan membuat saya agak histeris adalah cerita sex antara orang yang masih sedarah, seperti antara tante dengan keponakan, antara sepupu, saudara ipar, atau malah antara anak dan mertua. Mungkin ini karena perasaan saya terhadap Tony anak saya. Di situs lain, saya pernah membaca cerita sexual antara anak dengan ibunya. Saya sampai menangis membaca cerita itu, tetapi juga sekaligus merasakan birahi yang luar biasa. Ini tidak berarti bahwa saya berniat menyetubuhi anak saya sendiri, saya takut atas dosanya. Namun tidak dapat saya pungkiri, bahwa saya terkadang membayangkan kont*l Tony yang sangat kaku itu masuk ke dalam mem*k saya. Saya selalu mohon ampun di tiap doa dan sembahyang, tetapi pada saat sama saya juga tak berdaya. Saya mulai membayangkan laki-laki dari keluarga dekat saya, ipar-ipar saya. Saya kira kejadian berikutnya yang akan saya ceritakan adalah takdir yang tidak dapat saya hindarkan. Saya begitu lemah dari godaan setan dan sangat menikmati apa yang saya perbuat.<br />
Kejadian itu adalah pada sore hari sekitar jam setengah empat, beberapa minggu setelah kejadian saya memergoki Tony beronani, kalau tidak salah dua atau tiga hari menjelang bulan puasa Ramadhan. Saya baru saja selesai Ashar. Sebelumnya saya baru menutup internet, membaca cerita-cerita di “Cerita Dewasa” Dengan shalat saya merasa agak tenang. Pada saat shalat itu akan selesai, saya mendengar ada ketukan pintu, ada tamu. Apa boleh buat, si tamu harus menunggu saya selesai.<br />
Sesudah selesai shalat saya intip dari dalam, ternyata dia adalah Budi. Ia adalah suami dari ipar (adik suami) saya. Saya sangat dekat dengan Dian, istri Budi. Saya juga mempunyai hubungan baik dengan Budi. Ia berumur kira-kira 36 tahun, berwajah tampan dengan kulit putih dan kuakui lebih tampan dari suami saya. Perawakannya tidak tinggi, hanya sekitar 164 cm, hampir sama dengan tinggi saya. Dia bekerja di instansi yang sama dengan suami saya (mungkin hasil kkn ya ?)<br />
Melihat Budi di luar saya jadi agak terburu-buru. Biasanya saya menemui orang yang bukan suami dan anak (atau wanita) selalu dengan mengenakan pakaian wanita rapi dan tertutup rapat. Karena terburu-buru dan tanpa saya sadari, saya hanya mengenakan baju tidur berkain halus warna putih sebatas lutut berlengan pendek dengan kancing-kancing di depan. Untung saya masih sempat mengenakan secarik kain selendang warna hitam untuk menutup kepala, bukan jilbab, tetapi seperti selendang tradisional yang diselempangkan di kepala hanya untuk menutup rambut. Leher saya terbuka dan telinga saya terlihat jelas. Apa boleh buat saya tidak dapat membiarkan Budi menunggu saya didepan rumah terlalu lama.<br />
Saya membuka pintu. Budi tersenyum melihat saya walaupun saya tahu dia agak heran melihat saya tidak berpakaian seperti biasanya.<br />
“Apa kabar kak Win”, sapanya, “Saya membawakan titipan pakaian dari Dian, untuk Sandy “.<br />
“Eh, ayo masuk Bud, baru dari kantor ya ?”, dan saya persilakan dia masuk.<br />
Saya lalu mengambil barang yang dibawa Budi dan meletakkannya di meja makan. Meja makan terletak di ruang tengah tidak jauh dari meja komputer. Ruang tengah berhubungan langsung tanpa pembatas dengan ruang tamu di bagian depan dan dapur di bagian kiri. Dapur dapat terlihat jelas dari ruang tamu.<br />
Sambil duduk di sofa ruang tamu, Budi mengatakan “Saya tadi ketemu kak Kamal di kantor katanya baru pulang jam enam nanti”. Kamal adalah suami saya. “Mana anak-anak, Win ?”, kata Budi lagi.<br />
“Tony sedang main ke rumah teman dari siang tadi dan katanya mungkin baru pulang agak malam” kata saya. Tiba-tiba saya menyadari bahwa kami hanya berdua saja. Terus terang, Budi dan Dian adalah kerabat yang paling saya sukai karena perangai mereka berdua yang sopan dan terbuka.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya duduk di sofa di seberang agak ke samping dari kursi sofa yang diduduki Budi. Pada saat saya mulai duduk saya baru menyadari agak sulit untuk duduk dengan rapi dan tertutup dengan pakaian yang saya kenakan. Posisi alas duduk sofa cukup rendah sehingga pada saat duduk lutut terasa tinggi dibandingkan dengan pantat. Jadi bagian bawah paha saya agak terangkat sedikit dan agak sulit tertutup sempurna dengan pakaian seperti yang saya kenakan dan pada saat duduk ujung pakaian tertarik sedikit ke atas lutut. Budi tampak agak terkesiap melihat saya. Sekilas ia melirik ke lutut dan paha saya yang memang putih dan tidak pernah kena sinar matahari (saya selalu berpakaian muslim ke luar rumah). Saya agak malu dan canggung (saya kira Budi juga tampak agak canggung). Tetapi kami sudah bukan remaja lagi dan dapat menguasai diri.<br />
“Apa kabar Dian, Bud”, tanya saya.<br />
“Dian beberapa hari ini kurang sehat, kira-kira sudah semingguan lah”, kata Budi.<br />
“Bagaimana Tony, Win ?, apa enggak ada pelajaran yang tertinggal ?”, Budi balik bertanya.<br />
“Yah, si Tony sudah mulai oke koq dengan pelajarannya. Mudah-mudahan saja sih prestasinya terus-terusan bagus”, saya jawab.<br />
Tiba-tiba Budi bilang ” Wah, kayak-kayaknya Tony semakin getol main komputernya yah Win, kan sudah hampir SMA”. Deg perasaan saya, semua pengalaman internet jadi terbayang kembali. Terutama terbayang pada Tony saat ia beronani di depan komputernya.<br />
“Eh, kenapa kak Win, koq kaya seperti orang bingung sih ?”, Budi melihat perubahan sikap saya.<br />
“Ah, tidak apa-apa kok. Tapi si Tony memang sering sekali main komputer.” kata saya. Saya mendadak merasakan keberduaan yang mendalam di ruangan itu. Saya merasa semakin canggung dan ada perasaan berdebar. Untuk menghindar dari perasaan itu saya menawarkan minum pada Budi, “Wah lupa, kamu mau minum apa Bud ?”.<br />
“Kalau tidak merepotkan, saya minta kopi saja deh”, kata Budi. Saya tahu, Budi memang paling suka minum kopi.<br />
Saya bangkit berdiri dari sofa. Tanpa saya sengaja, paha dan kaki saya sedikit terbuka pada saat saya bangun berdiri. Walaupun sekilas, saya melihat pandangan mata Budi melirik lagi ke paha saya, dan tampak agak gugup. Apakah dia sempat melihat bagian dalam paha saya, pikir saya di dalam hati.<br />
“Tunggu sebentar ya..”, kata saya ke Budi. Sebelum membuat kopi untuk Budi, saya ke kamar tidur dulu untuk menengok Sandy. Sambil menuju ke kamar saya melirik sebentar ke arah Budi. Budi tampak tertunduk tetapi tampak ia mencuri pandang ke arah saya.<br />
Saya tersadar bahwa penampilan pakaian saya yang tidak biasanya telah menarik perhatiannya. Terutama sekali mungkin karena posisi duduk saya tadi yang sedikit menyingkap bagian bawah pakaian saya. Saya yang terbiasa berpakaian muslim tertutup rapat, ternyata dengan pakaian seperti ini, yang sebenarnya masih terbilang sopan, telah mengganggu dan menggugah (sepertinya) perhatian Budi. Menyadari ini saya merasa berdebar-debar kembali, dan tubuh saya terasa seperti dialiri perasaan hangat.<br />
Anak saya Sandy masih tertidur nyenyak dengan damainya. Tanpa sengaja saya melihat cermin lemari pakaian dan menyaksikan penampilan saya di kaca yang membuat saya terkesiap. Ternyata pakaian yang saya kenakan tidak dapat menyembunyikan pola pakaian dalam (bra dan celana dalam) yang saya kenakan. Celana dalam yang saya pakai terbuat dari bahan (agak tipis) berwarna putih sedangkan kutangnya berwarna hitam. Karena pakaian yang saya kenakan berwarna putih dan terbuat dari bahan yang agak halus maka celana dalam dan bh tadi tampak terbayang dari luar. Ya ampun ., saya tidak menyadari, dan tentunya Budi dapat melihat dengan leluasa. Saya menjadi merasa agak jengah. Tetapi entah mengapa ada perasaan lain yang muncul, saya merasa sexy dan ada perasaan puas bahwa Budi memperhatikan penampilan saya yang sudah cukup umur ini. Tubuh saya tampak masih ramping dengan kulit yang putih. Kecuali bagian perut saya tampak ada sedikit berlemak. Budi yang saya anggap sopan dan ramah itu ternyata memperhatikan tubuh dan penampilan saya yang sebetulnya sudah tidak muda lagi. Saya merasa nakal dan tiba-tiba perasaan birahi itu muncul sedikit demi sedikit. Bayang-bayang persetubuhan dan sex di internet melingkupi saya. Oh., bagaimana ini.. Aduh ., birahi ini, apa yang harus dilakukan.<br />
Saya jadi tidak bisa berpikir lurus. Saya berusaha menenangkan diri tetapi tidak berhasil. Akhirnya saya putuskan, saya akan melakukan sedikit permainan, dan kita lihat saja apa nanti yang akan terjadi. Saya merasa jatuh ke dalam takdir. Dengan dada berdebar, perasaan malu, perasaan nakal, dan tangan agak gemetar, saya membuka kancing baju saya yang paling bawah. Bagian bawah dari baju saya sekarang tersibak hingga 15 cm di atas lutut. Mungkin bukan seberapa, tetapi bagi saya sudah lebih dari cukup untuk merasakan kenakalan birahi. Satu lagi kancing baju yang paling atas saya buka sehingga bagian atas yang mulai menggunduk dari susu saya mulai terlihat. Payudara saya tidak besar, berukuran sedang-sedang saja. Sambil berdebar-debar saya keluar kamar menuju dapur.<br />
“Wah maaf ya Bud, agak lama, sekarang saya buat dulu kopinya.” kata saya. Saya dapat merasakan Budi memandang saya dengan perhatian yang lebih walaupun tetap sangat sopan. Ia tersenyum, tetapi lagi-lagi pandangannya menyambar bagian bawah tubuh saya. Saya tahu bahwa untuk setiap langkah saya, pakaian bawah saya tersibak, sehingga ia dapat melihat bagian paha saya yang mulai sangat memutih, kira-kira 20 cm di atas lutut. Saya merasa sangat sexy dan nakal, dibarengi dengan birahi. Saat itu saya tidak ingat lagi akan suami dan anak. Pikiran saya sudah mulai diselimuti oleh nafsu berahi.<br />
Saya berpikir untuk menggoda Budi. Saya membuka lemari dapur dan membungkuk untuk mengambil tempat kopi dan gula. Saya sengaja membungkukkan pinggang ke depan dengan menjaga kaki tetap lurus. Baju saya bagian belakang tertarik ke atas sekitar 20 cm di atas lipatan lutut dan celana dalam tercetak pada baju karena ketatnya. Saya dapat merasakan Budi memandangi tubuh saya terutama pantat dan paha saya. Kepuasan melanda saya yang dapat menarik perhatian Budi. Saya merasa Budi selalu melirik-lirik saya ke dapur selama saya menyiapkan kopi.<br />
Secangkir kopi yang masih panas saya bawa ke ruang tamu. Tepat di depan sofa ada meja pendek untuk meletakkan penganan kecil atau pun minuman. Saya berjongkok persis di seberang Budi untuk meletakkan kopi. Saya berjongkok dengan satu lutut di lantai sehingga posisi kaki agak terbuka. Samar-samar saya mendengar Budi mendesis. Sambil meletakkan kopi saya lirik dia, dan ternyata ia mencuri pandang ke arah paha-paha saya. Saya yakin ia dapat melihat nyaris ke pangkal paha saya yang tertutup celana dalam putih. Sambil berjongkok seperti itu saya ajak dia ngobrol.<br />
“Ayo di minum kopinya Bud, nanti keburu dingin”, kata saya.<br />
“Oh, ya, ya, terima kasih”, kata Budi sambil mengambil kopi yang memang masih panas, sambil kembali pandangannya menyambar ke arah bagian dalam paha saya.<br />
“Apa tidak berbahaya terlalu banyak minum kopi, nanti ginjalnya kena”, tanya saya untuk mengisi pembicaraan.<br />
“Memang sih, tetapi saya sudah kebiasaan”, kata Budi. Sekitar tiga menitan saya ngobrol dengan Budi membicarakan masalah kopi, sambil tetap menjaga posisi saya. Saya lihat Budi mulai gelisah dan mukanya agak pucat. Apakah ia terangsang, tanya saya dalam hati.<br />
Saya kemudian bangkit dan duduk di sofa di tempat semula saya duduk. Saya duduk dengan menyilangkan kaki dan menumpangkan paha yang satu ke atas paha yang lain. Saya melihat lagi Budi sekilas melirik ke bagian tubuh saya .<br />
“Hemmhhh ..”, saya mendengar Budi menghela napas. Bagian bawah baju saya tertarik jauh ke atas hingga setengah paha, dan saya yakin Budi dapat melihat paha saya yang terangkat (di atas paha yang lain) hingga dekat ke pantat saya.<br />
Kami terdiam beberapa saat. Secara perlahan saya merasakan mem*k saya mulai berdenyut. Suasana ini membuat saya mulai terangsang. Pandangan saya tanpa terasa menyaksikan sesuatu yang mengguncang dada. Saya melihat mulai ada tonjolan di celana Budi di bagian dekat pangkal paha. Dada saya berdebar-debar dan darah terasa mendesir. Saya tidak sanggup mengalihkan pandangan saya dari paha Budi. Astaga, tonjolan itu semakin nyata dan membesar hingga tercetaklah bentuk seperti batang pipa. Oh., ukuran tonjolan itu membuat saya mengejang. Saya merasa malu tetapi juga dicengkeram perasaan birahi. Muka saya terasa memerah. Saya yakin Budi pasti menyaksikan saya memandangi tonjolan kont*lnya.<br />
Untuk memecahkan suasana diam saya berusaha mencari omongan. Sebelumnya saya agak menyandar pada sofa dan menurunkan kaki saya dari kaki yang lain. Sekarang saya duduk biasa dengan paha sejajar agak terbuka. Bagian bawah baju saya tertarik ke atas.<br />
“Ehhheeehh”, terdengar desah Budi. Kini ia dapat melirik dan menyaksikan dengan leluasa kedua belah paha saya hingga bagian atas. Sebagai seorang ibu yang sudah beranak, paha saya cukup berisi dengan sedikit lemak dan berwarna putih. Budi seolah tidak dapat mengalihkan pandangannya dari paha saya. Ohhhh .., saya lihat tonjolan di celananya tampak berdenyut. Saya merasakan nafsu yang menggejolak dan pumya keinginan untuk meremas tonjolan itu.<br />
“Eh .. Bud, kenapa kamu? Kamu kok kayaknya pucat lho”, astaga suara saya terdengar gemetar.<br />
“Ah.., kak Win .., enggak … apa-apa kok”, suara Budi terputus-putus, wajahnya agak tersipu, merah dan tampak pucat.<br />
“Itu kok ada tonjolan, memangnya kamu kenapa?”, kata saya sambil menggangukkan kepala ke tonjolan di celananya. Ahh, saya malu sekali waktu mengucapkan itu, tapi nafsu saya mengalahkan semua pikiran normal.<br />
“Ehh.., euuuh., oh yahh ., ini lho, penampilan kak WIN beda sekali dengan biasanya” kata Budi jujur sambil terbata-bata. Saya paksakan diri untuk mengatakan.<br />
“Apa Budi tertarik . terangsang .. melihat kak Win?”.<br />
“Ahh, saya nggak bisa bohong, penampilan kak Win .. eh . tidak biasanya. Kak Win mesti sudah bisa lihat kalau saya terangsang. Kita kan sudah bukan anak kecil lagi” kata Budi.<br />
Tiba-tiba saja Budi berdiri dan duduk di sebelah saya.<br />
“Kak Win, . eh saya mohon mohon maaf, tapi saya tidak sanggup menahan perasaan. Kak Win jangan marah … ” begitu saja meluncur kata-kata itu dari Budi. Ia mengucapkan dengan sangat perasaan dan sopan. Saya terlongong-longong saja mendengar kata &#8211; katanya..<br />
“Ahh .. Bud .”, hanya itu kata yang terucap dari mulut saya. Dengan beraninya Budi mulai memegang tangan kanan saya dan mengusap-usapnya dengan lembut. Diangkatnya tangan saya dan diciumi dengan lembut. Dan yang menggairahkan saya, jari-jari tangan saya dijilat dan dihisapnya. Saya terbuai dan terangsang oleh perbuatannya. Tiba-tiba saja diletakkannya tangan saya tepat di atas kont*lnya yang menonjol. Tangan saya terasa mengejang menyentuh benda yang keras dan liat tersebut. Terasa kont*l Budi bergerak-gerak menggeliat akibat sentuhan dan remasan tangan saya.<br />
“Eehhmm.” Budi mendesah. Tanpa terasa saya mulai meremas-remas tonjolan itu, dan kont*l batang Budi terasa semakin bergerak-gerak.<br />
“Oooh kak Win, eeehhhmmm … ohhgg, nikmaat sekali .”, Budi mengerang.<br />
“Eeehhh . jangan terlalu keras kak meremasnya, ahh .. diusap-usap saja, saya takut tidak kuat nahannya”, bisik Budi dengan suara gemetar.<br />
Budi mulai membelai kepala saya dengan kedua tangannya. “Kak Win lehernya putih sekali”, katanya lagi. Saya merasa senang mendengar ucapannya. Dibelainya rambut saya dengan lembut sambil menatap muka saya. Saya bergetar memandang tatapannya dan tidak mampu melawan pandangannya. Budi mulai menciumi pipi saya. Dikecupnya kedua mata saya mesra. Digesek-gesekkannya hidungnya ke hidung saya ke bibir saya berlama-lama bergantian. Saat itu tidak hanya birahi yang melanda saya .. tetapi juga perasaan sayang yang muncul.</p>
<p style="text-align:justify;">Ditempelkannya bibirnya ke bibir saya dan digesek-gesekkan. Rasa geli dan panas terasa menjalar merambat dari bibir saya ke seluruh tubuh dan bermuara ke daerah selangkangan. Saya benar-benar terbuai. Saya tidak lagi mengusap-usap kont*lnya dari balik celana, tetapi kedua lengan saya sudah melingkari lehernya tanpa sadar. Mata saya terpejam erat-erat menikmati cumbuannya. Tiba-tiba terasa lidahnya menerobos masuk mulut saya dan dijulurkannya menyentuh ujung lidah saya. Dijilatinya lidah saya dengan lidahnya. “Eenggghh ..” Tanpa sadar saya menjulurkan lidah saya juga. Kini kami saling menjilat dan napas saya tersengal-sengal menikmati kelezatan rangsangan pada mulut saya. Air ludah saya yang mengalir dijilati oleh Budi. Seperti orang kehausan, ia menjilati lidah dan daerah bibir saya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aaauungghh .. ooohhhh…”, saya mulai mengerang-erang. Napas Budi juga terdengar memburu, “Heeeghh… hhnghh”, ia mulai mendesah-desah. Muka kami sekarang berlepotan ludah, bau ludah tercium tetapi sangat saya nikmati. Dikenyot-kenyotnya lidah saya kini sambil menjelajahkan lidahnya di rongga mulut saya. Saya membuka mulut saya selebar-lebarnya untuk memudahkan Budi. Sekali-kali ia menghirup cairan ludah saya. Saya tidak menyangka, laki-laki yang sehari-hari tampak sopan ini sangat menggila di dalam sex. Dijilat-jilatnya juga leher saya. Sekali-kali leher saya digigit-gigit. Ohhh .., alangkah nikmatnya, saya sangat menikmati yang ia lakukan pada saya.<br />
Tiba-tiba Budi menghentikan aktivitasnya, “Kak Win, pakaiannya saya buka yaahh”. Tanpa menunggu jawaban saya, ia mulai membuka kancing-kancing baju dari atas hingga ke bawah. Dilepaskannya baju saya. Sekarang saya tergolek bersandar di sofa hanya dengan BH dan celana dalam saja beralaskan baju yang sudah terlepas.<br />
“Indah sekali badan kak Win. Putih sekali”, katanya. Diusap-usapnya perut saya.<br />
“Ahh, kak Win sudah tua dan tidak langsing lagi kok Bud”, kata saya agak sedikit malu, karena perut saya sudah agak gemuk dan mulai membusung dengan adanya lemak-lemak. Tetapi Budi tampak tidak perduli. Diciumnya lembut perut saya dan dijilatnya sedikit pusar saya. Rasa geli dan nikmat menjalar dari pusar dan kembali bermuara di daerah kemaluan saya.<br />
Budi mengalihkan perhatiannya ke susu saya. Diusap-usapnya susu saya dari balik BH. Perasaan geli tetapi nyaman terasa pada susu saya. Tanpa diminta saya buka BH saya. Kini kedua susu saya terpampang tanpa penutup. Bayu memandangi kedua gundukan di dada saya dengan muka serius. Susu saya tidaklah besar dan kini sudah agak menggantung dengan pentil berwarna coklat muda. Kemudian ia mulai membelai-belai kedua susu saya. Merinding nikmat terasa susu saya. Semakin lama belaiannya berubah menjadi pijitan-pijitan penuh nafsu. Kenikmatan terasa menerjang kedua susu saya. Saya mengerang-erang menahan rasa nikmat ini. Kini dijilatinya pentil susu yang sebelah kanan. Tidak puas dengan itu dikenyotnya pentil tadi dalam-dalam sambil meremas-remas susu. Saya tidak dapat menahan nikmat dan tanpa terasa tubuh saya menggeliat-geliat liar. Cairan terasa merembes keluar mem*k saya dan membasahi celana dalam yang saya kenakan. Kini Budi berpindah ke susu dan pentil saya yang sebelah kiri dan melakukan hal yang sama. Dikenyutnya pentil saya sambil digigit-gigit, dan diremas-remasnya pula kedua susu saya. Perasaan nikmat membakar susu saya dan semakin lama rasa nikmat itu menjalar ke lubang mem*k saya. mem*k saya terasa basah kuyup oleh cairan yang keluar. Saya mengerang-erang dan mengaduh-aduh menahan nikmat, “Oooohh Buuuud..”.<br />
Tangan Budi sekarang menjalar ke bagian celana dalam saya. “Ahhh, kak Win celananya sudah basah sekali”, kata Budi. “Enghh, iya Buud.., kak Win sudah sangat terangsang, ooohhh, nikmat sekali”, kata saya. Tepat di bagian depan mem*k saya, jari-jarinya membelai-belai bibir mem*k melalui celana dalam. Rasa geli bercampur nimat yang luar biasa menerjang mem*k saya. Saya tidak dapat menahan rasa nikmat ini, dan mengerang -erang.<br />
Kemudian Budi menarik dan melepas celana saya. Kini saya tergeletak menyandar di sofa tanpa busana sama sekali.<br />
“Ohh, indah sekali”, kata Budi. Diusap-usapnya rambut jembut saya yang hitam lebat.<br />
“Lebat sekali kak, sangat merangsang”, kata Budi. Dibukanya kedua belah paha saya, dan didorong hingga lutut saya menempel di perut dan dada. Bibir-bibir mem*k saya kini terbuka lebar dan dapat saya rasakan lubang mem*k saya terbuka. Saya merasa ada cairan merembes keluar dari dalam lubang mem*k. Saya sudah sangat terangsang. Tiba-tiba saja Budi berlutut di lantai dan ohhhhh, diciumnya mem*k saya.<br />
“Ahh, jangan Bud, malu…, di situ kan bau”, kata saya kagok.<br />
“Bau nikmat kak”, kata Budi tidak perduli. Dijilatinya mem*k saya. Perasaan nikmat menyerbu daerah selangkangan saya. Saya tidak dapat berkata apa-apa lagi dan hanya menikmati yang dia lakukan. Dijilatinya kelentit saya, dan sekali-sekali dijulurkannya lidahnya masuk ke lubang mem*k yang sudah sangat basah itu. Ujung lidah Budi keluar masuk lubang kenikmatan saya, kemudian berpindah ke kelentit, terus berganti-ganti. Tangan Budi meremas-remas susu saya dengan bernafsu. Slerp, slerp .., bunyi lidah dan mulutnya di mem*k saya. Kenikmatan semakin memuncak di mem*k saya, dan terasa menembus masuk hingga ke perut dan otak saya. Saya tidak mampu lagi menahannya. Kedua kaki saya mengejang-ngejang, saya menjepit kepala Budi dengan tangan dan saya tarik sekuat-kuatnya ke mem*k saya. Saya gosok-gosokkan mukanya ke mem*k saya. “Oooh, Buuud, kak Win keluar, ooooohhh …, nikmat sekali, oohhhh” saya menjerit dan mengerang tanpa saya tahan lagi.<br />
Rasa nikmat yang tajam seolah menusuk-nusuk mem*k dan menjalar ke seluruh tubuh. Terpaan nikmat itu melanda, dan tubuh saya terasa mengejang beberapa saat. Sesudah kenikmatan itu lewat, tubuh saya terasa lemah tetapi lega dan ringan. Kaki saya terjuntai lemah. Budi sudah berdiri. Ia kini melepas seluruh bajunya. Celana panjang dipelorotkannya ke bawah dan dilepas bersama dengan celana dalamnya.<br />
Oohhhhh, tampak pemandangan yang luar biasa. Budi ternyata memiliki kont*l yang besar, tidak sesuai dengan badannya yang sedang-sedang ukurannya. kont*l itu berwarna coklat kemerahan. Suami saya bertubuh lebih besar dari Budi, tetapi kont*l Budi ternyata luar biasa. Astaga, ia mengocok-kocok kont*l itu yang berdiri kaku dan terlihat mengkedut &#8211; kedut. Kepala kont*lnya tampak basah karena cairan dari lubang kencingnya. Tanpa saya sadari, tangan saya menjulur maju dan membelai kont*l itu. Ogghhh besarnya, dan alangkah kerasnya. Saya remas kepalanya, oohhhh .. Keras sekali, saya peras-peras kepalanya. Budi mengejang-ngejang dan keluar cairan bening menetes-netes dari lubang di kepala kont*lnya.<br />
“Ahhhhh, jangan kak Win, saya nggak tahan, nanti saya muncrat keluar”, bisiknya sambil mengerang.<br />
“Saya mau keluarkan di dalam mem*k kak Win saja, boleh yahhh Kak ?”, kata Budi lagi.<br />
“Ahh, iya, Buud .., cepetan masukin ke mem*k kak Win, ayoohh”, kata saya. kont*l yang keras itu saya tarik dan tempelkan persis di depan lubang mem*k saya yang basah kuyup oleh cairan mem*k dan ludah Budi. Tidak sabar saya rangkul pantat Budi, saya jepit pula dengan kedua kaki saya, dan saya paksa tekan pinggulnya. Ahhhhh, lubang mem*k saya terasa terdesak oleh benda yang sangat besar, ohhhh dinding-dinding mem*k saya terasa meregang. Kenikmatan mendera mem*k saya kembali. kont*l itu terus masuk menembus sedalam-dalamnya. Dasar lubang mem*k saya sudah tercapai, tetapi kont*l itu masih lebih panjang lagi. Belum pernah saya merasakan sensasi kenikmatan seperti ini. Saya hanya tergolek menikmati kebesaran kont*l itu. Budi mulai meremas-remas susu saya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba kont*l itu mengenjot mem*k saya keluar masuk dengan cepatnya. Saya tidak mampu menahannya lagi, orgasme kembali melanda, sementara kont*l itu tetap keluar masuk dipompa dengan cepat dan bertenaga oleh Budi.<br />
“Aduuuhh, Buud, nikmat sekali.., aku nggak kuat lagi ..”. Saya merengek-rengek karena nikmatnya.<br />
“Hheehhhheh, sebentar lagi saya keluaaaar kaak ..”, kata Budi. Kocokannya semakin menjadi-jadi. Tiba-tiba terasa tubuhnya menegang. “Ahhhuuuggh, saya keluar kaaaak .”, erang Budi tertahan-tahan. kont*l Budi terbernam sedalam-dalamnya. Crut .. cruutt . crutt, saya merasakan ada cairan hangat menyemprot jauh di dalam mem*k saya seolah tanpa henti. Budi memeluk saya erat-erat sambil menyemprotkan cairan maninya didalam mem*kku. Mukanya tampak menegang menahan kenikmatan. Ada sekitar satu menit ia meregang nikmat sambil memeluk saya.<br />
Sesudah itu Budi menghela napas panjang. “Saya tidak tahu apakah saya menyesal atau tidak, … tapi yang tadi sangat nikmat. Terima kasih kak Win”. Diciuminya muka saya. Saya tidak dapat berkata apa-apa. Air mata saya menetes keluar. Saya sangat menyesali yang telah terjadi, tetapi saya juga menikmatinya sangat mendalam. Saat itu saya juga merasakan penyesalan Budi. Saya tahu ia sangat menyayangi Dian istrinya. Tetapi nasi sudah menjadi bubur.<br />
Sejak kejadian itu, kami hanya pernah mengulangi berzina satu kali. Itu kami lakukan kira-kira di minggu ketiga bulan puasa, pada malam hari. Yang kedua itu kami melakukannya juga dengan menggebu-gebu. Sejak itu kami tidak pernah melakukannya lagi hingga kini. Kami masih sering bertemu, dan berpandangan penuh arti. Tetapi kami tidak pernah sungguh-sungguh untuk mencari kesempatan melakukannya. Budi sangat sibuk dan saya harus mengurusi Ilham yang masih kecil.<br />
Saya masih terus didera nafsu sex setiap hari. Saya masih terus bermain dengan internet dan menjelajahi dunia sex internet. Saya terus berusaha menekan birahi, tetapi saya merasa tidak mampu. Mungkin suatu saat saya nanti saya akan melakukannya lagi dengan Budi, dengan segala dosa yang menyertai. pwpwpw at hotmail dot com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=7&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/dosa-seorang-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senja di kampung halamanku</title>
		<link>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/senja-di-kampung-halamanku/</link>
		<comments>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/senja-di-kampung-halamanku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 07:22:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lilotakun</dc:creator>
				<category><![CDATA[sedarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritaseru17.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Aku Linda, mahasiswi hukum Universitas Pajajaran. Semenjak dua tahun yang lalu, saat diterima kuliah di Universitas Pajajaran, aku tinggal di Bandung. Aku berasal dari Sukabumi, ayahku berasal dari Bandung, sedangkan ibuku asli Sukabumi. Mereka tinggal di Sukabumi. Cerita ini menceritakan kisahku yang terjadi saat aku kelas 1 SMA di Sukabumi yang terus berlanjut sampai aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=3&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Aku Linda, mahasiswi hukum Universitas Pajajaran. Semenjak dua tahun yang lalu, saat diterima kuliah di Universitas Pajajaran, aku tinggal di Bandung. Aku berasal dari Sukabumi, ayahku berasal dari Bandung, sedangkan ibuku asli Sukabumi. Mereka tinggal di Sukabumi. Cerita ini menceritakan kisahku yang terjadi saat aku kelas 1 SMA di Sukabumi yang terus berlanjut sampai aku kuliah sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku anak yang paling tua dari dua bersaudara. Aku mempunyai satu adik laki-laki. Umurku berbeda 2 tahun dengan adik. Kami sangat dimanja oleh orang tua kami, sehingga tingkahku yang tomboy dan suka maksa pun tidak dilarang oleh mereka. Begitupun dengan adikku yang tidak mau disunat walaupun dia sudah kelas 2 SMP.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-3"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu kecil, aku sering mandi bersama bersama adikku, tetapi sejak dia masuk SD, kami tidak pernah mandi bersama lagi. Walaupun begitu, aku masih ingat betapa kecil dan keriputnya penis seorang cowok. Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat lagi penis cowok. Sampai suatu ketika, pada hari senin sore, aku sedang asyik telpon dengan teman cewekku. Aku telpon berjam-jam, kadang tawa keluar dari mulutku, kadang kami serius bicara tentang sesuatu, sampai akhirnya aku rasakan kandung kemihku penuh sekali. Aku kebelet pipis. Benar-benar kebelet pipis, sudah di ujung lah. Cepat-cepat kuletakkan gagang telpon tanpa permisi dulu sama temanku. Aku berlari menuju ke kamar mandi terdekat. Ketika kudorong ternyata sedang dikunci.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hey..! Siapa di dalam..? Buka dong..! Udah nggak tahan..!” aku berteriak sambil menggedor-gedor pintu.<br />
“Akuu..! Tunggu sebentar..!” ternyata adikku yang di dalam. Terdengar suaranya dari dalam.<br />
“Nggak bisa nunggu..! Cepetan..!” kataku memaksa.<br />
Gila, aku benar-benar sudah tidak kuat menahan ingin pipis.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kreekk..!” terbuka sedikit pintu kamar mandi, kepala adikku muncul dari celahnya.<br />
“Ada apa sih..?” katanya.<br />
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung nyerobot ke dalam karena sudah tidak tahan. Langsung aku jongkok, menaikkan rokku dan membuka celana dalamku.<br />
“Serrrr…” keluar air seni dari vaginaku.<br />
Kulihat adikku yang berdiri di depanku, badannya masih telanjang bulat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wooiiyyy..! Sopan dikit napa..?” teriaknya sambil melotot tetap berdiri di depanku.<br />
“Sebentarrr..! Udah nggak kuat nih,” kataku.<br />
Sebenarnya aku tidak mau menurunkan pandangan mataku ke bawah. Tetapi sialnya, turun juga. Kelihatan deh burungnya.<br />
“Hihihihi..! Masih keriput kayak dulu, cuma sekarang agak gede dikitlah…” gumanku dalam hati.<br />
Aku takut tertangkap basah melihat penisnya, cepat-cepat kunaikkan lagi mataku melihat ke matanya. Eh, ternyata dia sudah tidak melihat ke mataku lagi. Sialan..! Dia lihat vaginaku yang lagi mekar sedang pipis. Cepat-cepat kutekan sekuat tenaga otot di vaginaku biar cepat selesai pipisnya. Tidak sengaja, kelihatan lagi burungnya yang masih belum disunat itu. Sekarang penisnya kok pelan-pelan semakin gemuk. Makin naik sedikit demi sedikit, tapi masih kelihatan lemas dengan kulupnya masih menutupi helm penisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sialan nih adikku. Malah ngeliatin lagi, mana belum habis nih air kencing..!” aku bersungut dalam hati.<br />
“Oooo..! Kayak gitu ya Teh..?” katanya sambil tetap melihat ke vaginaku.<br />
“Eh kurang ajar Lu ya..!” langsung saja aku berdiri mengambil gayung dan kulemparkan ke kepalanya.<br />
“Bletak..!” kepala adikku memang kena pukul, tetapi hasilnya air kencingku kemana-mana, mengenai rok dan celana dalamku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya… basah deh rok Teteh…” kataku melihat ke rok dan celana dalamku.<br />
“Syukurin..! Makanya jangan masuk seenaknya..!” katanya sambil mengambil gayung dari tanganku.<br />
“Mandi lagi ahh..!” lanjutnya sambil menyiduk air dan menyiram badannya.<br />
Terus dia mengambil sabun dan mengusap sabun itu ke badannya.<br />
“Waduh.., sialan nih adik..!” sungutku dalam hati.<br />
Waktu itu aku bingung mau gimana nih. Mau keluar, tapi aku jijik pake rok dan celana dalam yang basah itu. Akhirnya kuputuskan untuk buka celana dalam dan rokku, lalu pinjam handuk adikku dulu. Setelah salin, baru kukembalikan handuknya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Udah.., pake aja handuk Aku..!” kata adikku.<br />
Sepertinya dia mengetahui kebingunganku. Kelihatan penisnya mengkerut lagi.<br />
“Jadi lucu lagi gitu..! Hihihi..!” batinku.<br />
Aku lalu membuka celana dalamku yang warnanya merah muda, lalu rokku. Kelihatan lagi deh vaginaku. Aku takut adikku melihatku dalam keadan seperti itu. Jadi kulihat adikku. Eh sialan, dia memang memperhatikan aku yang tanpa celana.</p>
<p style="text-align:justify;">“Teh..! Memek tu emang gemuk kayak gitu ya..? Hehehe..!” katanya sambil nyengir.<br />
Sialan, dia menghina vaginaku, “Iya..!” kataku sewot. “Daripada culun kayak punya Kamu..!” kataku sambil memukul bahu adikku.<br />
Eh tiba-tiba dia berkelit, “Eitt..!” katanya.<br />
Karena aku memukul dengan sekuat tenaga, akhirnya aku terpeleset. Punggungku jatuh ke tubuhnya. Kena deh pantatku ke penisnya.<br />
“Iiihhh.., rasanya geli banget..!” cepat-cepat kutarik tubuhku sambil bersungut, “Huh..! Elo sih..!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Teh.. kata Teteh tadi culun, kalau kayak gini culun nggak..?” katanya mengacuhkan omonganku sambil menunjuk ke penisnya.<br />
Kulihat penisnya mulai lagi seperti tadi, pelan-pelan semakin gemuk, makin tegak ke arah depan.<br />
“Ya.. gitu doang..! Masih kayak anak SD ya..?” kataku mengejek dia.<br />
Padahal aku kaget juga, ukurannya bisa bertambah begitu jauh. Ingin juga sih tahu sampai dimana bertambahnya. Iseng aku tanya, “Gedein lagi bisa nggak..?” kataku sambil mencibir.<br />
“Bisa..! Tapi Teteh harus bantu dikit dong..!” katanya lagi.<br />
“Megangin ya..? Wekss.., ya nggak mau lah..!” cibirku.<br />
“Bukan..! Teteh taruh ludah aja di atas tititku..!” jawabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena penasaran ingin melihat penis cowok kalau lagi penuh, kucoba ikuti perkataan dia.<br />
“Gitu doang kan..? Mau Teteh ngeludahin Kamu mah. Dari dulu Teteh pengen ngeludahin Kamu”&#8221;Asyiiikkk..!” katanya.<br />
Sialan nih adikku, aku dikerjain. Kudekatkan kepalaku ke arah penisnya, lalu aku mengumpulkan air ludahku. Tapi belum juga aku membuang ludahku, kulihat penisnya sudah bergerak, kelihatan penisnya naik sedikit demi sedikit. Diameternya makin lama semakin besar, jadi kelihatan semakin gemuk. Dan panjangnya juga bertambah. Asyiik banget melihatnya. Geli di sekujur tubuh melihat itu semua. Tidak lama kepala penisnya mulai kelihatan di antara kulupnya. Perlahan-lahan mendesak ingin keluar. Wahh..! Bukan main perasaan senangku waktu itu. Aku benar-benar asyik melihat helm itu perlahan muncul. Seperti penyanyi utama yang baru muncul di atas panggung setelah ditunggu oleh fans-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya bebas juga kepala penis itu dari halangan kulupnya. Penis adikku sudah tegang sekali. Menunjuk ke arahku. Warnanya kini lebih merah. Aku jadi terangsang melihatnya. Kualihkan pandangan ke adikku.<br />
“Hehe…” dia ke arahku. “Masih culun nggak..?” katanya lagi. “Hehe..! Macho kan..!” katanya tetap tersenyum.<br />
Tangannya tiba-tiba turun menuju ke selangkanganku. Walaupun aku terangsang, tentu saja aku tepis tangan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apaan sih Elo..!” kubuang tangannya ke kanan.<br />
“Teh..! Please Tehhh.. Pegang aja Teh… Nggak akan diapa-apain… Aku pengen tahu rasanya megang itu-nya cewek. Cuma itu aja Teh..” kata adikku, kembali tangannya mendekati selangkanganku.<br />
Waduuhh.. sebenarnya aku mau jaga image, masa mau sih sama adik sendiri, tapi aku juga ingin tahu bagaimana rasanya dipegang oleh cowok di vagina.<br />
“Inget..! Jangan digesek-gesekin, taruh aja tanganmu di situ..!” akhirnya aku mengiyakan. Deg-degan juga hati ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tangan adikku lalu mendekat, bulu kemaluanku sudah tersentuh oleh tangannya. Ihh geli sekali… Aku lihat penisnya sudah keras sekali, kini warnanya lebih kehitaman dibanding dengan sebelumnya. Uuppss… Hangatnya tangan sudah terasa melingkupi vaginaku. Geli sekali rasanya saat bibir vaginaku tersentuh telapak tangannya. Geli-geli nikmat di syaraf vaginaku. Aku jadi semakin terangsang sehingga tanpa dapat ditahan, vaginaku mengeluarkan cairan.<br />
“Hihihi.. Teteh terangsang ya..?”<br />
“Enak aja… sama Kamu mah mana bisa terangsang..!” jawabku sambil merapatkan selangkanganku agar cairannya tidak semakin keluar.<br />
“Ini basah banget apaan Teh..?”<br />
“Itu sisa air kencing Teteh tahuuu..!” kataku berbohong padanya.<br />
“Teh… memek tu anget, empuk dan basah ya..?”<br />
“Tau ah… Udah belum..?” aku berlagak sepertinya aku menginginkan situasi itu berhenti, padahal sebenarnya aku ingin tangan itu tetap berada di situ, bahkan kalau bisa mulai bergerak menggesek bibir vaginaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Teh… gesek-gesek dikit ya..?” pintanya.<br />
“Tuh kan..? Katanya cuma pegang aja..!” aku pura-pura tidak mau.<br />
“Dikit aja Teh… Please..!”<br />
“Terserah Kamu aja deh..!” aku mengiyakan dengan nada malas-malasan, padahal mau banget tuh. Hihihi.. Habis enak sih…<br />
Tangan adikku lalu makin masuk ke dalam, terasa bibir vaginaku terbawa juga ke dalam.<br />
Ouughh..! Hampir saja kata-kata itu keluar dari bibirku. Rasanya nikmat sekali. Otot di dalam vaginaku mulai terasa berdenyut. Lalu tangannya ditarik lagi, bibir vaginaku ikut tertarik lagi.<br />
“Ouughh..!” akhirnya keluar juga desahan nafasku menahan rasa nikmat di vaginaku.<br />
Badanku terasa limbung, bahuku condong ke depan. Karena takut jatuh, aku bertumpu pada bahu adikku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Enak ya Tehh..?”<br />
“Heeh..,” jawabku sambil memejamkan mata.<br />
Tangan adikku lalu mulai maju dan mundur, kadang klitorisku tersentuh oleh telapak tangannya. Tiap tersentuh rasanya nikmat luar biasa, badan ini akan tersentak ke depan.<br />
“Tehh..! Adek juga pengen ngerasaain enaknya dong..!”<br />
“Kamu mau diapain..?” jawabku lalu membuka mata dan melihat ke arahnya.<br />
“Ya pegang-pegangin juga..!” katanya sambil tangan satunya lalu menuntun tanganku ke arah penisnya.<br />
Kupikir egois juga jika aku tidak mengikuti keinginannya. Kubiarkan tangannya menuntun tanganku. Terasa hangat penisnya di genggaman tangan ini. Kadang terasa kedutan di dalamnya. Karena masih ada sabun di penisnya, dengan mudah aku bisa memaju-mundurkan tanganku mengocok penisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kulihat tubuh adikku kadang-kadang tersentak ke depan saat tanganku sampai ke pangkal penisnya. Kami berhadapan dengan satu tangan saling memegang kemaluan dan tangan satunya memegang bahu.<br />
Tiba-tiba dia berkata, “Teh..! Titit Adek sama memek Teteh digesekin aja yah..!”<br />
“Heeh” aku langsung mengiyakan karena aku sudah tidak tahan menahan rangsangan di dalam tubuh.<br />
Lalu dia melepas tangannya dari vaginaku, memajukan badannya dan memasukkan penisnya di antara selangkanganku. Terasa hangatnya batang penisnya di bibir vaginaku. Lalu dia memaju-mundurkan pinggulnya untuk menggesekkan penisnya dengan vaginaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ouughhh..!” aku kini tidak malu-malu lagi mengeluarkan erangan.<br />
“Dek… masukin aja..! Teteh udah nggak tahan..!” aku benar-benar sudah tidak tahan, setelah sekian lama menerima rangsangan. Aku akhirnya menghendaki sebuah penis masuk ke dalam vaginaku.<br />
“Iya Teh..!”<br />
Lalu dia menaikkan satu pahaku, dilingkarkan ke pinggangnya, dan tangan satunya mengarahkan penisnya agar tepat masuk ke vaginaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku terlonjak ketika sebuah benda hangat masuk ke dalam kemaluanku. Rasanya ingin berteriak sekuatnya untuk melampiaskan nikmat yang kurasa. Akhirnya aku hanya bisa menggigit bibirku untuk menahan rasa nikmat itu. Karena sudah dari tadi dirangsang, tidak lama kemudian aku mengalami orgasme. Vaginaku rasanya seperti tersedot-sedot dan seluruh syaraf di dalam tubuh berkontraksi.<br />
“Ouuggggkkk..!” aku tidak kuat untuk tidak berteriak.<br />
Kulihat adikku masih terus memaju-mundurkan pinggulnya dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba dia mendorong sekuat tenaga hingga badanku terdorong sampai ke tembok.<br />
“Ouughhh..!” katanya.<br />
Pantatnya ditekannya lama sekali ke arah vaginaku. Lalu badannya tersentak-sentak melengkung ke depan. Kurasakan cairan hangat di dalam vaginaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lama kami terdiam dalam posisi itu, kurasa penisnya masih penuh mengisi vaginaku. Lalu dia mencium bibirku dan melumatnya. Kami berpagutan lama sekali, basah keringat menyiram tubuh ini. Kami saling melumat bibir lama sekali. Tangannya lalu meremas susuku dan memilin putingnya.<br />
“Teh..! Teteh nungging, terus pegang bibir bathtub itu..!” tiba-tiba dia berkata.<br />
“Wahh..! Gila Lu ya..!”<br />
“Udah.., ikutin aja..!” katanya lagi.<br />
Aku pun mengikuti petunjuknya. Aku berpegangan pada bathtub dan menurunkan tubuh bagian atasku, sehingga batang kemaluannya sejajar dengan pantatku. Aku tahu adikku bisa melihat dengan jelas vaginaku dari belakang. Lalu dia mendekatiku dan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku dari belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Akkkhh..! Gila..!” aku menjerit saat penis itu masuk ke dalam rongga vaginaku.<br />
Rasanya lebih nikmat dibanding sebelumnya. Rasa nikmat itu lebih kurasakan karena tangan adikku yang bebas kini meremas-remas payudaraku. Adikku terus memaju-mundurkan pantatnya sampai sekitar 10 menit ketika kami hampir bersamaan mencapai orgasme. Aku rasakan lagi tembakan sperma hangat membasahi rongga vaginaku. Kami lalu berciuman lagi untuk waktu yang cukup lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kejadian itu, kami jadi sering melakukannya, terutama di kamarku ketika malam hari saat orang tua sudah pergi tidur. Minggu-minggu awal, kami melakukannya bagaikan pengantin baru, hampir tiap malam kami bersetubuh. Bahkan dalam semalam, kami bisa melakukan sampai 4 kali. Biasanya aku membiarkan pintu kamarku tidak terkunci, lalu sekitar jam 2 malam, adikku akan datang dan menguncinya. Lalu kami bersetubuh sampai kelelahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini setelah aku di Bandung, kami masih selalu melakukannya jika ada kesempatan. Kalau bukan aku yang ke Sukabumi, maka dia yang akan datang ke Bandung untuk menyetor spermanya ke vaginaku. Saat ini aku mulai berani menghisap sperma yang dikeluarkan oleh adikku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritaseru17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritaseru17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritaseru17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritaseru17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritaseru17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritaseru17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritaseru17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritaseru17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritaseru17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritaseru17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritaseru17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritaseru17.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritaseru17.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritaseru17.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritaseru17.wordpress.com&amp;blog=5535389&amp;post=3&amp;subd=ceritaseru17&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritaseru17.wordpress.com/2008/11/16/senja-di-kampung-halamanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3cb574045304be7b1a478d70f3d4ec0?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lolita</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
